
Hari itu mereka bertiga. Rendi, Reo dan Bisma. Tampak tengah berkutat membahas desain logo mereka. Tapi dari dua jam mereka di ruangan itu tidak satu pun desain yang berhasil mereka buat puas. Qian yang selesai memberikan Rumi Asi yang memang sengaja dia simpan di tempat penyimpanan. Karena untuk menghemat pengeluaran, Qian dan Vero sepakat memberikan anaknya ASI eksklusif dari Vero yang vero pompa sebelum mereka berangkat kerja ke tempat masing-masing.
"Mana Adira?" sapa Bisma yang Melihat Qian baru datang.
"Sejak kapan nama anak gue di ganti?" tanya Qian datar seraya duduk di depan meja kerjanya.
"Adira, anak di luar rencana, kan," seloroh Bisma dengan tawa kerasnya.
"Sialan," umpat Qian.
"Lo dari mana tadi?" tanya Qian mulai curiga, tiba-tiba Reo yang baru datang langsung memberi kode kepada Qian dengan menunjukkan ke bawah. Bisma langsung mendelikkan matanya tanda peringatan.
"Ooo ... Pacaran lagi ya si lo, bangsat," ucap Qian yang paham dengan kode Reo dan sontak membuatnya bangkit dari posisi duduknya mengejar Bisma yang malah kabur. Sedangkan Reo hanya menjadi penonton adegan dramatis tersebut dengan tawa keras yang menggema di ruangan tersebut.
"Perlu di asemin nih mulut si bangsat satu, ya. Udah di ingetin jangan kesana lagi di jam kerja malah makin parah," ucap Qian yang langsung mengambil jeruk nipis dan membelahnya. Bisma yang tau bahaya tengah mengintainya terus meminta ampun.
__ADS_1
"Ampun Qian. Bentaran doank, kok. Tadi ada hal penting beneran. Kerjaan gue juga bentar lagi beres itu," ungkap Bisma yang sudah barang pasti itu percuma dan sangat terlambat.
Qian memberi kode kepada Reo dan Reo pun segera paham. Dia pun ikut membantu rencana Qian. Dia mengejar Bisma dan menahannya. Sedangkan Qian bersiap dengan jeruk nipisnya.
Bisma terus meminta ampun.
"Ampun, bray. Nggak lagi, plis ....," mohon Bisma lagi yang sudah seperti tahanan perang.
Dia terikat di sebuah kursi. Sedangkan Reo dan Qian menahannya.
"AAAA..." Pekikan Bisma pecah di ruangan tersebut. Untung Rumi sudah Qian tidurkan di kamar yang cukup jauh dari ruang kerja mereka, sehingga bayi 7 bulan itu tidak terganggu dengan ulah mereka di kantor.
Satu tarikan berhasil membuat Bisma terpekik keras dan membuatnya membuka mulut, Qian pun sudah siap dengan tetesan jeruk nipis ke mulut Bisma langsung. Bisma langsung meronta-ronta karena merasakan asam yang luar biasa.
Mereka berdua pun tertawa melihat Bima yang meraung-raung keasaman.
__ADS_1
"Udah berapa kali gue ingetin lo. Masih juga kesana. Kalo kerjaan beres nggak masalah, ini semua kerjaan lo telantarin gitu aja. Malah ngatain anak gue lagi," tukas Qian dengan senyuman puasnya.
"Ampun. Nggak lagi," mohon Bisma lagi.
"Udah lepasin dia. Kasian dia. Di rumah di jadiin baby sitter sama kakaknya tanpa gaji. Di jadiin sandaran orang tua di masa tuanya. masak nyampe sini kita bully lagi dia. Kena mental anak orang ntar," ucap Rendi yang baru datang.
Ia pun melepaskan ikatan pada Bisma yang di sambut Bisma dengan senyuman seperti anak kucing. Mata berkaca-kaca bak menghiba dan penuh permohonan kasih sayang.
"Idup gue itu miris sedari kecil. Bawak mak bapak ke acara sekolah malah di bilang bawak nenek kakek. Gue malah di kira anak yatim-piatu. Bawak keponakan jalan-jalan malah di kira gonta-ganti pacar, mana kayak seangkatan sama gue lagi, cewek pula kebanyakan. Auto Gue dapat label playboy dengan status jomblo, njir," ungkap Bisma yang sontak mengundang tawa mereka lagi.
"Hahaha... Makanya jangan lahir waktu orang tua udah tua. Ini akibatnya, di buat dari bahan udah kadaluarsa," ledek Reo.
"Makanya kerja yang bener. Bokap lo itu udah nggak kuat biaya-in lo," nasehat Rendi yang merupakan satu-satunya yang memiliki pemikiran normal diantara mereka berempat. Karena Rendi merupakan anak dosen universitas besar, sedangkan ibunya adalah PNS guru agama di sebuah sekolah negeri. Karena itu didikan moralnya bisa di bilang paling bagus dan kuat diantara mereka semua. Walau yang lain juga dididik dengan baik, tapi hanya Rendi lah yang didikan agamanya paling bagus diantara mereka berempat.
Sedangkan Bisma lahir saat ayahnya menginjak usia 60 dan ibunya 50 tahunan. Itu yang sering membuat mereka meledek Bisma anak kadalurasa. Mereka sebenarnya punya ledekan masing-masing untuk semua teman-teman mereka.
__ADS_1