
Setelah puas menenangkan diri Qian kembali masuk ke kamar rawat Vero. Vero tidak berada di ranjang, Qian berjalan pelan menuju box bayi. Bayi mungil itu tengah tertidur. Qian tersenyum menatap wajah mungil yang tengah bergerak-gerak tanpa membuka matanya itu. Qian menyentuhnya lembut dan perlahan mengusapnya mencoba memberikan ketenangan untuk anaknya.
Seolah bisa rasakan kehadiran ayahnya di sana, bayi itu kembali terlelap di tidurnya. Qian tersenyum melihat tingkah bayi mungil itu.
Saat tengah asyik bersama bayinya Qian tiba-tiba dikagetkan oleh suara tangis Vero dari kamar mandi. Qian dengan panik segera mendekat ke arah pintu kamar mandi.
"Kak! Kenapa?" tanya Qian cemas mendengar tangisan Vero dari kamar mandi seraya terus mengetuk pintu kamar mandi. Setelah menunggu beberapa saat tetap tidak ada sahutan dari dalam. Hanya ada suara tangis Vero yang disertai teriakannya.
"Kak? Kamu nggak papa?" tanya Qian lagi lebih dekat.
"Aku ... Aku ... Susah BAB. Sakit ...," Isak Vero. Qian diam sesaat.
"Tunggu aku ke apotek sebentar," ucap Qian lalu buru-buru melangkah pergi.
Tidak lama Qian datang kembali dengan sebotol kecil obat pencahar. Dia mengetuk pintu kamar mandi tersebut dan Vero mengintip dari dalam.
"Kakak bisa pakek, kan?" ucap Qian seraya menyerahkan obat pencahar tersebut. Vero mengangguk lalu kembali menutup pintu kamar mandi tersebut.
Sesaat kembali terdengar teriakan dari Vero.
__ADS_1
"Berdarah lagi, Qian" isak Vero kembali menangis.
"Biar aku masuk, biar aku lihat," pinta Qian.
"Nggak. Kamu bakalan jijik nanti," tolak Vero.
"Nggak akan."
Vero mengintip dari balik pintu lagi.
"WC jongkok aja kamu jijik, apalagi ini," ungkap Vero dengan mata sembab dan basah. Qian tersenyum menahan tawanya. Vero tau betul jika Qian tipe yang gampang jijik dengan sesuatu.
"Coba aku liat," pinta Qian lagi. Vero masih tampak ragu.
Setelah terus meyakinkan, akhirnya Vero mengizinkannya. Qian masuk dan mulai memeriksa keadaan Vero.
"Berdarah karena tergores, jaitannya nggak lepas," ungkap Qian. Vero hanya Diam memperhatikan Qian.
"Kakak lain kali jangan di tahan terlalu lama biar nggak keras lagi PUP-nya," ungkap Qian menahan tawanya dengan posisi masih berlutut di hadapan Vero.
Vero dapat melihat bahwa Qian merupakan sosok yang sangat peka dan bertanggung jawab. Walau dia kadang keras kepala, susah di atur, tapi dia selalu dapat memenuhi apa yang menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
"Biar aku gendong kakak ke ranjang, ya," tawar Qian setelah membersihkan semua seraya mengelap tangannya yang basah.
Qian menggendong Vero keluar dan meletakkannya pelan di ranjang.
"Tidurlah. Rumi nya biar aku yang jagain kalo dia nangis," tutur Qian seraya membenahi selimut Vero. Vero mengernyitkan dahinya heran.
"Sejak kapan kamu kasih nama dia?" tanya Vero menatap Qian heran.
"Barusan. Kepikiran nama itu. Yaudah. Nama Rumi. Daripada pusing manggil namanya apa."
"Kamu itu suka seenaknya. Nggak mau. Kita cari dan pikirkan lagi nanti namanya," ungkap Vero memejamkan matanya.
"Kamu pompa aja asinya buat Rumi, nanti aku yang kasih sama dia," ungkap Qian lagi yang seketika membuat Vero membuka matanya.
"Aku bilang jangan kasih nama dia sekarang," bantah Vero.
"Ya, apa salahnya nama nya Rumi. Itu nama filsuf terkenal juga," ungkap Qian sibuk dengan handphone nya seraya duduk si sofa dengan cuek.
Vero mengernyitkan keningnya tak suka. Ia menarik nafas panjang mencoba untuk tenang. Ia rasa percuma membantah Qian saat ini, dia pasti sengaja melakukan itu untuk memancingnya bicara. Karena sudah seminggu ini Vero tidak mau bicara dengannya.
Vero semakin yakin saat melihat senyuman usil dengan tatapan matanya yang tetap tak lepas dari layar handphone. Dia merasa sukses membuat Vero mau bicara dengannya. Sedangkan Vero baru menyadari tujuan Qian saat melihat senyuman menyebalkan Qian.
__ADS_1
Dia langsung pura-pura tidur membelakangi Qian dengan terus mengumpat. Qian hanya tertawa mendengar umpatan Vero yang masih bisa dia dengar meski samar-samar.