
Sesampainya di rumah Qian langsung membuatkan susu hangat untuk Vero yang tentu saja susu khusus untuk ibu hamil dan untuk dirinya sendiri susu coklat hangat yang seperti biasa sering ia konsumsi.
Setelah selesai Qian langsung ke dapur dan membereskan piring kotor. Walau tidak banyak karena hanya piring kotor sisa sore kemarin dan yang barusan mereka gunakan. Ia tetap membersihkannya. Dia dan Vero memang selalu bekerja sama dalam membersihkan rumah. Jika Vero masak, Qian yang akan membersihkan perabotan yang kotor. Qian yang mencuci pakaian kotor, Vero yang akan menjemurnya. Seperti itulah rumah tangga keduanya. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
Vero melangkah ke dapur, ia melihat Qian tengah meletakkan piring dan gelas yang baru selesai ia bersihkan. Mungkin jika bukan Qian suaminya dia tidak akan merasa senyaman ini saat ini. Walau Qian keras kepala tapi dia juga penuh kasih sayang. Dia mudah mengasihi asal jangan di tantang. Saat seseorang menantangnya saat itu lah mereka akan menghadapi jiwa pemberontak Qian.
"Qian!" lirih Vero seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Qian yang masih sibuk menata piring dan gelas.
"Hmmm..." gumam Qian tanpa terlalu peduli dengan sikap manja Vero saat ini karena dia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Nggak. Kangen aja," lirih Vero lagi. Qian menghentikan kegiatannya yang memang baru selesai. Ia membalikkan tubuhnya kearah Vero dan tersenyum seraya saling melingkarkan tangan masing-masing di pinggang satu sama lainnya.
"Kenapa?" tanya Qian menatap Vero. Vero tersenyum seraya menggeleng.
Sesaat mereka saling pandang dan tiba-tiba tawa mereka berdua kembali pecah. Sesederhana itu cara Vero meyakini hatinya bahwa dia adalah laki-laki yang baik untuknya. Dengan tatapan setulus itu kenapa dia masih bisa ragu.
Saat sedang asyik di dapur. Tiba-tiba terdengar pintu di ketuk oleh seseorang.
"Ada orang yang datang," gumam Vero. Ia pun segera melepaskan pelukannya terhadap Qian dan menuju keluar untuk melihat siapa gerangan tamu mereka.
Alangkah kagetnya Vero saat membuka pintu. Matanya berbinar bahagia melihat tamunya.
__ADS_1
"MIKA!" seru Vero tak percaya jika sahabat seprofesinya dulu datang mengunjunginya.
"Hai...!" seru Mika antusias.
"Kamu ih. Kangen tau'" lirih Vero lalu memeluk sahabat karibnya itu. Mika menyambut hangat pelukan Vero.
"Nggak di ajak masuk, nih," rajuknya lagi, karena sedari tadi mereka hanya berdiri di depan pintu tanpa masuk.
"Hmmm... Makin buncit juga. Di mana pelakunya?" ucap Mika usil seraya mengusap perut buncit Vero.
"Oh iya. Sampe lupa. Masuk. Qian lagi di dapur habis beres-beres," jawab Vero seraya mempersilahkan Mika duduk. Mika tampak celingak-celinguk melihat ke sekitar. Kelihatannya ada yang beda dari suasana rumah Vero saat ini.
"Kerjaan Qian. Tiap hari ada aja yang di ubahnya kalo lagi di rumah," ungkap Vero.
"Hmmm... Berguna juga dia. Kirain cuman bisa bikin kamu nangis doank," tutur Mika lagi yang berbarengan dengan kedatangan Qian.
"Halo Tante. Makin kompor aja kedengarannya," seru Qian yang langsung ambil posisi duduk di samping sang istri dan di sambut Vero dengan hangat.
"Kamu masih kecil udah nikah aja. Udah dapat surat izin belum," goda Mika balik.
"Belum. Makanya sekarang di usir dan tinggal di sini," jawab Qian datar dan jujur seraya menatap Vero yang melototinya.
__ADS_1
"Hah, serius?" seru Mika.
"Udah. Omongan Qian kamu dengerin. Mending cerita kita aja. Kenapa kamu jauh-jauh dateng ke sini? Tumben banget," tanya Vero penasaran dan menghindari topik pembicaraan tentang hubungan mereka. Qian yang menyadari itu langsung tertawa.
"Nggak. Aku kesini di suruh pak Hartono pemilik hotel kita. Dia minta kamu buat kerja di sana lagi kalo habis lahiran ini. Dia mau ngasih taunya nanti. cuman aku udah nggak sabar pengen kasih tau kamu langsung," terang Mika.
"Aku sih bisa. Cuman ya ... tergantung sama si bapak satu ini. Izinin nggak?" tanya Vero kepada Qian.
"Berapa gaji kalian sebulan di sana?" tanya Qian datar tapi sebenarnya sangat usil.
"5-6 jutaan, itu dua kali terima. Jadi bisa sekitar 10-12 jutaan. Belum lagi kalo ada tipsnya," terang Mika serius.
Vero yang tau jika pertanyaan Qian iseng, hanya geleng-geleng kepala melihat kearah Qian. Qian melirik Vero.
"Ok. Boleh," jawab Qian singkat.
"Dasar kamu. Matre juga, ya berondong satu ini," kekeh Mika.
"Ya ... Biasanya kan brondong numpang hidup sama tante-tante. Masak ini nggak," goda Qian iseng lagi. Vero langsung mengamit wajah Qian tapi Qian berhasil menghindar.
Mereka mengobrol dan bercanda cukup lama hingga akhirnya Mika pamit pulang.
__ADS_1