
Qian masuk ke kediamannya tepat saat Vero membuka pintunya. Vero yang tengah mengenakan pakaian tidurnya dan lumayan seksi membuat Qian menatapnya dengan penuh gairah.
Ia segera memeluk Vero dan mencium leher Vero. Vero secara paksa mencoba melepaskan pelukan Qian tapi ia kalah kuat.
"Ih, apaan sih!" usir Vero dengan sedikit mendorong dan menghindar. Tapi bahkan Qian seolah sengaja menunjukkan sikap tak pedulinya atas penolakkan yang Vero tunjukkan.
Entah kenapa melihat bagaimana expresi Alzam yang masih penasaran dengan kehidupannya membuat dia kesal sekaligus membangkitkan gairah terhadap istrinya sendiri.
Ia segera membalikkan tubuh Vero menghadap kearahnya. Dan ia mulai melakukannya dengan lebih berani dan agak kasar. Ia terus mendorong Vero menuju sofa panjang yang tak jauh dari mereka tanpa melepaskan cumbuannya. Vero yang masih kesal berusaha menolak Qian lebih keras. Qian malah tak perduli dia terus memaksa Vero melayaninya malam ini seperti pria mabuk.
Dia bahkan mencumbu istrinya itu dengan agak kasar. Membuat Vero agak kesulitan menghindarinya.
"Qian kamu apa-apaan? Kamu mabuk, ya?" seru Vero tak suka di perlakukan kasar.
Qian malah menulikan telinganya acuh. Dia terus memaksa Vero melayaninya. Dengan agak kasar mulai mempreteli satu persatu kancing pakaian yang istrinya kenakan saat ini. Vero yang tak kuasa menolak hanya bisa menerimanya sekarang. Perlahan ia memejamkan matanya menerima cumbuan yang sebenarnya lumayan agresif dari Qian.
"Qian jangan disini," lirih Vero yang masih sadar dimana mereka saat ini. Qian tak peduli. Bahkan mereka hampir melepaskan pakaian mereka di ruang keluarga sekaligus ruang tamu kediaman mereka itu.
"Qian aku risih di sini. Plis jangan disini." Vero terus mencoba menolaknya tapi tetap tak di gubris oleh Qian.
Vero hanya bisa pasrah saat mereka benar-benar melakukannya di sofa panjang di ruangan tersebut. Qian seolah ingin memperlihatkan apa yang ingin kakaknya lihat tadi. Ada emosi yang lain yang ia rasakan saat melihat kakaknya yang seolah masih terus menyimpan perasaannya terhadap istrinya.
Ia lampiaskan semua perasaan kesalnya itu dengan mencumbu Vero di ruang tamu yang temaram. Vero, mantan kekasih sang kakak sekaligus istrinya saat ini.
Dengan pencahayaan yang samar temaram Vero dapat lihat bagaimana wajah tampan itu kini benar-benar tengah menggaulinya dan tampak buliran keringat mulai membasahi pelipis dan wajahnya dengan matanya yang terpejam seolah sangat menikmati atas apa yang ia lakukan bersama istrinya saat ini.
Vero yang tadinya terus mencoba menolak kini malah perlahan mulai ikut permainan. Ia ikut memejamkan matanya saat merasakan suatu gejolak dan dirinya bersamaan dengan suaminya. Mereka menikmati kegilaan mereka malam ini. Sesaat Qian dan Vero seolah seperti kehilangan nafas mereka beberapa saat dan kembali mengaturnya dengan terengah-engah. Qian menatap wajah Vero yang sayu masih separuh terpejam. Ia menyeka keringat yang juga membasahi wajah Vero yang membuat mata Vero seketika terbuka.
__ADS_1
"Udah selesai, kan?" ucap Vero masih ketus bahkan setelah apa yang mereka lakukan, Qian hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Vero menepis tangan Qian dari wajahnya dan mendorong tubuh Qian agar segera melepaskannya.
Vero segera menutupi tubuhnya dengan cepat. Ia memukul tubuh Qian karena kesal di cumbu sembarang tempat seperti ini. Ia segera bangkit dan menutup pintu yang sedikit terbuka, karena memang tak sempat ia tutup rapat tadi karena Qian yang langsung mencumbunya secara mendadak saat ia membuka pintu.
Apa yang mereka lakukan saat ini mungkin bahkan masih bisa di lihat seseorang dari luar sana. Untungnya mereka tak melepaskan pakaian mereka secara keseluruhan. Hanya sebagian saja.
"Kamu gila apa? Ini kan tempat terbuka! Bisa-bisanya kamu lakuin ini di sini? Jangan buat aku kayak perempuan murahan gini!" Amuk Vero lalu berlalu masuk kamar. Tampaknya Vero masih marah dan cemburu atas kejadian ia memeluk Wike saat itu. Apalagi sekarang ia mengetahui jika ia punya kerjasama dengan kenalan Wike.
Qian bangkit menyusul Vero kekamar. Ia melihat Vero sudah tertidur di ranjang dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Qian menyusul dan tidur di sampingnya. Vero terus membelakanginya, sepertinya dia juga tengah menangis.
"Aku nggak bisa tolak kerjasama itu lagi, kak. Itu proyek yang sangat besar buat perusahaan kita. Kalo aku tolak dengan alasan pribadi aku, kayaknya kurang etis," lirih Qian yang tampak tengah berfikir. Vero hanya diam mendengarkan.
"Aku bukan nggak mau cerita tentang Wike dan siapa Wike dulunya buat aku. Aku nggak bermaksud nutupin, tapi karna aku pikir itu nggak penting buat di ceritain, kak," lirih Qian lagi.
Vero bangkit dan menatap Qian.
"Ah, capek," lirih Qian berbalik membelakangi Vero dan memejamkan matanya bersiap untuk tidur, tapi di sambut lemparan bantal oleh Vero. Qian hanya menanggapinya dengan tawa.
***
Sedangkan di sisi lain Jesika masih terjaga. Dia tengah gelisah menunggu kabar dari Alzam. Pemuda itu mengatakan dia ada kencan buta malam ini. Tapi hingga pukul 11 malam masih belum ada kabar dari Alzam.
"Apa mereka cocok dan mutusin buat ... Nggak. Pasti Alzam nggak akan cocok sama perempuan kayak Ica. Suka pamer, bawel, genit, sok. Mana mungkin cocok dia sama Alzam," gumam Jesika seperti perang batin sendiri di kamarnya.
***
Keesokan harinya Jesika masuk kerja seperti biasa. Kebetulan hari ini dia bertugas di salah satu rumah sakit lainnya. Dia memang tidak bekerja di satu rumah sakit saja.
__ADS_1
Saat selesai bertugas ia melihat kedatangan Ica dari kejauhan. Tiba-tiba rasa penasarannya kembali menghampiri. Kebetulan saat ini jam makan siang dan sepertinya Ica menghabiskan waktu makan siangnya di sana juga.
"Hei, Jess. Sini, sini," sapanya dari kejauhan memanggil Jesika.
Jesika yang memang penasaran sedari semalam pun datang mendekat.
"Gimana kencannya semalam?" tanya Jesika tentang kencan buta Ica dan Alzam.
"Itu yang mau aku tanyain sama kamu. Kan semalam aku liat gayanya biasa aja. Kalo tampang ya emang ganteng. Pendiam dan nggak neko-neko. Tapi semalam kayaknya aku salah ambil langkah. Aku pikir dia orang biasa. Habis kayak orang kurang bahan di ajak ngobrol. Dan nggak ada profit apapun gitu. Aku gas aja bilang mau yang mapan dan nggak mau yang kere. Dia diam dan cuman jawab sekenanya aja. Waktu pulang ... Eh, ternyata dia pakek Porsche. Aku kaget lah. Mau ku panggil ulang dia udah keburu pergi. Emang dia siapa sih?" tanya Ica penasaran. Sesaat Jesika berusaha menyembunyikan tawanya.
"Katanya dia dokter biasa. Dan penghasilannya di kasih sama orang tua dan masih tinggal sama orang tua," tambah Ica lagi. Jesika mencoba menarik nafasnya sebelum bicara. Dia berusaha untuk tidak tertawa dan tenang.
"Ya dia emang dokter biasa dan masih tinggal sama orang tuanya," sesaat Ica tampak tak bereaksi apapun, dia masih menunggu kelanjutannya. "Tapi ... Dia selain dokter sebenarnya juga pebisnis. Dia punya hotel, restoran dan beberapa bisnis lain yang emang nggak dia kelola langsung, di pegang sama orang kepercayaannya. Dan memang masih tinggal sama orang tua. Atau mamanya. Karena mamanya janda dan tinggal sendirian. Dia punya adik tapi ya panjang lah kalo di ceritain," ungkap Jesika yang membuat Ica ternganga.
"Ja-jadi dia beneran orang kaya? Terus, terus ... Dia dokter apa?" tanya Ica semakin ingin tau.
"Dokter bedah di rumah sakit orang tuanya. Alatas Medical Center, tau kan?!" tanya Jesika.
"Rumah sakit orang kaya itu?" tanya Ica masih tak bisa menutupi rasa kagumnya sekaligus kaget dan sesalnya karena sudah menolak perjodohannya semalam.
"Nah rumah sakit itu dia yang punya. Itu punya paman aku yang sekarang di kelola sama dia sebagai putra keluarga Alatas. Ayahnya Arial Alatas Arsitek yang cukup terkenal di kalangan internasional. Karena sekarang mereka pindah dan sudah cerai jadi semuanya di kelola sama Alzam," terang Jesika yang kini benar-benar membuat Ica menyesal.
"Plis, Jess. Temuin gue lagi sama dia, ya. Gue nggak tau kalo dia se-borju itu. Mana gue udah sok-sokan duluan lagi," sesal Ica. Jesika hanya dapat mengulum senyumnya. Dia merasa lucu sekaligus senang karena perjodohan semalam ternyata gatot alias gagal total.
"Ya, gue nggak yakin, sih. Sebab orangnya sibuk dan nggak banyak omong. Gue aja jarang ketemu dia kalo nggak lagi beruntung," ucap Jesika yang seolah ingin menolak permintaan Ica secara halus.
"Kalian kan saudara. Masak nggak bisa, sih. Plis ... Yah," ucap Ica memohon.
__ADS_1