
Setelah pernikahan dadakan itu Nenek menangis haru. Ia memeluk Vero dan Qian dengan tubuh lemahnya. Ia meneteskan air mata harunya.
"Sekarang nenek bisa tenang. Vero sudah ada yang jagain," ujar Nenek. Vero menggenggam tangan neneknya sedangkan Qian hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Bersumpah lah Qian. Kamu tidak akan tinggalkan Vero. Apapun keadaannya. Jaga dia dengan baik," pinta nenek lagi.
Qian menggenggam tangan Nenek dengan seulas senyuman hangat.
"Aku akan jagain kak Vero. Nenek tenang saja. Jangan banyak pikiran," jawab Qian mantap.
Nenek tersenyum dengan air mata yang terus membanjiri wajah keriputnya. Dia sangat yakin, dia meninggalkan Vero pada tangan yang tepat.
Sedangkan Ibu Vero masih tampak tak terima dengan pernikahan ini. Dia masih mengharapkan Alzam lah yang menikahi putrinya. Dokter muda yang dalam proses pengambilan gelar dokter bedah, sekaligus seorang pemilik rumah sakit Alatas Medical center.
Bukannya Al-Qian yang hanya lelaki muda baru lulus kuliah tanpa masa depan pasti. Bahkan dari penampilannya yang sangat kentara dengan gambaran lelaki muda yang masih suka bermain. Dia sangat yakin Qian tak bisa di percaya dalam berumah tangga.
"Masih muda gini, bisa kasih makan dengan apa dia sama Vero? Batu?" bisik Mama Jill ibu Vero yang terdengar sangat sinis.
Kesal dengan keadaan ia pun segera menyeret suami dan anaknya Alex untuk pergi dari sana.
Tak ada yang menanggapi kepergian mereka.
***
__ADS_1
Keluar dari ruang perawatan nenek Vero. Qian menghela nafas dalam dan duduk di bangku panjang di luar.
Sesaat Vero pun keluar dari ruangan neneknya. Dia melihat Qian yang tengah diam termenung.
Vero pun melangkah mendekat, Qian tetap tak bergeming.
"Hari yang kacau!" lenguh Qian tanpa mengubah posisi duduknya.
Vero mengangguk.
"Tadi ... Kami ribut sama Alzam?" tanya Vero ragu.
"Iya" jawab Qian singkat seraya bersandar di sandaran bangkunya dengan kaki yang ia selonjorkan ke depan yang semakin memperlihatkan betapa jenjangnya tubuhnya.
Vero hanya diam mendengarkan.
"Aku kehilangan handphone aku. Aku berusaha buat hubungin kamu tapi aku nggak punya kontak kamu yang lain. Aku mau pulang saat itu, tapi akan susah buat aku balik lagi ke sana. Apalagi sebentar lagi visa kunjungan aku habis. Mama pasti nggak akan kasih aku uang lagi buat urus semua olang, paling ngomel dianya. Makanya aku bertahan di sana sampai semua selesai," terang Qian.
"Maaf soal nenek juga. Karena shock beliau sampai seperti ini," sesal Qian dengan wajah tertunduk.
"Nenek memang sering sakit-sakitan dari dulu. Karena itu aku selalu ngalah dan jaga-jaga supaya nggak ada keributan. Termasuk soal mama aku." Qian melihat tatapan Vero yang tertunduk saat membahas ibunya.
"Nenek satu-satunya orang yang menyayangi aku setulus hatinya. Yang berkorban banyak buat aku selama ini," ungkap Vero mulai tidak bisa menyembunyikan kegundahannya.
__ADS_1
"Jangan terlalu stress, kasian dia. Dia juga bisa rasakan emosi kakak," tutur Qian seraya menatap perut rata Vero. Vero kembali tersadar dan perlahan tangannya terangkat memegangi perutnya.
"Kita memang bodoh bisa-bisanya ngelakuin hal ini. Tapi, kita nggak boleh hukum dia karena kesalahan kita," ungkap Qian mulai terdengar tenang tidak seperti tadi.
Qian benar. Mereka yang bersalah, tapi kenapa orang lain yang kena imbasnya. Termasuk nenek dan calon anak mereka.
Karena sudah larut Qian pun pamit pergi.
"Aku mau pulang sebentar. Mumpung rumah lagi sepi."
"Mau ngapain? Nanti kamu ribut lagi sama Alzam."
"Mau ambil baju sama barang-barang yang lain. Dia nggak akan pulang malam ini."
Qian pun bangkit dan pergi meninggalkan Vero yang masih duduk terpaku di posisinya. Vero menatap Qian yang hilang di belokan. Ia menghela nafas panjang dan terlihat ada senyum di ujung bibirnya. Entah kenapa ada rasa bahagia saat dia meraba jari manisnya yang kini tersemat cincin pernikahannya dan Qian.
Saat asyik dengan lamunannya tiba-tiba Vero dikagetkan oleh seseorang.
"Ver. Nenek sesak lagi. Itu lagi di tangani dokter," seru bibik Vero istri paman Anwar.
Vero dengan cepat menuju ruang perawatan nenek. Tampak para perawat yang hilir mudik dengan beberapa orang dokter. Vero mulai merasa cemas lagi.
"Sudah. Kamu duduk saja. Biar kita yang urus," bujuk istri paman Anwar.
__ADS_1