Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Milik Siapa?


__ADS_3

Sesampai rumah Vero di buat kagum. Sungguh Qian sudah sangat baik hari ini. Rumah masih terlihat rapih dan bersih. Ini sungguh di luar ekspektasi Vero yang sudah menduga rumah akan sangat berantakan dan kacau.


Vero tersenyum puas menghirup bau segar dari rumahnya yang bersih dan wangi. Ia menatap Qian dan memeluk lengan suaminya masuk ke kamar mereka. Sedang Reo dan Bisma sibuk mengeluarkan barang bawaan Vero dari bagasi mobil.


"Sialan. Pagi-pagi dia mintak pembantu rumah gue buat bersih-bersih. Sekarang bilang makasih aja nggak tuh si kampret atu," rutuk Reo yang sedikit kesal melihat Qian yang sedari tadi sibuk bermesraan bersama istrinya.


"Udah. Jangan banyak itung-itungan sama temen. Kalo nggak ada dia juga lo udah babak belur mulu di sekolah," tukas Bisma seraya membawa masuk barang-barang dari bagasi. Sedangkan Reo masih saja bersungut kesal dan mengumpat.


Setelah selesai. Vero keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.


"Makasih, ya. Kalian sudah bantuin kita dari kemarin. Kalian baik banget sama kita," ungkap Vero tulus. Reo dan Bisma hanya mengangguk seraya tersenyum kaku.

__ADS_1


"Nggak usah makasih sama mereka. Nanti lihat saja siapa yang bakalan lebih repot," tukas Qian seraya menyerahkan segelas susu hangat kepada Vero dan di terima Vero dengan senyuman hangat.


Reo dan Bisma langsung membelalakkan matanya tak terima dan di tatap datar oleh Qian dengan bersidekap dada seolah menantang keduanya yang membuat nyali mereka kembali ciut.


"Kalian kok bisa ya. Tetanggaan, sekelas pulak. Dan bareng terus sampe kuliah pun bareng," ungkap Vero heran.


"Kita itu sebenarnya nggak bareng. Cuman aku sama Bisma aja yang seangkatan. Kalo Reo aslinya lebih tua setahun. Dan ada lagi teman kita Una. Dia itu lebih muda setahun, tapi tetap saja mau sekelas sama aku, bisma ini juga ikut-ikutan mau sekelas mulu. Jadi sejak kecil aku udah jadi tukang asuh mereka bertiga. Kalo ada yang ganggu, ngadunya ke aku. Ada tugas maunya satu kelompok. Terus aja sampe sekarang. Juga ngintilin aku buat bikin desain bareng. Dasar beban!" ungkap Qian yang membuat keduanya tersenyum nyengir seraya garuk-garuk kepala.


***


Saat Reo dan Bisma sudah pulang. Qian mulai membongkar tas bawaan Vero dari rumah sakit tadi.

__ADS_1


Dia mulai mengeluarkannya satu persatu dari sana dan menyusunnya. Sedangkan Vero masih terdengar tengah muntah-muntah di kamar mandi.


Sesaat kegiatan Qian terhenti saat ia melihat sesuatu yang cukup menarik perhatiannya. Qian pun mulai membukanya lagi. Ternyata benar. Itu adalah setumpuk uang dan sekotak perhiasan.


Apa ibu Vero datang kerumah sakit dan mengembalikan semua uang mereka? Tapi kapan? Bukan kah Qian selalu di rumah sakit? Kapan ibu Vero datang? Kenapa Vero tidak menceritakannya?


Tidak lama terdengar pintu kamar terbuka. Vero baru kembali dari kamar mandi tadi. Qian menatap Vero dengan tatapan aneh dan Vero pun mulai merasa bergidik saat di tatap dengan tatapan aneh seperti itu.


"Kamu ... kenapa?" tanya Vero perlahan seraya mengambil handuk untuk mengelap wajahnya yang basah. Qian pun membuka tasnya. Sesaat Vero pun ikut terkejut melihat isi tas tersebut.


Sejak kapan ada uang dari dalam tasnya? Apalagi sebanyak itu. Kenapa dia tidak tahu apa-apa? Apa ada orang yang salah masukkan uang nya kedalam tas Vero? Tapi itu tidak mungkin.

__ADS_1


Vero pun jadi ikutan bingung.


__ADS_2