
Sudah beberapa hari sejak Qian kehilangan handphone nya berlalu, Qian selalu uring-uringan. Reo yang kebetulan ada di sana terus memperhatikan tingkah gelisah Qian.
"Lo kenapa segitunya? Kayak ABG baru pacaran aja. Bukannya lo dulu kolektor cewek? Nggak pernah lu bucin, bahkan lo telantarin gitu aja itu anak orang, sekarang lo malah bucin banget. Ini pasti karma." Qian menatap dingin ke arah Reo. Seakan paham, Reo pun sedikit berdehem
"Kan waktu pulang kalian pasti bisa ketemu. Jelasin aja nanti. Lagian dia bukan ababil, gampang lah buat jelasin nya nanti," lanjut Reo, berusaha memperbaiki keadaan.
"Gue nggak punya kontak dia yang lain. Dia pasti ngira gue hindarin dia." Reo malah tertawa mendengarnya. Hah, sepertinya percuma bicara dengan Reo, Qian pun langsung memakan roti di tangannya dengan suapan besar di mulutnya. Menandakan bahwa dia tidak ingin bicara lagi.
***
Vero baru keluar kamar mandi dan terlihat sangat panik. Dia yang biasanya jam segini sudah berada di hotel untuk bekerja malah masih berada di rumah. Sudah beberapa kali Vero mencoba menghubungi Qian, namun tidak bisa. Sempat masuk beberapa kali namun di matikan dan setelah beberapa hari ini nomer tersebut benar-benar sudah tidak bisa di hubungi lagi. Ini membuat Vero semakin merasa cemas.
Dia tampak kacau dan sangat cemas. Ia tampak berantakan di ranjangnya dengan wajah yang basah dan wajah pucat karena tengah merasa mual karena kehamilannya.
__ADS_1
"Qian angkat aku mohon. Tepati janjimu, jangan menghilang. Aku mohon Qian."
Akhirnya tangis Vero pecah beriringan dengan rasa putus asanya untuk menemui Qian.
"Kau pembohong, QIAN!" teriak Vero melempar testpack nya dengan keras ke lantai ur. Terlihat dua garis merah di testpack tersebut.
Vero menangis sejadi-jadinya, hancur sehancur-hancurnya. Dia mulai merasa di tipu. Padahal dia begitu mempercayai pemuda itu hingga memberikan sesuatu yang sangat berharga pada dirinya.
"Kau telah berjanji, Qian. Kenapa kau menghilang." Vero terus menangis terisak di kamarnya seraya mendekap wajahnya dengan mengangkat ke dua lututnya dan bersembunyi, ya Vero sangat ingin bersembunyi saat ini.
"Aku yang bodoh. Bisa-bisanya aku percaya cinta konyol ini. Bahkan aku tidak yakin dia paham tentang tanggung jawab dan cinta secara bersamaan," isak Vero mulai merasa sangat bodoh saat ini.
Dia tidak bisa terjebak begini. Dia harus bisa bangkit, jika tidak ingin hidupnya benar-benar hancur karena kehamilan konyolnya.
__ADS_1
"Alzam. Ya, Alzam dokter. Dia pasti bisa mengatasi ini," lirih Vero seraya menyeka air matanya dan bangkit dari ranjangnya memungut handphone yang telah ia buang tadi.
Tidak butuh waktu yang lama telepon itu telah diangkat.
"Halo," terdengar suara seseorang dari seberang sana. Suara yang sangat Vero kenal dan beberapa tahun belakangan sangat spesial sebelum Qian datang di hidupnya. Ah, si bajingan itu, ia merasa sangat membencinya saat ini tapi tetap berharap dan merindukannya. Senyumnya, ucapan sarkasnya, keras kepalanya, spontanitasnya.
"Halo!" suara lembut dari seberang sana kembali terdengar.
"Oh, iya!" gumam Vero. Sesaat kesadaran Vero seolah kembali. Dia menghela nafasnya panjang sebelum mulai bicara. Butuh keberanian dan tekad kuat untuk Vero jujur. Tidak, dia tidak bisa mengatakannya sekarang.
"Oh, nggak. Salah tekan tadi," kilah Vero langsung mematikan sambungan telfonnya.
***
__ADS_1
Alzam mengerutkan keningnya kaget mendapat telepon Vero yang kali ini terdengar sangat aneh.
"Kenapa dia?" lirih Alzam penasaran, ia tengah sendirian di kamarnya saat ini. Dan kebetulan Qian baru saja menelponnya mengabari jika dia baru ganti nomer baru karena handphone nya hilang, serta kemungkinan dia yang akan pulang di luar rencana awal. Ada banyak yang harus ia urus.