Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Memberi Kesempatan Kedua, Mungkinkah?


__ADS_3

"Kamu jual berapa?" tanya Vero.


"675 juta. 600 aku pakek buat modal perusahaan baru kita. Sebab aku nggak enak, cuman aku yg nggak punya modal di sana. Rencananya yg 75 mau aku pakek buat simpanan. Sebab selama beberapa bulan ini kita pasti akan belum stabil penghasilannya. Tapi ... Malah kepakek buat biaya perawatan rumah sakit," ungkap Qian yang seketika membuat Vero terdiam.


"Bu-bukan gitu maksud aku, kak," sanggah Qian cepat saat melihat perubahan expresi Vero. "Bukan masalah uangnya habis buat apa. Tapi kayaknya, motor itu memang harus di jual, kan? Coba kalo nggak aku jual, pasti kita berhutang lagi, kan. Atau lebih parahnya, bisa-bisa kita nggak bawak anak kita pulang gara-gara pembayarannya belum lunas. Itu yang pihak rumah sakit bilang waktu itu," ungkap Qian coba meluruskan. Vero tersenyum kecut. Lagi-lagi uang jadi permasalahan mereka.


"Nanti. Kalo Rumi udah besar. Udah 2 atau 3 bulan. Aku kerja lagi, ya," izin Vero kepada Qian. "Kan aku di tawarin balik ke hotel lagi waktu itu. Seenggaknya sampe perekonomian kita stabil. Nanti kalo udah stabil, aku resign," ucap Vero lagi.


"Beneran, nih. Namanya Rumi? Itu aku panggil cuman gara-gara aku kesal sama kakak nggak mau ngomong sama aku aja loh," ucap Qian seraya tertawa, Vero hanya bisa geleng-geleng kepala. "Masak aku nggak di bolehin azanin anak aku sendiri. Di diemin lagi berhari-hari," kekeh Qian lagi membuat Vero mengernyitkan dahinya dengan tingkah laku suaminya ini.


"Aku nggak izinin itu gara-gara kamu jarang sholat. Ntar nggak hafal lagi," gerutu Vero dengan wajah galak. Qian hanya tertawa mendengar pernyataan Vero yang meragukan imannya kepada tuhan.


***


Di sisi lain, Arial baru saja sampai di bandara. Dia mulai merogoh sakunya mencari benda pipih tersebut. Dan ia mulai menyambungkan sambungan telfonnya dengan seseorang di sebrang sana.


"Kamu di mana? Aku sudah sampai. Aku susul kamu sekarang ke sana." Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Ia menghentikan sebuah taksi dan mulai melesat ke tempat tujuannya.


***


Maya melepaskan nafasnya panjang. Ia memejamkan matanya dan memijit pelipisnya, ia mulai merasa semua malah semakin rumit saja dan membuatnya seperti semakin terjebak kedalamnya. Dia tak tau apa yang harus ia katakan kepada Arial nanti.


Saat tengah larut dalam pikirannya sendiri tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya. Maya segera bangkit sandarannya dan seseorang itu pun masuk.

__ADS_1


"Mama kenapa? Kok kayak ada masalah gitu?" tanya Alzam yang baru masuk seraya menyerahkan map kuning kepada ibunya yang berisi berkas-berkas tersebut.


Maya membukanya sekilas, lalu kembali menutupnya. Dia menatap Alzam yang tampak masih menunggu jawaban ibunya itu.


"Papa kamu datang. Dia mau kesini. Kayaknya dia marah," ungkap Maya yang tampak tertekan. Alzam menahan nafasnya sesaat ketika mendengar ayahnya itu akan datang.


"Marah kenapa?" tanya Alzam penasaran.


"Karena Qian nikah nggak ngasih tau dia. Dan tante Merly ngadu ke dia kemaren. Entah apa yang di adukan tante kamu itu sama papa kamu kemaren."


Alzam diam tanpa suara sejenak dan melihat keadaan ibunya yang tampak kacau. Dia mulai berfikir dan duduk di hadapan ibunya.


"Biarkan saja papa datang, Mah. Ngomong apa adanya. Kenapa harus khawatir?" ucap Alzam datar. Maya mengangkat wajahnya menatap Alzam yang juga tengah menatapnya seolah mencari suatu makna dalam diri Maya ibunya.


***


Malam mulai menjelang. Qian melihat Vero tengah tertidur. Vero memang tidur lebih awal karena takut tidak kuat bergadang malam ini, mengingat ini pertama kalinya mereka membawa bayi mereka pulang. Pasti jam tidurnya masih belum menentu. Apalagi di rumah tidak seperti di rumah sakit yang mana mereka selalu di bantu oleh perawat yang bertugas. Di rumah mereka harus mendiri mengerjakan semua sendirian.


Setelah mengecup lembut kepala bayi merah itu dan membenahi selimut Vero, Qian pun keluar.


Dia melihat ibu mertuanya itu masih tengah sibuk dengan kado-kado pemberian kerabat dan teman-teman Qian dan Vero. Melihat itu, Qian tidak tinggal diam, dia pun ikut membantu membuka dan membereskannya setelah selesai.


Di tengah kegiatan mereka, mereka terlibat perbincangan.

__ADS_1


"Apa Vero sudah tidur?" tanya Mama Jill di tengah kesibukannya menyusun beberapa kado-kado itu.


"Sudah. Baby nya juga tidur. Paling tengah malam nanti dia bangun lagi. Dia malam sering bangun, pagi-pagi malah tidur," ungkap Qian.


"Bayi memang gitu," sahut Mama Jill dengan seulas senyuman.


"Om Ferdi kemana, Mah?" tanya Qian tentang keberadaan ayah sambung istrinya itu.


"Sudah pulang. Hmmmhhh... Kayaknya sekarang dia mulai berubah. Tadi, dia temenin Mama belanja banyak di supermarket. Beli sayur sama bulanan kita. Dia juga kasih ATM sama kartu kreditnya." Qian menatap ibu mertuanya itu. Ibu mertuanya ini sering kali curhat dengannya, tapi terkadang sangat tertutup terhadap Vero yang merupakan anak kandungnya sendiri.


"Kalo rasanya nyaman jalanin saja. Lagian kayaknya dia juga baik," jawab Qian sekenanya.


"Apa orang bisa berubah di kesempatan kedua mereka? Termasuk Mama juga, sih. Apa Mama benar-benar bisa menerima dia? Atau hanya sekedar simpatik dengan perubahannya saja," ungkap Mama Jill.


"Nggak semua hal harus kita ambil keputusannya segera, kan. Kasih waktu aja dulu buat diri Mama mikir dan lihat situasinya. Kalau memang Mama sudah yakin, ya ... Nggak ada salahnya Mama lanjutkan lagi dan kasih om Ferdi kesempatan kedua." saran Qian. Mama Jill tersenyum, seolah menyetujui pernyataan Qian barusan.


"Tuhan aja selalu kasih kesempatan kita buat berubah jadi lebih baik. Jadi, perubahan dari diri manusia itu sangat mungkin, kan. Tinggal pastiin aja, itu permanen atau sementara saja. Tapi, aku lihat, om Ferdi kayaknya beneran sayang sama Mama. Alex pasti senang kalau lihat orang tuanya akur lagi," tambah Qian.


Mama Jill menatap Qian. Anak ini sebenarnya cukup dewasa pola pikirnya, tapi kenapa bisa dia selalu bermasalah dengan ibunya dan lingkungan sekitarnya.


"Kamu jaga Vero, ya. Mungkin juga kita akan pindah. Ferdi kemungkinan besar akan pindah tugas keluar kota. Mama titip Vero sama Rumi sama kamu, ya," ungkap Mama Jill lagi. Qian tertawa mendengar Mama Jill menyebut nama anaknya.


"Kayaknya semua orang udah fix panggil dia 'Rumi'," tawa Qian Mama Jill pun ikut tertawa

__ADS_1


Setelah itu, mereka kembali terlibat canda tawa lagi dengan tawa khas Mama Jill yang renyah, sikapnya yang mudah bergaul membuat Qian tidak canggung lagi dengan ibu mertuanya ini.


__ADS_2