
Pagi itu di rumah sederhana kediaman Vero, tampak Vero dan Mama Jill tengah sibuk di dapur.
"Suamimu belum bangun?" tanya Mama Jill di tengah kesibukan mereka di dapur.
"Belum, Ma. Semalam dia pulang jam 12. Kayaknya masih ngantuk," jawab Vero seraya ikut membantu. Mama Jill tak menimpali lagi dan mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing di dapur.
***
Di rumah sakit Maya memulai praktek paginya. Hampir setiap hari akhir-akhir ini Maya menunggu kedatangan seseorang. Tapi setiap hari pula dia harus kecewa. Kedatangan yang di tunggu-tunggunya tak kunjung datang.
Kedatangan siapa lagi jika bukan kedatangan Qian dan istrinya. Sudah hampir dua minggu dari jadwal yang sudah di tentukan untuk memeriksakan kandungan rutin Vero yang sudah Vero lewati.
"Dia tidak akan datang. Pasti dia masih marah," lirih Maya sendirian.
Maya mengambil handphone nya dan mulai mencari nomer Vero dan melakukan sambungan telefon. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya diangkat juga.
"Halo, Vero. Apa kabar kamu?" tanya Maya membuka pembicaraan.
"Halo, Mah. Baik, Mah. Ada apa ya, Mah" sahut Vero lembut.
"Nggak, Mama cuman mau nanya. Kok udah hampir dua minggu kamu telat datang buat periksa kandungan kamu ke tempat Mama, ya?" tanya Maya hati-hati.
Vero langsung bingung harus menjawab apa. Karena dia memang di larang Qian untuk datang.
__ADS_1
"Datanglah, Mama tunggu kamu sekarang. Soal Qian nanti Mama jelaskan sama dia. Mama cuman khawatir, karena hpl kamu sebentar lagi. Buat jaga-jaga biar nggak terjadi sesuatu," ungkap Maya yang memang sedari awal punya firasat buruk dengan kandungan Vero.
"Iya, Mah a ...," ucapan Vero terpotong saat tiba-tiba handphone nya di rebut oleh Qian.
"Itu hak kami untuk mau datang atau tidak," bantah Qian yang tiba-tiba datang dan merebut handphone Vero dari genggaman tangan Vero. Setelah mematikan sambungan telefon nya Qian pun pergi seraya menyerahkan kembali handphone tersebut kepada Vero.
Sedangkan Maya di seberang sana hanya diam terpaku mendapatkan perlakuan seperti itu dari anaknya.
"Jangan datang," ingat Qian seraya mengenakan sepatunya bersiap akan pergi. Qian tampak tak ingin di bantah, Vero pun hanya diam tanpa menjawab apapun. Dia tidak ingin membuat masalah.
Qian pun pergi. Qian memang masih melakukan pekerjaan freelance desain bersama temannya dan malamnya dia masih bekerja paruh waktu.
"Nanti aku pulang kita beli perlengkapan bayi nya yang masih kurang, kak. Gaji aku udah masuk yang dari restoran," ungkap Qian sebelum dia pergi. Vero mengangguk paham. Qian memang hanya bekerja satu bulan di sana hanya untuk menggantikan seseorang sementara waktu.
***
"Halo, Mah. Kalo aku pergi sekarang masih sempat nggak, Mah? Mumpung Qian lagi pergi," ungkap Vero.
Maya yang kaget bercampur bahagia pun mengangguk setuju. Mendapat respon baik dari Maya Vero pun segera bersiap akan pergi.
***
Sesampainya di rumah sakit, Vero di sambut oleh Maya dengan senyum ramahnya di ruangannya. Vero pergi kesana bersama dengan ibunya Mama Jill. Mama Jill terus mengagumi rumah sakit milik besannya ini. Memang sangat besar dan sepertinya juga menjadi salah satu rumah sakit andalan di kota ini.
__ADS_1
"Mama sudah nungguin kamu dari tadi. Hari ini khusus kamu saja yang jadi pasien Mama," ungkap Maya setelah mereka sampai di ruangan praktek Maya.
Maya mulai melakukan pemeriksaan terhadap Vero. Dia mulai melakukan USG dan sedikit menekan perut Vero. Tatapan nya sedikit aneh melihat kondisi janin di kandungan Vero.
"Posisinya masih sungsang, bayinya juga cukup gede. Sudah 2,8 kilo," ungkap Maya membuat Vero khawatir. "Jangan khawatir. Posisinya bisa berubah-ubah, kamu sering-sering saja lakukan gerakan kayak yang Mama pernah kirim sama kamu itu. Nanti kalo mulai merasa mulas atau sakit perut cepat hubungin Mama. Mama sudah kosongkan kamar buat kamu. Hpl kamu 2 minggu lagi, bisa lebih cepat atau lambat. Yang penting bayinya sudah siap. Sudah tidak usia prematur lagi," ungkap Maya lebih detail.
Vero mengangguk paham.
Maya pun mulai membereskan semua.
"Bagaimana dengan perlengkapan bayi nya? Sudah lengkap?" tanya Maya di sela kesibukannya membereskan peralatannya.
"Masih ada beberapa lagi yang kurang, Mah. Qian bilang besok mungkin kita akan beli lagi buat yang kurangnya. Hari ini dia sibuk," terang Vero.
"Yasudah. Kita beli sekarang saja. Mumpung Mama punya waktu," ucap Maya bersiap.
Vero menatap ibunya Mama Jill. Mama Jill yang sedari tadi hanya diam pun menyedikkan bahunya.
Vero bingung karena takut Qian akan marah jika tau hal ini. Seolah paham akan kebimbangan hati Vero Maya pun kembali mengajak Vero untuk meyakinkannya.
"Nggak papa. Qian nggak akan tau," ungkap Maya dengan seulas senyuman hangatnya.
Maya memang perlahan mencoba untuk menerimanya sekarang. Apalagi setelah melihat bagaimana Qian benar-benar berjuang untuk hidup tanpa bantuan apapun darinya selama ini. Itu justru membuat Maya takut jika Qian benar-benar akan pergi darinya. Walau untuk mengungkapkannya secara gamblang di hadapan Qian, Maya masih sulit.
__ADS_1