
Malam itu Wike pulang hari sudah mulai gelap. Dia berjalan dengan perasaan ngeri dan takut menyusuri area parkir. Sesekali ia memegang tengkuknya karena merinding.
Entah kenapa dia merasa ada yang mengawasinya dari kejauhan, sedari ia keluar dari perusahaannya tadi. Wike mulai mempercepat langkahnya untuk segera bisa masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan area parkir ini.
Tapi semakin cepat langkahnya maka semakin terasa ada yang semakin mendekat. Dan Wike pun segera melajukan langkahnya dengan separuh berlari. Tepat saat ia akan membuka pintu mobilnya dengan cepat tangan seseorang menahan pintu tersebut.
"Arnold!" seru Wike kaget melihat senyuman menyeringai pria di hadapannya saat ini.
"Mau kemana buru-buru?" tanyanya masih dengan senyum yang menyeringai. Wike mulai ketakutan.
"Kamu masih milikku Wike. Jadi, jangan pernah meninggalkan aku. PAHAM?!" hardiknya yang seketika membuat wajah Wike semakin pucat. Dengan cengkraman tangan Arnold yang semakin kuat di pergelangan tangannya.
"Lepasin ARNOLD. Kita sudah putus. Aku nggak mau sama cowok kasar kayak kamu. Kamu kira aku Sasak tinju kamu? Aku nggak mau sama cowok kasar kayak kamu. PERGI!" hardik Wike memberanikan diri.
Arnold terlihat semakin marah. Satu tamparan ia layangkan di wajah Wike membuat Wike menjerit kesakitan. Dan dengan cepat ia mencengkram wajah Wike dengan kuat hingga mensejajarkan wajah gadis itu denganya.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan semua yang aku punya. Kamu tidak bisa lepas dariku begitu saja. INGAT ITU!" serunya keras.
"Ayo ikut aku!" hardiknya lagi. Seraya menyeret Wike yang terus memberontak. Wike terus berpikir bagaimana dia bisa lepas dari lelaki bajingan ini. Dia pun ingat dengan satu ide. Dia segera merogoh tasnya. Dan terdapat gunting lipat kecil di gantungan kunci apartemennya. Dia segera mengeluarkan itu.
Dan ...
Sreeet...
Wike menusuk gunting itu ke tangan Arnold. Dan secara reflek Arnold pun melepaskan cengkeramannya. Wike tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera pergi kabur dari sana. Dia berlari secepat mungkin meninggalkan area tersebut dengan perasaan sangat ketakutan.
"Sial!" rutuk Arnold. Tangannya yang terluka mulai basah dengan darah. Membuat dia semakin kesakitan dan hanya bisa bersandar pada sebuah mobil di parkiran tersebut, sambil terus menahan tangannya yang terluka.
***
Di sisi lain, Qian yang tengah bersama Reo, Bisma dan Rendi baru saja selesai menemui kliennya di salah satu restoran. Mereka bersiap akan pulang dan beristirahat.
__ADS_1
Saat sampai di mobil Qian mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Vero.
'Aku lagi di tempat Mama kamu. Beliau sakit. Kamu kalo pulang jangan lupa jemput kita, ya,' tulis Vero dalam sebuah pesan singkat.
Qian hanya bisa mendengus nafas panjang saat mendapati pesan tersebut. Dia yakin ini hanya akal-akalan Vero agar dia menemui ibunya. Vero akhir-akhir ini memang sering kelihatan cari-cari alasan agar Qian bisa menemui ibunya dan bicara.
'bilang kalau kakak sudah selesai dan mau pulang. Aku ada sedikit urusan,' balas Qian yang sebenarnya hanya tengah menghindar.
Qian pun akhirnya masuk mobil dan bersiap untuk pergi. Baru saja dia keluar dari area parkir. Tiba-tiba handphone nya kembali berbunyi. Dengan malas dan tanpa melihat si penelpon Qian mengangkatnya melalui sambungan headset dengan pandangan yang terus fokus ke jalanan yang ramai.
"Qian ... Bisa tolong jemput aku sekarang? Aku lagi butuh banget pertolongan kamu. Tolong Qian kali ini saja. Aku benar-benar lagi ketakutan. Mantan pacar aku tadi datang lagi dan ngancam aku lagi," ujar seseorang yang terdengar aneh seperti tengah menangis.
Qian yang bingung dengan siapa dia tengah bicara pun segera melihat nama di layar handphone nya. Tertulis nama 'Wike' di sana yang membuat Qian diam terpaku sesaat sampai akhirnya dia memutuskan untuk membantu menjemput Wike.
"Ok. Kamu lagi dimana?" tanya Qian akhirnya. Wike pun mengatakan posisinya saat ini. Qian segera menuju ke alamat tersebut.
__ADS_1