Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Sulit Di Nasehati


__ADS_3

Di sisi lain Qian tampak tengah membereskan sebuah kamar. Dia sengaja membersihkan ruangan tesebut untuk menempatkan Rumi di sana nantinya saat Rumi di titipkan padanya.


"Lo yakin bisa handle semua dalam satu waktu?" tanya Reo ragu. "Ya, gue ngerti dan nggak keberatan Rumi di titipin di sini. Tapi kan kita kadang juga nggak di sini terus kan. Ada waktunya kita kerja di luar buat ketemu klien dan ngomongin revisi kerjaan kadang juga kita di luar sama klien. Kadang juga bisa seharian kita keluar. Terus Rumi gimana?" ucap Reo.


"Itu urusan gue nantinya. Kalo nggak penting banget lo sama Bisma aja yang meeting sama klien di luar. Gue di sini." Reo hanya bisa menarik nafas panjang melihat sikap keras kepala Qian. Dia tidak dapat berkata-kata lagi. Sepertinya Qian sudah sangat nekat.


"Dah lah. Yang penting gue udah ngingetin lo," ucap Reo sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Dia meninggalkan Qian beres-beres sendirian.


***

__ADS_1


Saat tengah bekerja Qian kembali dikagetkan oleh kedatangan Reo kembali.


"Qian! Mak lo di bawah mau ketemu. Di lobby," terang Reo. Qian mengernyitkan keningnya heran. Dia pun segera menghentikan pekerjaannya dan menuju lantai dasar, lobby perusahaan.


***


Saat sampai bawah benar saja. Sudah ada Maya di sana. Maya menunggu dengan anggun di bangku yang ada di sana. Dia bangkit saat melihat kedatangan Qian.


"Di sini aja. Nggak akan ada yang ganggu juga, kan. Aku lagi banyak kerjaan di atas, jadi nggak bisa pergi jauh," tolak Qian datar seolah tidak ingin terlalu terlibat dengan ibuknya lagi.


Maya menarik nafasnya dalam sebelum bicara. Dan dia menatap Qian dalam.

__ADS_1


"Kalau memang kalian mau bekerja. Tolong titipkan Rumi sama Mama saja. Jangan bawa dia ketempat kerja kamu. Vero sudah cerita soal ini. Dia itu belum 4 bulan Qian. Masih rewel dan nggak akan mudah menangani bayi umur segitu. Dia masih lemah dan rentan. Nanti bisa-bisa kerja kamu yang lain keteteran gara-gara urus Rumi," bujuk Maya lembut.


"Kan udah aku bilang. Nggak usah ikut campur, Mah. Itu urusan aku sama Vero. Biar kami yang urus anak kami. Akan kami urus dengan cara kami. Mama nggak usah khawatir. Itu bukan urusan Mama lagi," ucap Qian yang langsung bangkit dari posisinya dan bersiap meninggalkan Maya di bangkunya. Tapi sebelum pergi Qian kembali berbalik.


"Oh, ya. Satu lagi. Jangan datang ke rumah lagi. Dia atau aku, nggak ada hubungannya sama Mama. Urus saja anak tunggal Mama itu," ucap Qian dan berlalu dari sana. Maya mengepalkan tangannya tidak tahan. Dia pun segera mengejar Qian. Dan menyeret tangan Qian ke tempat sepi.


"Dengar baik-baik Qian. Bayi itu bukan boneka. Tubuhnya masih lemah dan rapuh. Mau kamu serahin ke siapapun yang di kantor kamu buat asuh dia? Kalo terjadi sesuatu sama anak kamu, kamu akan menyesal seumur hidup. Kamu pikir semua orang bisa urus bayi? Nggak. Kalo kamu mau arogan setidaknya jangan sampai mencelakai anak kamu sendiri," hardik Maya geram dengan tingkah Qian.


"Mau aku apain anakku, itu urusan aku. Kenapa baru sekarang peduli? Kemana aja kemaren-kemaren? Waktu tau mas Alzam punya masalah kesuburan, baru datang ke aku dan ngakuin anak aku. Dulu bukannya kalian kompak mau lihat aku hancur?" tukas Qian. "Aku berjuang sendirian selama ini. Dengan kalian yang bahkan ikut-ikutan memperumit keadaan aku yang sudah rumit. Lalu sekarang datang ke aku lagi tanpa penyesalan dan seolah mau jadi orang yang paling peduli. TELAT!"


Maya menelan salivanya pahit mendengar pernyataan keras Qian.

__ADS_1


"Permisi, aku sibuk. Aku harus kerja buat hidup," ucap Qian tajam dan segera melangkah cepat meninggalkan Maya yang masih terpaku di posisinya. Maya bersandar di dinding seraya menenteng tasnya dengan kedua tangannya lalu perlahan dia terduduk bersandar dengan tatapan kosongnya.


__ADS_2