Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Alzam tidak menunggu waktu lama langsung menemui Vero ke kediamannya. Dia di sambut nenek Vero dengan ramah.


"Dia seharian di kamar tidak mau keluar. Masih lemas katanya," terang nenek Vero yang tampak sudah sangat sepuh tapi masih terlihat sehat di usia senjanya. Walau kadang juga sering sakit-sakitan, apalagi beliau juga sedikit ada masalah dengan jantungnya. Karena itu pula yang membuat Vero sangat takut jika permasalahan saat ini di ketahui neneknya. Pasti itu tidak baik untuk jantung neneknya yang lemah.


"Bisa saya bertemu dengannya sebentar, Nek? Ada hal penting yang mau saya sampaikan," ungkap Alzam sopan.


Nenek segera bangkit menuju kamar Vero. Tidak lama Vero pun keluar, masih mengenakan piyama tidurnya yang berupa terusan selutut dengan wajah pucatnya. Setelah itu nenek pun meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Aku ke hotel tadi. Mika bilang kamu ... Di ... Pecat," lirih Alzam tidak enak hati menanyakannya. Vero tersenyum miris.


"Semalaman Mama marah sama aku. Dia takut kalau aku tidak bisa kasih dia uang lagi. Dia terus tanya kenapa aku bisa di pecat. Dan mengatakan semua kebutuhan dia yang nantinya bisa terpenuhi, tapi dia nggak tanya bagaimana keadaan aku." Vero tertawa miris beriringan dengan air matanya. Alzam terdiam melihat keadaan Vero.


Wanita ini memang dari dulu selalu mengeluhkan keadaan ibunya yang sering meminta uangnya bahkan selalu datang saat dia gajian tapi tidak peduli kepadanya. Ibu Vero selalu mengandalkan penghasilan Vero untuk kebutuhannya karena sang suami yang sangat pelit padanya, buat dia sangat bergantung kepada Vero untuk kebutuhannya sendiri.


"Mungkin bagus juga aku di pecat, jadi aku bisa berhenti jadi sapi perahnya. Aku udah capek," ungkap Vero seraya bersandar di sandaran sofa dan menatap keatas seolah menahan air matanya untuk tidak menetes lagi. Keadaannya sangat buruk saat ini. Tapi dia masih berusaha untuk meluruskan pikirannya agar tak membuatnya gila.

__ADS_1


"Ini bukan anakmu, Alzam. Jangan mengasihaniku. Aku cerita bukan karena ingin dikasihani. Jangan kasihani aku. Aku memang hancur, tapi jangan buat aku seolah memang sehancur itu, Zam," lirih Vero seolah tidak ingin di dengar oleh neneknya. Dia menyisakan sedikit perasaan terhadap Alzam. Tapi, dia tidak pernah berharap pria mapan ini akan menikahinya, apalagi dalam keadaannya begini.


"Aku tidak mengasihanimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan semua yang ada pada dirimu sekarang. Dan kamu tau, kan. Aku juga tidak sempurna, bukan? Anggap saja kita berkompromi saat ini," bujuk Alzam. Vero terdiam dan tampak berpikir.


Alzam memang tidak memiliki kekurangan apapun. Bagaimana Alzam bisa berkompromi dengan ibunya. Bagaiman bisa keluarga Alzam menerima itu. Keluarga kaya yang memiliki segalanya apa bisa menerima keadaannya yang begini? Apa yang akan ibunya pikirkan nanti jika tahu tentang anak di kandungannya saat ini.


"Bagaimana dengan Mama? Apa kamu bisa berkompromi dengan itu? Atau kamu bisa atasi itu?" lirih Vero dengan tatapan datar meragukan ucapan Alzam.

__ADS_1


"Dulu kita juga sempat merencanakan pernikahan, bukan." Senyum Alzam berusaha meyakini Vero seraya mengusap wajah Vero dengan jarinya. "Tenang saja, kita pasti bisa atasi itu nanti," ungkap Alzam meyakini Vero.


Vero kembali tersenyum kaku seolah tidak yakin. Dia kenal betul bagaimana Alzam. Alzam lelaki yang sangat lembut, mustahil dia bisa atasi ibunya yang sangat menginginkan semua yang sempurna. Dia sering mendengar bagaimana Alzam selama ini selalu dipaksa lakukan semua sesuai keinginan ibunya selama ini.


__ADS_2