Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Kau Tau Apa


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu Qian dan Vero semakin dekat. Seperti hari ini, Qian mengajak Vero untuk jalan-jalan. Mereka menghabiskan waktu mereka di sebuah pasar malam yang kebetulan mereka lewati.


"Lusa aku mau ke tempat Papa. Aku mau urus ijazah aku. Reo bilang semua sudah beres dan harus aku yang ke sana langsung buat urus sisanya." Vero diam sesaat. Entah kenapa dia merasa berat melepaskan kepergian Qian. Dia sudah terlanjur nyaman bersama Qian beberapa waktu belakangan ini.


"Lama?" tanya Vero pelan.


"Kalo lancar, paling seminggu aku di sana. Kenapa?" tanya Qian dengan tawa usil.


"Apaan sih," seru Vero seraya memukul pelan pundak Qian karena malu di goda begitu. Lalu mereka tertawa bersama sambil terus mengitari pasar malam tersebut.


Tiba-tiba langkah mereka terhenti di sebuah tempat penjualan boneka. Vero menunjuk tempat itu dengan wajah manjanya meminta Qian untuk membelikan untuknya. Qian tertawa kecil melihat expresi Vero saat meminta sesuatu itu terlihat sangat menggemaskan. Qian mengacak rambut Vero lalu berjalan cepat ke arah pedagang boneka seraya menggandeng tangan Vero.


Mereka mulai memilah-milah hingga pilihan mereka jatuh pada sebuah boneka jamur lucu berwarna pink.


"Ini aja," ucap Vero seraya memeluk Boneka jamurnya dengan gemas. Qian tersenyum melihat tingkah manja Vero. Qian mengeluarkan dompetnya bersiap akan membayar. Belum juga Qian mengambil uangnya tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan mengambil boneka jamur yang di peluk Vero secara paksa.


"Bang, ini berapa? Yang kayak gini masih ada nggak?" tanya nya langsung, Vero hanya bisa kaget mendapat perlakuan mengejutkan itu. Qian pun menghampiri si wanita paruh baya dan merebut bonekanya paksa kembali. Si wanita paruh baya tidak terima.


"Eh, saya mau beli yang itu," seru nya lantang. Qian tidak peduli. Dia langsung membayarnya dan berlalu dari sana seraya menggandeng Vero tanpa sepatah katapun.


Vero hanya bisa terdiam dengan sikap Qian tersebut. Si wanita paruh baya itu pun kembali mengejar Qian.


"Eh, yang sopan ya kamu anak muda sama orang tua! Kamu tidak tau siapa saya, ya?" serunya ketus. Qian berbalik.


"Oh, anda orang penting? Tapi sayang, attitude anda masih kalah sama anak TK," ucap Qian seraya tersenyum sinis.


Qian menarik Vero untuk segera pergi meninggalkan wanita paruh baya itu, dia masih tampak kesal tapi Qian tetap tidak perduli. Vero tersenyum. Ternyata Qian adalah seseorang yang pemberani dan tegas pula. Berbanding terbalik dengan Alzam mantan kekasihnya. Untuk mengambil keputusan perihal hubungan mereka saja dia butuh waktu yang lama untuk berpikir.


***


Usai jalan-jalan mereka segera pulang. Tepat pukul 9 malam, mereka di sambut nenek Vero yang sudah menunggu di teras rumah yang cukup besar itu. Rumah yang walau sudah tua tapi masih menampilkan kesan megah dengan ukurannya yang cukup luas dan di kelilingi oleh taman dan lampu taman yang semakin mengesankan indah saat malam hari.

__ADS_1


Qian turun dari mogenya untuk menemui nenek Vero. Dia menyalami nenek Vero, dan di sambut ramah oleh beliau.


"Lain kali jangan terlalu malam. Tidak enak di lihat lingkungan sekitar," nasehat nenek Vero lembut, Qian0 ke mengangguk paham.


"Yaudah, saya permisi dulu, Nek," pamit Qian. Nenek mengangguk pelan dengan seulas senyuman hangat.


Setelah Qian menghilang dari pandangan mereka. Nenek dan Vero berjalan masuk ke rumah beriringan. Mereka tampak mengobrol akrab.


"Kelihatannya lelaki itu lebih muda dari kamu, Vero? Kamu itu tidak muda lagi, jangan cari pacar yang masih suka main-main, carilah yang serius kalau perlu sudah mapan dan dewasa," nasehat Neneknya.


"Jangan salah, Nek. Dia itu baik kok, dewasa juga pola pikirnya. Dia kelihatannya juga bukan tipe laki-laki manja, Nek. Vero suka sama dia, kalo sama dia Vero merasa di lindungi sama dia." Nenek tersenyum mendengar penuturan Vero. Nenek Vero bukan tipe yang suka memaksakan kehendaknya, semua keputusan akhir akan ia serahkan kepada Vero. Vero lah yang memutuskan semua yang ia inginkan.


***


Di rumah Qian mulai lagi berkutat dengan desainnya yang belum ia selesaikan. Besok dia berencana menyerahkan semua sebelum dia pergi.


Tiba-tiba pintu terdengar terbuka. Qian menoleh dan seperti sudah ia tebak. Itu adalah ibunya, karena mereka di rumah memang hanya berdua.


"Kok mas Azam nggak nelfon, ya?!" kesah Maya seraya duduk di ranjang Qian. Qian tampak cuek malah lebih asyik dengan drawing pad-nya.


"Baru hilang 3 minggu. Aku hilang 4 tahun nggak di cariin sampe segitunya." Qian tampak masih asyik dengan kesibukannya.


"Kamu beda dari Azam. Kalo mas Azam itu orangnya pemalu, kalo ada apa-apa dia pasti sungkan buat nanya."


"Kalo ada apa-apa Mama nya mbak Jesika juga nggak akan diem. Pasti dia yang paling heboh. Dia itu punya anak cewek. Ini udah bapak-bapak masih di perlakukan kayak bayi. Pantesan nggak bisa ambil keputusan apa-apa di hidupnya. Manja."


"Kamu ini!"


"Itu hutan, Mah. Wajar kalo dia nggak hubungin kita. Mana ada sinyal di sana." tukas Qian singkat dan agak kesal.


"Udah ah, aku mau kerja lagi. Lusa mau ke tempat Papa," lanjut Qian lagi.

__ADS_1


Maya menautkan alisnya bingung. Qian tidak pernah bicara kalau dia akan pergi.


"Ngapain kamu ke sana lagi?!" tanya Maya bingung.


"Heh, sangking nggak pedulinya Mama sama aku. Sampe apapun urusan aku Mama nggak pernah tau," sinis Qian menelan rasa kecewanya yang ia tutupi dengan asyik bermain drawing pad-nya tanpa menoleh kepada Maya sedikit pun.


"Di sana pasti dingin. Apa asma mas Alzam kambuh? Gimana kalo kambuh? Apa dia bawak obatnya," gumam Maya cemas seolah tak peduli dengan perasaan Qian.


Qian menarik nafas panjang hingga udara memenuhi rongga dadanya. Tapi itu masih belum menenangkan emosinya yang sudah ke ubunya. Qian menggenggam erat pensil drawing pad-nya.


Dan ...


Krek...


Pensil itu patah menjadi dua. Sekuat tenaga Qian menahan air matanya untuk tidak menetes. Dia menahan nafasnya dengan dada dan tenggorakan yang terasa mulai sakit menahan perasaannya. Dia menggenggam erat patahan pensil tersebut hingga seolah ingin ******* habis di tangannya.


"Pergi lah. Aku mau kerja," usir Qian dingin.


Maya terdiam sesaat. Mungkin Qian benar. Dia sudah mengganggu Qian. ia pun bangkit dan bersiap akan pergi.


"Besok Mama transfer uang buat beli tiket sama sakumu selama di sana," ujar Maya sebelum melangkah pergi.


"Tidak usah. Aku punya uang sendiri," tolak Qian datar.


"Uang dari mana?" tanya Maya heran.


Qian tersenyum sinis. Maya benar-benar tidak mengetahui apapun tentang Qian. Bahkan dia tidak tau jika Qian bekerja freelance selama ini.


"Bukan dari mencuri," ucap Qian datar dan menatap Maya tajam.


Maya terdiam. Dia sadar Qian tengah menahan emosinya saat ini. Itu terlihat dari pensil drawing pad-nya yang patah di genggaman Qian .

__ADS_1


Tidak mau membuat masalah lagi, Maya pun memilih untuk pergi. Dia menutup pintu kamar Qian berlahan. Saat pintu sudah tertutup, tanpa di ketahui Maya, Qian meneteskan air matanya. Dan dengan cepat ia menyekanya dan kembali ke pekerjaan nya yang bahkan sudah tidak berselera lagi untuk ia selesaikan. Qian membanting pensil drawing pad-nya yang patah. Dan mendekap wajahnya di meja kerjanya dengan bahu yang bergetar hebat menahan sesak di dadanya.


Untuk kesekian kalinya dia merasa sendirian.


__ADS_2