Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Mendekat Dan berdamai


__ADS_3

Setelah Bisma dan Reo pulang, Mama Jill dan Vero sibuk bersih-bersih di dapur berdua. Mereka tampak sibuk membereskan semuanya, Vero yang mengelap dan membersihkan. Mama jill yang mencuci piringnya. Sedangkan Qian tampak sibuk dengan finishing pekerjaannya di kamar.


Setelah selesai Vero menghampiri Qian di kamar di meja kerjanya. Dia menyentuh bahu suaminya. Qian pun menoleh dan tersenyum, dia menarik leher Vero hingga mendekati wajahnya. Satu kecupan hangat mendarat di bibir Vero.


Qian memutar kursinya menghadap ke arah Vero dan ia pun mengelus perut buncit Vero lalu memeluknya hingga satu tendangan dapat ia rasakan dari perut Vero. Qian tertawa merasakan satu tendangan kecil itu. Ia semakin erat memeluknya hingga beberapa kali tendangan pun kembali dapar ia rasakan di wajahnya.


"Belum lahir tendangannya udah kenceng gini. Gimana kalo udah lahiran nanti," gemas Qian membuat Vero tertawa melihat interaksi calon ayah dan calon anak itu.


Vero mengelus rambut Qian, Qian pun menarik Vero untuk duduk di pangkuannya. Vero dengan manja melilitkan tangannya di leher Qian. Satu ciuman hangat kembali mereka lakukan. Lalu kembali melemparkan senyuman terhadap satu sama lainnya.


"Tadi aku jual perhiasan sama Mama. Buat bayar hutang kita sama Alzam. Dan aku pakek tabungan nenek juga buat tambahan kekurangannya," ungkap Vero.


Qian diam sejenak mendengarnya. Dia mendesah nafasnya kasar lalu tersenyum


"Tabungan kita semakin habis. Nanti kalo ada apa-apa gimana? Kayaknya aku harus kerja tambahan. Aku mau kerja part time malam. Siangnya aku tetap desain bareng Bisma dan Reo," jawab Qian.

__ADS_1


"Kita selalu di uji. Tapi aku senang, kita tetap bersama dengan apa yang kita lalui selama ini. Asal kamu tetap sama aku, sesakit apapun itu. Aku ikhlas," gumam Vero lembut, Qian tertegun mendengarnya. Tak pernah ada yang memihaknya begitu dalam selama ini. Dia selalu merasa di tinggal sendirian di saat lukanya.


"Terimakasih," lirih Qian.


Vero tersenyum menatap Qian hangat. Ia kembali menyibak rambut Qian perlahan dan ... Tiba-tiba menjambaknya, menarik kebelakang dengan cukup kuat, membuat Qian mengerang kesakitan. Vero pun tertawa melihat itu, begitu pula Qian.


"Resek," rutuk Qian ikut tertawa. Vero kembali mendekap sayang Qian ke pelukannya. Qian pun membalasnya dengan gemas.


Jalanan ini memang tidak mudah bagi mereka berdua, tapi mereka melaluinya berdua tanpa melepaskan pegangan tangan mereka. Hingga sesakit apapun itu tak terasa menyakitkan bagi mereka. Cobaan yang mereka lalui belakangan ini malah semakin mempererat tali kasih mereka.


***


Saat sedang asyik Qian melihat mama Jill tengah duduk sendirian di bangku panjang dekat ruko samping rumah dengan sepuntung rokok di tangannya. Asap pun mengepul ke udara saat ia menyesep dan melepaskan nafasnya.


Qian berjalan cukup jauh untuk menghampiri mertuanya itu. Karena memang halaman rumah Vero cukup luas hingga masih banyak lahan kosong. Luas tanah yang 100 meter persegi membuatnya cukup jauh untuk menuju ke ruko. Dan hanya ada satu rumah sederhana yang di bangun di atasnya, yaitu kediaman nenek Vero. Model rumah beton klasik seluas 20 meter persegi.

__ADS_1


Memang ada beberapa ruko yang di bangun di depan, karena memang rumah ini di bangun di pinggir jalan raya utama yang merupakan jalan lintas, jadi banyak ruko yang berjejer di depan. Sedangkan sebelah kanan dan belakang rumah masih merupakan kebun luas milik juragan tanah.


Ya, kediaman Vero dan Qian berada di pinggiran kota. Masih banyak lahan kosong dan jarak antar tetangga masih lumayan jauh. Walau di depan mereka di seberang jalan ada lapangan bola dan sekolah dasar negeri yang ramai jika di pagi hari. Tapi akan sangat sepi saat malam hari. Saat semua ruko mulai tutup, suasana pun kembali sepi.


Qian duduk di samping mertuanya.


"Mama lagi ngapain?" tanya Qian yang akhir-akhir ini terlihat lebih akrab dengan mertuanya.


"Nggak. Cuman lagi cari suasana enak aja," terangnya masih dengan rokoknya. Dia pun menawarkannya kepada Qian.


"Aku jarang ngerokok, kalo nggak lagi pengen banget," ungkap Qian. Mama Jill tersenyum.


"Nggak ngerokok, tapi masih sering minum. Dosa nya sama saja, kan," tutur mama Jill tanpa menoleh kepada Qian. Qian tertawa mendengar sindiran mertuanya itu.


"Kalo lagi kesel banget sering larinya ke sana. Tapi kalo lagi biasa aja, jarang kalo nggak di ajak temen," aku Qian.

__ADS_1


"Hah... Sudah lah. Dosa kita tuhan yang ukur," sahut Mama Jill. Qian mengangguk.


"Mama kamu nyebelin, ya. Dia terlalu memihak kakak kamu. Mama yakin kakak kamu itu pintar memanipulasi keadaan. Dia bukan pembohong, tapi pintar memainkan kata dan keadaan," ungkap Mama Jill yang memang sedikit banyak mengetahui tentang Alzam yang merupakan mantan kekasih Vero yang dulu juga sering di porotinya saat Vero berpacaran dengannya.


__ADS_2