Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kiriman Paket


__ADS_3

Saat sedang asyik bercanda mereka tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan kurir pengantar paket. Reo datang menemuinya dan ternyata paket yang berukuran cukup besar itu di tujukan kepada Qian sebagai penerimanya.


"Buat lo Qian," seru Reo yang menerima paket. Qian pun mendekat dan tampak bingung karena dia tidak merasa pernah memesan apapun.


"Gue nggak pernah pesan apa-apa," lirih Qian heran.


"Punya bini lo kali," ucap Bisma. Qian pun datang mendekati Reo dan si pengantar paket.


"Paket apaan!" gumam Qian mencoba melihat alamat pengirim, tertulis nama pengirim atas nama 'Alzam Alatas Mahendra'. Qian pun jadi semakin penasaran dengan isinya.


Dia dengan tidak sabar membuka paket tersebut. Yang lain ikut penasaran dan membantu Qian membuka paket tersebut.


Ternyata sebuah stroller bayi. Tampaknya bukan barang murah.


"Ngapain dia kirim ginian?!" lirih Qian dingin seraya sedikit membanting stroller tersebut. Reo dapat melihat tatapan tidak suka dari Qian.


"Dia ngasih buat anak lo. Terima aja lah. Itu tandanya dia peduli," timpal Rendi.


"Ogah. Tarok aja di sudut." Qian langsung kembali ke meja kerjanya. Suasana yang semula ceria berubah menjadi suram.


Qian langsung menelpon Alzam.

__ADS_1


"Nggak usah kirim apapun. Gue nggak butuh dikasihani!" ucap Qian melalui sambungan telepon lalu mematikannya begitu saja tanpa sempat Alzam menjawabnya lagi.


"Qian. Itu kan kakak lo. Masak kayak gitu sih," timpal Yasmin yang sedari tadi diam. Qian diam tak menanggapi tanpa sepatah katapun.


Kiriman Alzam mampu merusak mood Qian seketika. Sedangkan Reo dan Bisma malah sibuk mencari jumlah harga stroller bayi tersebut.


"Wuidih... 37 jeti, coy," seru Bisma seraya berdecak kagum bersama Reo.


Qian yang mendengar hal tersebut pun bangkit kembali dari posisinya. Dia segera mengemas stroller tersebut masuk kedalam box nya kembali.


"Eh, goblok mau lu apain?" seru Bisma.


"Ini buat Rumi bukan buat lo, BEGO'," tukas Reo berusaha menghalangi niatan Qian.


"Awas nggak. Gue hajar lo ntar," ancam Qian membuat Reo mengangkat tangannya. Dia tau Qian sekarang benar-benar tengah marah, itu terlihat dari tatapan matanya yang tajam dan nyalang.


Mereka pun hanya bisa menatap kepergian Qian.


"Qian susah banget di bilangin," ucap Reo masih menatap kepergian Qian tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


"Udahlah, kayak nggak tau Qian aja," ucap Bisma menepuk bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


***


Sebelum pergi Qian mengabari Vero, karena dia meninggalkan Rumi di kantor hanya bersama teman kantornya saja.


***


Tidak butuh waktu yang lama Qian sudah sampai di rumah sakit tempat Alzam bekerja. Alatas Medical Center. Salah satu rumah sakit terbaik di kota tersebut.


Qian segera menuju ruangan Alzam dan masuk begitu saja, kebetulan di sana tidak ada Alzam. Qian pun meletakkan stroller mahal itu begitu saja di ruangan tersebut.


Saat Qian keluar, Qian berpapasan dengan Alzam. Qian pun menghampirinya dengan langkah cepat dan tatapan tajam. Kebetulan saat itu Alzam tengah bersama Jesika dan ibunya Maya.


"Nggak usah sok perhatian kalo lo masih ada niatan buat liat gue mati konyol. Ambil balik barang mahal lo ini, BANGSAT!" umpat Qian.


Setelah itu Qian pun berlalu dari sana tanpa memperdulikan Jesika dan Maya ibunya. Maya menatap tubuh jenjang putranya itu, masih terlihat sangat tampan meskipun itu dari belakang. Maya menghela nafasnya dalam. Dia balik menatap Alzam yang masih menatap Qian dengan tatapan geram.


"Jangan mintak aku peduli-in dia lagi, Mah," lirih Alzam dan berlalu dari sana.


Maya dan Jesika pun hanya bisa saling tatap melihat pertengkaran kakak beradik itu.


Alzam tau itu pasti perbuatan ibunya untuk membuat dia dan Qian berbaikan.

__ADS_1


__ADS_2