
Di pagi itu. Maya dan Alzam tengah menikmati pagi mereka dengan segelas minuman sehat, jus sayur dan buah dengan ramuan khusus yang rutin ia konsumsi tiap paginya. Kebetulan Alzam juga baru saja menyelesaikan olahraganya yang memang rutin ia lakukan tiap paginya.
Maya menatap kedatangan putranya itu sekilas lalu kembali menikmati minumannya. Maya memang sangat menjaga kesehatan dan penampilannya hingga saat ini dengan baik. Ia selalu menjaga pola makan dan olahraga nya seperti Alzam. Hingga dia bahkan seringkali di kira sepasang kekasih saat berjalan bersama putranya sangking awet mudanya dia.
Walau sudah banyak pria yang menyatakan ketertarikannya terhadap Maya, Maya entah kenapa tetap enggan membuka hatinya hingga saat ini. Seolah pernikahannya terdahulu sudah menjadi pernikahan pertama dan terakhir baginya. Tidak ada niatan di hatinya untuk memulai lagi dengan yang lain.
__ADS_1
"Sepertinya sudah saatnya kita memperbaiki hubungan kita sama adik kamu. Dia tidak bisa terus kita hadapi dengan cara seperti ini. Dia semakin dikeraskan malah semakin sulit di hadapi. Haaahhh... Sudahlah. Toh dia juga sudah terlanjur punya anak dan istrinya juga wanita yang baik," ungkap Maya kembali menikmati minumannya. Alzam hanya diam tanpa sepatah katapun.
"Coba kamu kirim sesuatu ke kantor dia buat nunjukin itikad baik kita sama dia. Kamu bisa, kan?" ungkap Maya lagi, kali ini berhasil membuat Alzam menatap tajam kepada ibunya.
"Dia nggak akan mau terima kalo itu dari aku, Mah. Mama aja yang kirim. Kalo dari aku pasti dia ribut lagi," tolak Alzam seraya hendak bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Mama pikir sikap Mama sama dia selama ini nggak memprovokasi dia? Mama kasih biaya rumah sakit selangit sama dia. Mama juga sering ribut sama dia selama ini. Jangan Mama mau cuci tangan. Ini semua berawal dari sikap Mama yang terus menekan dia, Mah. Dia bukan tipe pria yang bisa menghamili perempuan kayak gitu. Dia itu tipe pekerja keras. Jelas orang kayak dia bukan orang yang mesum. Satu-satunya alasan kenapa dia bisa seliar itu adalah Mama. Dia marah sama Mama. Dia cuman gunain kehamilan Vero buat bisa keluar dari rumah ini. Bahkan aku nggak pernah yakin kalo dia itu cinta sama Vero. Dia cuman buat Vero jadi pelariannya saja, Mah. Hanya menunggu waktu yang tepat saja buat dia berulah dan dapat alasan yang tepat ninggalin Vero. Itu yang aku takutkan, Mah," seru Alzam penuh emosional.
"Stop, Zam. Jangan buat alasan apapun buat kamu rusak rumah tangga adik kamu. Biarkan dia bahagia dengan Vero. Yang penting sekarang kita bawak dia pulang. Mama nggak mau kalau orang yang satu-satunya bisa kasih Mama keturunan penerus malah pergi. Kamu tau sendiri, kan. Mama nggak punya siapapun selain kalian berdua jadi keluarga Mama. Kalo kamu nggak bisa kasih Mama penerus setidaknya Qian bisa. Jadi, Mama nggak mau kehilangan dia. Mama pengen hidup tenang sama cucu Mama. Mama mau dia pulang bawak anak istrinya kerumah ini." Alzam geleng kepala mendengar pernyataan ibunya.
"Terserah lah, Mah," gumam Alzam. Ia pun melangkah pergi dari sana meninggalkan ibunya.
__ADS_1
"Mama mau kesana buat jenguk Rumi hari ini. Terserah kamu mau ikut atau nggak," seru Maya yang tetap tak membuat Alzam menghentikan langkahnya.