
Di sisi lain Qian masih di sibukkan dengan acara ulang tahun Alzam beserta tamu undangannya yang banyak di hadiri mahasiswa kedokteran yang merupakan teman kampus Alzam.
Qian sedari tadi tampak gelisah seolah ia merasakan firasat buruk akan terjadi pada teman-temannya. Apalagi saat dia mendengar lawannya adalah si ambisius Marvel.
Qian terus mencoba untuk tenang. Dia menatap Alzam, ada rasa kesal yang membuat perasaannya campur aduk saat ini.
"Lihat! Ruang pergaulan Alzam. Semua nya berpendidikan dan nggak urakan kayak temen kamu," bisik ibunya pada telinga Qian tanpa menatap Qian langsung, ia pun kembali menampilkan senyuman anggunnya saat tamu undangan mulai berdatangan.
"Semua kayak banci tampil. Pakek barang branded dan perhiasan mahal supaya di puji. Padahal merasa tersaingi," sahut Qian separuh berbisik dan seutas senyum mengejek terukir menyebalkan di wajah Qian membuat senyum ibunya seketika hilang dan berganti menatapnya tajam. Sesaat mereka saling menatap dengan tatapan konfrontasi.
Alzam yang menyadari terjadi perang lagi antara Qian dan ibunya segera melerai.
"Plis, Mah, Qian. Jangan sekarang," bisik Alzam kepada keduanya.
Maya sontak tersadar dan mencoba menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
Sesaat Qian mendapatkan ide bagus.
__ADS_1
"Papa nggak akan datang," ujar Qian lagi. "Mama bikin acara terus kayak gini dengan tujuan pengen ketemu papa. Papa nggak akan datang, Mah. Nenek nggak akan izinin papa buay datang. Buang-buang waktu aja, buat apa Mama caper sama papa kayak gini. Ingat. Dia udah ada istrinya dan sebentar lagi melahirkan." Sontak itu membuat Maya terdiam seribu bahasa.
Ya, semenjak perceraian mereka beberapa tahun lalu. Maya seolah tak pernah mengikhlaskannya. Apalagi saat mendapati fakta bahwa mantan suaminya sudah menikah lagi. Itu semakin membuat Maya tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Dia sering kali membuat acara dengan tujuan membuat alasan untuk bisa bersama mantan suaminya, dengan alasan anak. Termasuk alasan kenakalan Qian. Qian beberapa kali di manfaatkan sang ibu dengan kenakalannya dan undangan guru BP ke sekolah. Ibu nya selalu memanfaatkan momen tersebut.
Sehingga Maya selalu mencari-cari kesalahan Qian agar dia bisa menghubungi mantan suaminya itu. Dan Qian tentu tidak terima dengan hal tersebut. Dia membalas hal tersebut dengan mendekati ibu sambungnya. Sehingga dia malah membuat ibu sambung dan ayah kandungnya lah yang datang ke sekolah jika dia sedang bermasalah. Ini pula alasan kenapa Maya semakin tak menyukai Qian.
Qian tahu, sekarang ibunya mulai tak bisa menahan diri. Tapi, itu membuat Qian puas. Dia berhasil membalas kekesalannya kepada sang ibu.
Tidak lama acara potong kue pun di mulai. Dan masuk acara membuka kado.
"Mas! Aku punya kado istimewa buat mas Alzam. Semoga mas Alzam suka, ya," seru Qian yang malah membuat Alzam ketar-ketir. Alzam hapal betul dengan karakter adiknya ini.
Tidak menunggu lama Qian segera membuka kadonya. Dia merobek penutup bingkai tersebut.
Ternyata sebuah karikatur yang Qian lukis sendiri. Karikatur yang menggambarkan seorang wanita paruh baya yang tengah memotong tubuh anak kecil hingga berdarah dan memberikan potongan yang lain dari tubuh anak kecil tersebut kepada anak lain dan memakannya bersama.
__ADS_1
Seolah sekarang Qian tengah menyindir ibunya sendiri. Sesaat Qian dan ibunya terdiam saling tatap penuh tantangan. Tapi bagi yang tak paham malah bertepuk tangan terpesona. Qian malah menyunggingkan senyuman puasnya.
"Ini hadiah aku buat Mas Alzam. Semoga mas Alzam suka, ya. Aku lagi nggak punya uang buat beli kado mahal, jadi kadonya aku buat sendiri. Nggak papa kan?" ujar Qian penuh dengan nada sarkas yang hanya bisa dipahami oleh ibu dan kakaknya.
"Ini kado yang bagus. Apalagi buatan kamu sendiri. Terimakasih," jawab Alzam berusaha menetralkan keadaan sekarang.
Sedangkan Maya, sang ibu hanya tersenyum tipis melihat karikatur sindiran yang putra bungsunya gambarkan tersebut.
Terlihat indah namun sangat mengerikan. Seorang ibu membunuh putranya demi menghidupkan putra yang lainnya sekaligus demi menghidupkan perasaannya sendiri.
***
Di sisi lain, Reo tampak kesal dan Marvel tersenyum senang karena berhasil mengalahkan Qian CS. Walau Qian tidak datang.
Dia dengan senyum angkuh datang menghampiri Reo dan kawan-kawan. Di sambut tatapan kesal Reo dan kawan-kawan.
"Kalian tanpa bos kalian cuman pecundang ternyata, ya," sindirnya dengan tawa Puas nya di ikuti yang lain.
__ADS_1
"Lain kali. Gue harap bos kalian itu yang turun tangan sendiri. Itu pun kalo dia nggak takut kalah," tantang nya dan kembali tertawa dan di ikuti yang lain.
Reo tampak sangat kesal dengan keangkuhan Marvel. Tapi apa boleh buat. Toh kenyataannya mereka memang kalah dan tidak ada apa-apanya tanpa Qian.