
Vero masih terjaga sambil menonton televisi. Sesekali ia mendongak keluar jendela untuk memastikan apakah suaminya sudah pulang. Waktu terus berjalan tapi sosok Qian masih tak terlihat tanda-tanda kepulangannya.
Setelah sekian lama tiba-tiba terdengar mobil masuk pekarangan rumah. Vero yang tau betul jika yang datang adalah Qian suaminya pun segera keluar menyambut kedatangannya dengan seulas senyum bahagia. Akhirnya yang ia tunggu datang juga.
"Masih belum tidur, Kak?" tanya Qian seraya keluar dari mobil dan menguncinya berjalan ke arah Vero yang menyambutnya bahagia.
"Belum," jawab Vero dengan seulas senyuman hangatnya. Dia langsung memeluk tubuh Qian dengan erat sangking kangennya dia dengan terhadap pria muda ini.
"Kangennya. Nggak ketemu kamu seharian bikin kangen banget," bisik Vero manja. Qian tersenyum dan mengelus kepala istrinya sambil berjalan masuk kekediaman mereka.
__ADS_1
Qian pun mulai bercerita tentang pekerjaannya dan banyak hal seraya terus berjalan masuk rumah bersama Vero. Hingga mereka sampai di kamar. Dan Qian mulai menaruh semua barang bawaannya ketempat biasa.
"Besok aku mulai kerja ya. Mbok Yum sudah aku tanyain. Katanya dia mau kerja di tempat kamu isi posisi OG kan juga masih kosong. Nanti kita kasih gaji lebih aja buat sekalian jagain Rumi di tempat kamu, kalo kamu lagi kerja di luar meeting sama klien. Dia setuju katanya tadi," terang Vero yang terus bercerita dengan Qian yang juga terus melakukan kegiatan.
"Itu nggak ngerepotin, ya?" ucap Qian sedikit tidak enak dengan tetangga mereka itu jika seandainya dia di minta kerja doble.
"Nggak. Kita malah bantu dia. Dia itu janda. Butuh kerjaan. Dan kita minta tolongnya kan nggak terus, cuman kalo kamu lagi di luar saja. Kalo aku luang juga aku yang pegang Rumi, kan. Jadi itu cuman kerjaan sampingan dia aja. Kasih lebihnya nggak bilang uang jagain Rumi. Bilang aja kita ngasih buat tambahan anak nya sekolah, udah gitu kan bisa," terang Vero. Qian mengangguk paham.
Dia duduk di samping Vero menatap mata indah itu dalam.
__ADS_1
"Sebenarnya kakak nggak perlu sampe ikut kerja juga. Toh kebutuhan kita kan nggak ada yang mendesak. Kita masih bisa berhemat dengan apa yang ada," ungkap Qian lirih masih merasa keberatan dengan keputusan Vero untuk bekerja. Jauh di dalam hati dia keberatan jika Vero juga ikut bekerja. Selain karena alasan anak juga karena dia merasa seolah dia gagal memenuhi kebutuhan anak dan istrinya ini. Hingga membuat Vero harus bekerja.
Vero menatap mata Qian dalam dengan seulas senyuman hangat. Dia perlahan menggenggam tangan Qian, yang di balas dengan tatapan yang dalam pula oleh Qian.
"Ini mau aku, Ok," jawab Vero yakin. "Aku tau kamu sudah lakukan yang terbaik buat kita. Jadi, biarkan aku lakukan sesuatu juga buat kamu. Nanti setelah mobilnya kebeli lagi, aku akan berhenti kerja. Aku nggak mau kamu kelihatan kalah dari karyawan kamu. Bukan masalah ego, tapi ini masalah kredibilitas kerja kamu di depan klien kamu nantinya," jawab Vero. Qian mengangguk paham. Tak ada yang memikirkan dia sedalam itu sebelumnya, ini membuat Qian merasa sangat di cintai. Qian segera membawa Vero ke dalam pelukannya.
"Oh, ya. Mama Maya juga bilang, Rumi bisa kita titipkan sama dia kalo kamu mau. Aku rasa itu juga bisa jadi salah satu solusinya kan kalo mbok Yum lagi nggak bisa, kita bisa ...," tambah Vero yang bahkan belum selesai bicara sudah di potong oleh Qian dengan cepat.
"Nggak usah. Buat apa?" jawab Qian kurang suka. "Dah, Kak. Ini sudah malam. Ayo kita tidur," ucap Qian yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi.
__ADS_1
Qian langsung berbaring dan di sambut Vero yang langsung menyusup masuk kedalam pelukannya yang lagi kumat manjanya ingin tidur dipelukkan sang suami. Qian dengan hangat mempererat pelukannya seraya tersenyum.a