Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Pura-pura Peduli?!


__ADS_3

Di sisi lain, Qian tampak menikmati waktu bekerja seraya mengasuh anaknya. Dia meletakkan sebua laptop di pangkuannya dengan rumi yang tengah berada di dalam baby walker-nya.


Tidak lama tampak Bisma dan Reo yang datang. Mereka mengintip sedikit dari pintu sebelum masuk.


Reo yang jarang menemui bayi langsung terpikat dengan wajah gembul Rumi yang tampak sangat menggemaskan.


"Diiihhh... Lucu banget. Putih, mancung, bulet, emesiiinnn ...," seru Reo yang langsung masuk tanpa sungkan lagi dan menghampiri Rumi yang tengah terbaring di boxnya. Sedangkan Qian masih fokus dengan pekerjaannya.


"Pinter ya ternyata Qian bikinnya," ucap Bisma yang ikut-ikutan masuk keruangan tersebut. Tanpa perduli dengan wajah tak suka Qian.


"Doa apa yang di baca Qian waktu bikin dia?" ledek Bisma lagi yang langsung mengundang tawa Reo.


"Eh pinter. Kalo dia inget tuhan waktu itu, ini anak nggak akan jadi, tau lo, TOLOL!" ucap Reo dan di sambut Bisma dengan tawa kerasnya dan Qian pun jadi juga ikut tertawa.


"Lo nggak konsisten banget, sih BANGSAT. Tadi lo bilang dia pinter, terus tolol lagi," sela Qian di sela tawa mereka bertiga.


"Tadi awalnya majas ironi, tapi gue sadar. Temen kita ini radar otaknya rada kurang, jadi harus sarkas biar dia gampang nangkep maksudnya," terang Reo di sela tawanya yang segera di sambut Bisma dengan gulatan kesalnya kepada Reo. Sedangkan Qian malah langsung menyelamatkan anaknya dari arena berbahaya tersebut masih dalam tawanya. Rumi yang tidak tau apa-apa pun ikut tertawa mendengar guyonan sarkas ayahnya dan teman-temannya yang bahkan tak dia pahami.

__ADS_1


Sekarang ruang kerja Qian sudah tidak ada meja kerja dan kursinya. Qian sengaja membuat ruang kerjanya menjadi seperti kamar pribadi. Karena itu mereka bisa leluasa di ruangan tersebut sekarang.


Qian berlari menuju pintu keluar dari ruangan tersebut sambil menggendong bayinya, tepat saat pintu ruangan tersebut di buka oleh seseorang.


Dia lah Maya. Maya nekat ke kantor Qian karena sangat mengkhawatirkan Rumi. Dia melihat bayi mungil itu tengah berada dalam gendongan Qian. Dia langsung membelalakkan matanya melihat cara Qian menggendong Rumi yang asal tanpa jarik atau apapun untuk menggendong bayi itu dengan aman.


"Sini cucu Mama," hardik Maya yang secara spontan langsung merebut Rumi dari Qian m, sedangkan Qian yang masih shock dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba muncul hanya bisa pasrah saat ibunya mengambil anaknya.


"Kamu gendong dia gitu. Kalo jatuh gimana? Atau nanti pinggangnya kecengklak kebelakang bagaimana. Ini bahaya!" hardik Maya sangat khawatir. Qian hanya bisa menatap bingung dan masih seperti linglung.


"Oh, kesayangan Oma. Bisa-bisanya kamu diginiin. Kamu ikut Oma ya, sayang," ucap Maya tanpa perduli pertanyaan Qian seraya terus menimang-nimang Rumi yang juga tampak bingung dengan keadaanya.


"Balikin anak aku. Dia nggak papa di sini," ucap Qian yang kembali mencoba merebut Rumi dari pelukan Maya. Maya kaget hingga tak bisa menolak.


Detik selanjutnya Maya mencoba mengambil Rumi kembali dari pelukan Qian tapi segera Qian tepis.


"Dia baik-baik saja di sini. Kenapa harus khawatir. Aku ayahnya, aku jauh lebih peduli tentang anakku di bandingkan anda," tukas Qian dengan sebuah telunjuk menuding Maya. Maya seketika terpaku di posisinya karena kaget dengan sikap Qian.

__ADS_1


"Datanglah lagi saat anda benar-benar peduli ... Dan benar-benar khawatir," lirih Qian getir.


"Pura-pura peduli? Kau bilang pura-pura peduli. Apa kau bisa besar dan berpendidikan seperti sekarang kalau aku pura-pura peduli? Aku peduli, karena itu kau besar seperti sekarang. Karena itu kau bisa menentang ibumu sekeras ini. Setelah pandai bicara kau gunakan mulut mu untuk melukai perasaan ibumu. Kurang hebat apa kamu, Al-Qian? Aku yang berjuang sendirian membesarkanmu, apa kau pikir nenekmu peduli padamu? Atau ayahmu lebih peduli dari aku? Saat kau sakit aku yang terus berdoa meminta kepada tuhan supaya aku saja yang sakit. Saat kau tidak pulang, aku yang berjaga sepanjang malam berharap anakku yang hebat ini tidak apa-apa, tidak apa-apa jika dia menganggap aku musuh asal dia pulang dengan selamat, asal dia sehat saat pulang, asal dia masih hidup saat sampai rumah. Itu doa ku siang malam untukmu. Kau bilang aku pura-pura peduli? Bisa, Qian? Bisa kau bicara seperti itu?" ucap Maya bergetar menahan sakit hatinya dengan wajah yang basah karena air mata.


Qian terdiam. Reo yang sadar dengan keadaan yang semakin buruk segera mengambil Rumi dari pelukan Qian.


Reo dan Bisma hanya bisa diam mematung menatap pertikaian ibu dan anak itu. Untung karyawan yang lain tengah berada di luar dan agak jauh dari ruangan mereka saat ini. Sehingga privasi mereka masih bisa terjaga.


Reo dan Bisma terjebak di sana karena Maya berdiri tepat di depan pintu keluar. Sehingga membuat mereka sungkan untuk menyela.


Maya segera keluar dari ruangan itu seraya menyeka air matanya. Sedangkan Qian masih mematung di posisinya.


Tidak ada yang berani buka suara. Mereka hening untuk sesaat.


Untung saja Vero yang baru selesai dengan pekerjaannya segera datang dan melihat keadaan yang tidak baik-baik saja. Sedikit banyak Vero sudah mendengar penjelasannya dari Reo dan Bisma tadi.


"Jangan memusuhin Mama seperti itu, Qian. Dia orang tua kita, bukan?!" hardik Vero tak suka.

__ADS_1


__ADS_2