Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kepulangan Si Biang Onar


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Qian, Maya menghubungi putranya itu. Mencoba mengikuti saran suaminya untuk berdamai dengan Qian dan memperbaiki hubungan mereka yang renggang.


"Nanti Mama tunggu kamu di bandara," tutur Maya lembut seolah mulai menunjukkan sikap berdamainya.


"Iya," jawab Qian singkat.


"Berapa jam perjalanan dari sana? Nanti bisa Mama tunggu,"


"Nanti aku telfon. Takut lama delay," jawab Qian mulai lembut dan ia pun mematikan sambungan telfonnya.


Tidak lama terdengar panggilan pesawat yang akan take off sebentar lagi. Qian pun segera bergegas bersiap-siap untuk masuk pesawat.


Sebelum pergi dia berpamitan kepada ayah dan ibu sambungnya, serta adik kecilnya yang sudah memasuki usia balita.


***


Di kediamannya, Maya tersenyum masih menggenggam handphone nya. Tanpa ia duga, Azam sudah berdiri di sampingnya.


"Mama senyum kenapa?" tanya Azam seraya memeluk ibunya dan mencium ibunya lembut.


"Qian," sahut Maya mengagetkan Azam yang seketika tersenyum riang.

__ADS_1


"Qian pulang, Mah? Kapan sampainya?" tanya Azam antusias.


"Mungkin besok dia sampai. Tunggu saja dia telfon katanya tadi," terang Maya dengan seulas senyum.


Alzam memang sangat merindukan adiknya itu. Dia berbeda dari ibunya, dia selalu menjalin komunikasi dengan adiknya selama ini walau hanya sekedar menanyakan kabarnya atau sekedar mengirim sedikit uang saku untuknya. Bahkan dia sempat beberapa kali mengunjungi Qian, karena ini pula yang membuat Maya tenang karena tau kabar Qian melalui Alzam. Sedangkan dia sendiri cukup gengsi menghubungi Qian yang telah berani menjual tas kesayangannya di tambah lagi akibat perbuatan Qian Maya harus menanggung malu karena dia sudah terlanjur mendaftar kan Qian di universitas yang dia pilih melalui bantuan teman sejawat nya.


Apalagi dia sempat membanggakan kepada beberapa temannya jika putranya yang mereka anggap pembuat onar itu akan menjadi seorang dokter, dan akhirnya dia malah lebih di permalukan oleh Qian, saat Qian malah kabur memilih kabur. Dia lebih memilih di jurusan desain grafis dari pada kedokteran.


***


Paginya Maya dan Alzam sudah bersiap-siap di pagi hari. Mereka menunggu kedatangan pesawat yang Qian tumpangi. Berkali-kali Maya melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu kepulangan Qian harusnya sudah sampai sedari tadi, tapi sampai saat ini pun dia masih belum kunjung datang. Alzam pun juga mulai ikut bosan menunggu, sudah hampir 2 jam mereka menunggu disana.


"Tunggu saja sebentar lagi. Mungkin sebentar lagi dia datang." Maya masih berusaha berpikiran positif.


Tapi yang di tunggu masih tidak kunjung datang. Akhirnya Maya pun mulai tidak tenang.


"Coba kamu cek ulang lagi, Zam," perintah Maya kepada putra sulungnya.


Azam pun dengan cepat pergi ke bagian informasi bandara. Tidak lama dia kembali.


"Pesawatnya udah dateng karangnya dari 2 jam tadi, Mah," terang Azam. Membuat Maya berubah raut wajahnya. Dia memejamkan matanya sesaat.

__ADS_1


"Ya sudah, kita pulang sekarang."


Tanpa menunggu lama lagi mereka pun segera pergi. Mereka menuju mobil mereka untuk pulang. Mereka yakin jika Qian sudah sampai di rumah saat ini.


"Kalau sampai dia sudah pulang dan sengaja ngerjain kita nunggu lama di bandara. Mama cekek dia nyampe rumah," geram Maya di mobil, Azam hanya tertawa melihat kekesalan ibunya itu.


***


Tidak lama mereka pun sampai di rumah. Saat sampai di rumah, Maya segera berlari ke kamar Qian. Benar saja, di sana sudah ada Qian yang tengah menikmati makanannya dengan sebuah laptop yang menyala di meja.


Dia kaget saat menyadari kedatangan ibunya, Qian melambaikan tangannya seraya tersenyum kikuk dengan mulut yang penuh dengan makanan. Saat baru pulang tadi dia memang langsung menuju ruang makan keluarga karena selain dia memang sudah sangat lapar, dia juga sudah sangat rindu dengan masakan ibunya.


Di sisi lain Maya terlihat sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi atas kelakuan putra bungsunya itu, dia segera menyerahkan tasnya kepada Azam dan dengan cepat menuju Qian dengan raut wajah yang penuh amarah.


Qian sadar akan bahaya yang mengancam, ia pun segera menenggak minumannya sebelum ia di serang oleh ibunya yang tengah mengamuk.


"I-iya, Mah. Aku bisa jelasin. Jangan ngamuk dulu. Aku tadi di todong kang taksi di bandara. Nggak enak nolak akunya dan kasian juga mereka kan juga lagi cari nafkah. Beneran, Mah. Ampun ... Ampun ... Ampun....," pinta Qian panik seraya berlari kesana-kemari menghindari ibunya. Sedangkan Azam hanya tertawa menyaksikan keributan ibu dan adiknya itu dengan menikmati makanan Qian yang belum sempat ia habiskan tadi.


"Kita nungguin kamu sampe lumutan di bandara, kamu malah enak-enakan makan-makan di rumah. Kapan kamu bisa dewasanya, HAH. Udah sekolah tinggi-tinggi tapi masih juga tidak punya adab sama orang tua, anak sialan ini. Sakit hati Mama gara soal tas itu masih membekas Qian. Sekarang kamu kerjain lagi Mama sama kakak kamu," omel ibunya seraya menyerang Qian dengan bantal tanpa memberi kesempatan kepada Qian untuk bicara lagi. Qian kalang kabut menahan serangan sang ibu.


Sedangkan Alzam semakin keras tawanya. Dia merasa rumah ini kembali ramai setelah kepulangan Qian. Qian benar-benar memberi warna untuk hidup mereka.

__ADS_1


__ADS_2