
Di sisi lain Alzam tengah mengobrol bersama Jesika di sebuah kafe. Dia sengaja meminta Jesika menemaninya hari ini karena jenuh di tinggal sendirian ibunya yang tengah Mengunjungi Vero.
"Kamu khawatir kenapa? Ibu kamu kan ke rumah Qian adik kamu. Toh, nggak mungkin juga kan Qian bunuh ibu kamu. Dia juga waras, nggak gila sampe mau bunuh ibunya sendiri. Di sana juga kan ada Vero yang kayaknya welcome sama Tante Maya," ujar Jesika. Alzam hanya diam tanpa jawaban.
"Apa kamu cemburu liat tante Maya dekat sama adik kamu? Atau nggak suka liat hubungan Qian mulai direstui tante Maya?" selidik Jesika. Alzam mengangkat wajahnya menatap Jesika.
"Kelihatan kali, Zam. Kalo kamu itu cemburu. Entah itu sama Qian atau sama Vero. Yang jelas kamu cemburu dan nggak nyaman."
"Nggak. Aku nggak cemburu. Aku cuman nggak habis pikir aja, kenapa Mama mau kesana. Bukannya dia biasanya menentang hubungan mereka. Mama selalu bilang Qian itu tidak bermoral. Bisa-bisanya dia menikah di umur segitu dan bikin malu saja. Eh, sekarang dia ngapain, coba kesana!" tukas Alzam tak ingin di tuding cemburu
"Ya, bagus kan. Itu artinya tante Maya mulai berdamai dengan keadaan. Sekarang kamu kapan mau damainya?"
__ADS_1
Alzam hanya diam. Itu pernyataan yang tidak bisa ia jawab hingga saat ini.
Entah kenapa. Padahal dia selalu meyakini dirinya bahwa dia sudah tidak punya perasaan lagi terhadap Vero. Tapi selalu ada bagian dari hatinya yang ia rasa tak bisa ikhlas.
Jesika benar. Dia tengah cemburu kepada siapa? Kepada Vero yang telah menjadi milik Qian? Atau kepada Qian yang bisa memiliki apa yang tak bisa ia miliki? Entahlah. Yang jelas yang Alzam yang tau tentang itu.
***
Dia segera menelpon kedua sahabatnya itu. Dengan cepat keduanya menuju perusahaan mereka kembali. Dan Qian sengaja membawa keduanya pergi kesebuah ruangan khusus untuk membicarakan sesuatu.
"Kalian ngapain, sih? Kalian ninggalin kerjaan di sini bareng mereka yang anak baru? Kalian nggak mikirin resikonya? Ini perusahaan baru. Jangan rusak kepercayaan klien sama kita. Kalo di awal-awal kita udah bikin kecewa mereka dengan hasil kerja yang nggak maksimal, gimana kedepannya nanti? Sekarang kita lagi butuh kepercayaan dari klien kita supaya mereka nggak kapok kerjasama dengan kita. Dan bangun kepercayaan mereka supaya mau menjadikan kita partner kerja mereka dalam jangka waktu panjang. Tapi kalian malah kayak orang nggak serius gini kerjanya," amuk Qian emosional membanting hasil desain yang masih belum maksimal yang baru saja di komplain oleh klien mereka.
__ADS_1
Reo dan Bisma hanya terdiam mendengar amukan Qian tersebut. Reo dengan ragu memberanikan diri untuk membuka kertas yang Qian lempar barusan. Di sana terdapat banyak corat-coret Qian yang menandakan titik kesalahan desain mereka.
Untung saat ini mereka hanya bertiga jadi mereka bisa bebas untuk bicara.
"Maaf, Qian. Tadi cewek gue mintak tolong buat bikinin vidio promo kafe nya. Tinggal dikit lagi dieditnya. Makanya gua kesana sebentar buat selese-in. Eh, ternyata mereka datang lebih awal dari jam perjanjian semalam," terang Reo tertunduk tak berani menatap Qian.
"Gue juga kebawah sebentar kok. Kan gue sering gitu. Mereka kerjanya tetap gue awas-in. Jadi lu tenang aja," ujar Bisma menambahkan.
"Gue tau. Cuman gue yang cari makan dari sini. Kalian enak nggak punya tanggungan apapun yang buat kalian bisa bodo amat sama perusahaan ini mau berkembang atau nggak. Tapi ... GUE BERHARAP BANYAK! Makanya selama ini gue nggak pernah protes kalo ujung-ujungnya cuman gue yang lembur kerja buat selese-in kerjaan tepat waktu. Cuman gue yang ambil kerjaan apapun yang kalian tolak. Tapi ... Perlu kalian ingat. Ini bukan perusahaan besar, bahkan masih belum bisa di bilang perusahaan beneran. Kita belum sehebat perusahaan-perusahaan di lantai atas dan di bawah kita. Kita masih belum bisa santai. Kita masih perlu banyak pembuktian buat diakui," ungkap Qian lagi yang buat keduanya makin tertunduk.
Qian selalu mencoba menahan diri selama ini. Tapi, mungkin sekarang sudah waktunya dia bicara mengingat kedua sahabatnya ini tak pernah bisa berubah.
__ADS_1
"Capek gue lama-lama ngadepin kalian," ucap Qian seraya meneguk minumannya untuk menenangkan emosinya.