Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Maya memeriksa keadaan Vero. Tidak banyak komunikasi diantara mereka kecuali komunikasi yang profesional terkait kesehatan Vero sendiri. Lalu maya pergi dari sana, Vero bisa lihat jika Maya cukup kecewa atas sikap Qian tempo hari hingga membuat dia kembali bersikap dingin. Tapi apa boleh buat, bahkan Vero sendiri sering kesulitan menangani sikap Qian.


"Hmmm... Qian suka banget cari gara-gara," lirih Vero sendirian di ruangan nya dan menatap box bayi di sampingnya yang masih kosong, karena bayi mereka tengah di rawat di ruangan bayi. Dia berharap kehadiran anak diantara mereka bisa membuat Qian lebih bijak lagi. Walau dia juga tidak begitu yakin.


***


Selesai memeriksa keadaan Vero, Maya pun pergi dari sana. Saat melewati ruang perawatan bayi. Maya melihat ruang tersebut dari balik dinding kaca, setelah berfikir sejenak, Maya pun memutuskan untuk masuk. Di sana dia mencari bayi atas yang nama Ny. Veronica. Perawat di sana hanya menatap sekilas keberadaan Maya dan menunduk memberi hormat, lalu mengabaikannya.


Saat ia menemukan bayi itu. Maya tersenyum hangat. Melihat bayi merah itu bergerak menggeliat dengan lucunya.


"Persisi seperti ayahnya saat baru lahir," gumam Maya kembali mengingat kenangan saat itu. Timbul ide iseng dari Maya. "Menangis lah keras, supaya dia paham bagaimana susahnya merawat bayi," gumam Maya lagi dengan seulas senyuman dan tatapan hangat yang tak pernah lepas dari sosok bayi mungil itu.


Tiba-tiba bayi itu menangis keras seperti permintaan Maya barusan. Maya yang menyadari itupun tertawa kecil seraya melirik kiri kanan. Lalu perlahan mulai mengangkat bayi itu dan mencoba untuk menenangkannya tepat saat kedatangan salah seorang suster yang juga berniat mengambil bayi tersebut.


"Owh... Ngambek ya? Lucunya," lirih Maya yang tadinya dingin berubah menjadi hangat.


Maya melirik si perawat yang baru datang, dan melihat sebotol susu di tangan perawat tersebut. Dia mengambilnya dan mulai memberikannya kepada bayi mungil itu dengan penuh cinta kasih.


"Bagaimana ibunya? Masih belum bisa menyusui bayinya?" tanya Maya kepada si suster tanpa menatapnya langsung.


"Tadi pagi masih belum keluar juga ASI-nya, Dok. Keadaannya juga masih sangat lemah, Dok," terang si suster sopan.


Maya mengangguk dan tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Selesai memberikan susu botol dia segera membaringkan bayi mungil itu di pundaknya seraya mengsendawakan bayi tersebut.


Setelah bayi itu tertidur, dia pun kembali meletakkan bayi tersebut kedalam box-nya. Maya kembali tersenyum lalu beranjak pergi dari sana.


"Bukannya ini bayi pak Qian, anak dokter Maya?" tanya salah seorang suster yang baru datang setelah melihat Maya menjauh.


"Iya. Tapi kayaknya dokter Maya agak jaga jarak gitu. Bahkan dia jarang keruang rawat menantunya kalau bukan karena jadwalnya dia ke sana," ungkap si suster dan di suster yang lain hanya mengangguk paham mendengar pernyataan rekannya tersebut.

__ADS_1


***


Hari ini Qian, Reo dan Bisma akan melihat ke lokasi gedung tempat mereka akan membangun perusahaan mereka. Reo yang merupakan anak tunggal kaya raya mereka manfaatkan sebagai sumber dana mereka dan Bisma si ahli waris memanfaatkan gedung pencakar langit milik keluarganya sebagai tempat mereka. Sedangkan Qian yang tengah tidak memiliki apapun kecuali skill nya yang mumpuni hanya bisa menjadi orang utama penggerak dan otak dari semua ini.


"Lo rasa berlebihan nggak sih, kalo kita pakek gedung ini buat langkah pertama kita?" tanya Reo saat mereka mulai masuk kedalam lobby utama gedung tersebut.


"Nggak papa, dari pada kita habisin dana lagi buat sewa tempat ratusan juta pertahun. Mending di sini, kan," ungkap Qian datar. Dia sebenarnya tidak dalam mood yang baik karena semua kemelut permasalahan pribadinya.


"Lo nggak kena mental tiap hari papasan sama yang berdasi, berjas dan pakek sepatu pantofel mengkilap. Sedangkan kita? Cuman pakaian gembel modal bantuan orang tua bisa kerja di sini," kesah Reo.


"Udah untung gue dapatin ini gedung. Masih ngeluh aja ini gembel atu. Tahan bentar lah, ntar juga terbiasa kita ngadepin parfum Dior sama tas Chanel," cuat Bisma dengan tawa kerasnya bersama Reo seraya bersandar di dinding lift, yang kebetulan di dalam lift saat ini hanya ada mereka bertiga.


Sesaat tawa Reo dan Bisma terhenti saat melihat Qian tidak ikut tertawa bersama mereka. Bahkan dia hanya diam tenang sedari tadi. Reo pun segera mengkode Bisma agar menghentikan tawanya. Bisma pun segera menutup mulutnya dan mereka terlibat keheningan sesaat. Pintu lift terbuka dan Qian yang kebetulan posisinya di depan segera keluar dari dalam lift. Sedangkan Reo dan Bisma mengekorinya dari belakang.


"Kayaknya masalah dia kali ini serius banget," bisik Reo kepada Bisma.


"Udah. Ntar dia marah," bisik Reo kepada Bisma.


Bisma kembali menutup mulutnya. Dan mereka segera menyusul langkah Qian yang sudah berada jauh meninggalkan mereka.


Setelah sampai di ruang yang mereka tuju. Mereka pun segera meninjau lokasi untuk membuat rancangan-rancangan yang perlu mereka kerjakan untuk pembangunan perusahaan baru mereka.


"Semua urusan surat izinnya udah kalian urus, kan?" tanya Qian di sela kegiatan peninjauan mereka.


"Udah. Buat perlengkapan barang-barangnya sore ini datang dan sisanya besok. Kita udah siapin semua. Tenang aja, bro," terang Reo yang hanya di jawab senyuman oleh Qian.


***


Seharian ini mereka terus bekerja keras. Bahkan sampai malam menjelang mereka bertiga masih tampak sibuk.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit Vero kedatangan tamu istimewa. Ferdi datang menjenguknya.


"Bagaimana keadaan kamu, Ver?" tanya Ferdi ramah.


"Baik, Om. Mungkin besok sudah bisa pulang," jawab Vero lembut. Sedangkan Mama Jill hanya diam memperhatikan.


"Sekarang kita sudah menjadi Kakek dan Nenek," ungkap Ferdi seraya melirik sekilas ke arah Mama Jill. Mama Jill hanya tersenyum tak menjawab.


Obrolan mereka terus berlanjut. Hingga malam semakin larut. Tidak terasa sudah pukul 8 malam, yang mana itu adalah batas waktu jenguk malam. Sebelum pergi Ferdi masih sempat memberikan Vero bingkisan sebagai kadonya.


Saat pulang Mama Jill mengikuti Ferdi hingga pintu utama keluar. Mama Jill seperti tampak berfikir sedari tadi.


"Mas!" panggil Mama Jill lirih.


Ferdi berbalik dan menatap Mama Jill.


"Aku akan pulang. Tapi, tunggu sampai Vero benar-benar pulih dan sudah bisa merawat bayinya sendiri dulu," ungkap Mama Jill yang seketika membuat senyum bahagia terukir di wajah Ferdi.


"Kamu sudah memaafkan aku, Jill?"


"Hmmm... Tidak akan ada yang menang bukan? Seandainya kita terus dengan ego masing-masing. Lagipula aku sudah lihat kalau kau benar-benar sudah berubah beberapa waktu belakangan ini," ungkap Mama Jill. Ferdi datang dan mendekap istrinya itu. Dan beberapa kali mengucapkan ungkapan terimakasih nya yang seolah tak pernah ada habisnya.


"Baiklah. Rawatlah Vero terlebih dahulu. Nanti jika kamu ingin pulang. Beritahu aku, aku akan menjemputmu," ungkap Ferdi sebelum pergi.


Mama Jill mengangguk. Ferdi mengecup kening Mama Jill sebelum pergi dan mengucapkan salam.


Ferdi sebenarnya merupakan laki-laki yang baik. Tapi, karena penghianatan yang di lakukan Mama Jill membuat dia berubah. Dia terus bersabar dengan semua tingkah Mama Jill selama ini, akhirnya Mama Jill berubah seperti saat ini.


Ternyata kesabarannya selama ini tak lah sia-sia. Wanita itu kembali seperti dulu lagi, saat dia selesai dengan luka batinnya.

__ADS_1


__ADS_2