Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Omelan Pagi Hari


__ADS_3

Qian pulang tepat saat pukul 12 malam. Dia sengaja menunggu rumah sepi untuk pulang karena tidak ingin dilihat oleh ibunya bagaimana keadaannya saat ini. Dia masuk dengan mengendap-endap seperti maling. Sebelum ke kamar Dia masih sempat mengambil es batu untuk mengompres lukanya.


Tepat saat dia menutup pintu kulkas dua pintu itu Alzam sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia haus dan berniat mengambil minum. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat keadaan adiknya yang lembam dan ada bercak darah di wajah dan pakaiannya.


"Muka kamu kenapa?" tanya Alzam khawatir.


"Nggak papa," kilah Qian cepat seraya menepis tangan kakaknya yang akan menyentuh wajahnya yang babak belur.


"Kamu berkelahi lagi? Mama bisa marah kalo dia tau," ingat Alzam omel Alzam yang terdengar seperti ibunya tengah mengomel.


"Makanya jangan berisik," tukas Qian separuh berbisik memperingati Alzam.


Alzam pun menutup mulutnya paham. Qian berlalu ke kamarnya meninggalkan Alzam yang tengah ambil minum


***


Di kamar Qian mulai mengobati lukanya sendiri yang terasa perih apalagi saat ia kompres dengan menekan batu es itu kebagian lembamnya.


"Sialan si Marvel," gumam Qian sendirian di kamar seraya terus mengompres wajahnya yang terluka.


Untung saja tidak terlalu menonjol. Hanya di sudut bibirnya sedikit robek dan pipi bagian dalam yang membuat mulutnya berdarah.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar pintu berderit, Qian kaget setengah mati takut jika itu ibunya. Ternyata itu adalah Alzam, dia masuk dan membawa tas obat miliknya.


Dia duduk di lantai bersama Qian dan mulai mengobati luka adiknya.


"Berantem sama siapa?" tanya Alzam lembut seraya mengobati luka adiknya di wajah.


"Sama El. Dia keroyok aku di taman dekat mall tadi."


"Kenapa?"


"Bawak Una jalan. Padahal dia yang ngajak, Mas."


"Sorry, sorry ...," ucap Alzam masih terkekeh.


"Pasti makan besok sakit," ungkap Qian pada mulutnya yang terluka bagian dalam.


"Alah, waktu berantem pasti kamu sok jago, nyampe rumah baru kamu kayak bayi," ejek Alzam yang paham betul dengan sifat adiknya.


Selesai mengobati adiknya Alzam keluar meninggalkan Qian yang sudah siap untuk tidur kembali karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


Malam semakin larut dan sunyi mulai menyapa. Mereka semua pun sudah terbawa ke alam mimpi masing-masing.

__ADS_1


***


Pagi menjelang, Qian masih belum bangun tapi Alzam sudah pergi pagi-pagi bahkan dia tidak sarapan di rumah.


Maya yang merasa jarang bertemu dengan putra bungsunya yang memang seolah menghindarinya beberapa hari ini mulai merasa curiga. Maya yakin ada yang berusaha ia sembunyikan. Maya memutuskan menunggunya turun. Maya menunggu cukup lama, hingga jam menunjukkan pukul 9 Una pun datang.


"Eh ... Hay, Tante! Qian nya ada?" tanya Una malu karena tidak menduga ibu Qian masih ada di rumah. Biasanya dia pagi-pagi sudah pergi bekerja.


Maya menatap penuh selidik kepada Una.


"Kamu sering kesini Una?" tanya Maya agak kurang suka dengan Una yang tampak begitu bebas mengunjungi laki-laki lajang di rumah sendiri.


"Nggak sering kok, Tan. Udah beberapa hari ini belum kesini. Baru hari ini lagi," kilah Una lugu. Maya tersenyum miris mendengarnya.


"Lain kali kalo tante nggak ada di rumah kamu jangan ke rumah, ya. Qian kan di rumah sendirian. Nggak enak di liat tetangga," terang Maya membuat Una menunduk dan mengangguk dengan wajah kecut. Malu sekaligus kesal.


"Yaudah, Tan. Aku pulang dulu!"


Una pun pulang dengan wajah yang masih tampak kesal. 'Mama Qian resek' rutuk Una membatin membanting pintu pagar kediaman Qian.


"Kinan gimana sih didik anaknya. Anak gadis gitu di biarin kerumah laki-laki berdua di rumah," gumam Maya tidak menyukai sikap Una.

__ADS_1


__ADS_2