Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Mulai Berulah Lagi


__ADS_3

Di kediaman Vero. Vero masih terus mual-mual. Sudah beberapa kali dia keluar masuk kamar mandi. Bahkan dia sampai merasa lelah dan lemas tidak sanggup lagi kekamar mandi.


Nenek hanya diam memperhatikan seraya mempersiapkan sesuatu untuk mengurangi mualnya Vero di dapur yang kebetulan berdekatan dengan kamar mandi langsung.


Saat Vero keluar dari kamar mandi Nenek langsung memanggilnya. Vero pun duduk di hadapan neneknya di kursi meja makan sederhana mereka.


"Tadi dia kesini. Dia nungguin aku pulang di depan rumah. Tapi ... Rasanya aku masih kesal banget sama dia, Nek," tutur Vero membuka pembicaraan dengan wajah basah dan tampak sangat pucat.


"Temui dia. Dengarkan dia, dan cepat putuskan pernikahan kalian sebelum perut kamu semakin membesar dan membuat tetangga heboh nanti, kamu bisa-bisa jadi omongan satu kampung," ujar Nenek tenang seraya menyentuh punggung tangan Vero.


Vero menatap nenek dalam. beliau tampak sangat tenang tanpa guratan emosi di wajahnya saat ini. Nenek memang selalu tenang. Sulit untuk menebak isi pikiran beliau secara tepat. Baik marah atau pun senang beliau selalu terlihat tenang.


"Alzam undang aku ke rumahnya hari ini," ungkap Vero ragu.


"Jangan hubungi dia lagi. Cepat putuskan hubungan kamu sama dia, Vero. Jangan buat masalah baru," nasehat Nenek seraya menuangkan minuman jahe hangat yang baru matang untuk Vero.


"Nanti setelah ini aku akan putuskan dia, Nek. Nggak enak sama mamanya. Sekalian mau ngomong sama mamanya Alzam. Sebab dia lamar aku di depan mamanya langsung. Nggak enak kalo langsung menghilang gitu aja."

__ADS_1


***


Di rumah mereka masih di sibukkan oleh kelakuan Qian yang tidak mau keluar kamar dan tidur seharian di kamar.


Alzam yang malam ini akan mengundang kekasihnya ke rumah merasa terganggu dengan tingkah adiknya ini. Dia pun akhirnya turun sendiri untuk mengatasi sang adik yang sangat manja saat di rumah ini.


Seperti itulah Qian. Sangat garang seperti singa saat di luar, tapi akan berubah menjadi anggora saat di rumahnya sendiri.


Alzam mulai mengetuk pintu kamar adiknya itu full dengan suara musik metal yang menggema sedari dia pulang tadi hingga malam hampir menjelang.


"Qian! Jangan berisik. Matiin musik nya Qian. Qian! Tetangga pada keganggu itu. Qian! Kamu denger nggak, sih?"


Puas mengetuk tetap tidak ada jawaban. Alzam memutuskan untuk membukanya dengan kunci cadangan yang ia sembunyikan.


"Nggak akan berhasil dia kalo cuman di teriakin," lirih Alzam mulai tidak sabar lagi menghadapi ulah adiknya ini.


Kunci tersebut memang sengaja ia sembunyikan dari Qian maupun ibunya untuk sesuatu yang darurat seperti saat ini atau untuk mengawasi adiknya tanpa sepengetahuan ibu dan adiknya sendiri.

__ADS_1


Dia sering masuk kamar Qian tanpa sepengetahuan Qian, ia takut adiknya ini terlibat kenakalan remaja, karena itu dia sering mengawasi Qian secara diam-diam. Membuka barang-barang Qian tanpa sepengetahuannya untuk mencari tau sesuatu yang mungkin Qian sembunyikan darinya. Dan selama ini adiknya ini tidak pernah menunjukkan kenakalan yang serius. Tidak ada obat-obatan terlarang, atau benda mencurigakan lainnya yang ia sembunyikan selama ini.


Saat dia membuka pintu kamar itu dia mendapati Qian tengah tertidur telungkup di ranjangnya tanpa terganggu sedikitpun dengan suara musik yang keras. Bahkan ia masih mengenakan sepatu dan jaketnya saat tidur.


Alzam segera mematikan musiknya dan itu tidak membangunkan Qian. Alzam menghampiri Qian dan mengguncang tubuh adiknya pelan. Perlahan Qian mulai membuka matanya.


"Hmmm...," desah Qian yang baru membuka mata.


"Malam ini ada tamu penting datang. Kamu siap-siap. Mas mohon hari ini aja kamu jangan ribut sama Mama. Atau buat keributan lainnya," mohon Alzam penuh harap dengan tingkah adiknya.


Qian tidak menjawab, dia menatap Alzam dengan tatapan datar. Antara malas menanggapi atau memang belum begitu sadar dari tidurnya. Alzam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya lalu meninggalkan adiknya dengan wajah kusutnya.


Saat keluar betapa kagetnya Alzam karena ternyata ibunya sudah berdiri di depan pintu kamar Qian seraya bersidekap dada.


"Dari mana kamu dapat kunci duplikatnya?" tanya Maya heran.


"Udah, nggak penting, Mah. Lebih baik kita keluar, kayaknya dia lagi nggak mau di ganggu. Paling dia habis ribut sama pacarnya lagi," tebak Alzam seraya menutup pintu kamar Qian kembali.

__ADS_1


Alzam mengajak ibunya untuk pergi dari sana dengan sedikit memaksa dan mengunci kamar itu kembali.


__ADS_2