
Setelah Arnold pergi kini tinggal Qian dan Wike di parkiran.
"Yaudah, aku pergi dulu," ucap Qian setelah melihat Arnold menjauh. Tapi baru juga Qian berbalik tiba-tiba terdengar ringisan dari Wike.
"A-au, perut aku," lirih Wike menahan perutnya. Qian menoleh dan melihat Wike dengan wajah pucat berkeringat dingin.
"Kenapa?" tanya Qian.
"Nggak. Cuman Kram," jawab Wike masih menahan perutnya.
"Qian, bisa tolong antar aku nggak. Kayaknya aku nggak kuat nyetir," lirih Wike masih menahan kramnya dengan memegang perutnya.
Qian pun akhirnya mengantar Wike malam itu ke kosannya.
"Dia kenapa ganggu kamu terus? Kamu juga kenapa bisa di ganggu samap dia kayak nggak mau atau nggak bisa menghindar," ucap Qian.
"Aku mau menghindar. Tapi mau pergi kemana? Orang tua aku broken home, udah sibuk sama anak masing-masing dari pernikahan masing-masing. Nenek udah meninggal. Nenek dari papa? jangan di tanya. Dia kamu tau sendiri, kan?Benci banget sama aku dari dulu. Aku cari makan sendiri dari SMA, Qian. Bisa sekolah satu sekolah sama kamu ya aku ketolong sama om ku, om yang aku buat pacar. Dan di usir tanteku, karena itu sekarang aku di musuhi semua orang. Mau lari kemana aku kalo ada cowok kayak gitu sama aku. Teman aku nggak punya yang dekat. Aku nggak punya yang akrab. Takut kayak dulu," ungkap Wike.
"Kamu juga ngapain open BO waktu itu. Mana aku pula yang jadi tamengnya. Jelaslah Una ngadu ke Mama. Aku lindungin kamu dengan pacarin kamu, kamu malah makin berulah. Kadang rasanya kayak kasih ati, kamu malah minta jantung, ginjal dan semuanya dari aku," ucap Qian.
"Itu karna aku cari makan. Sejak tante usir aku, aku nggak punya uang buat bayar sekolah. Dia datang tawarin aku mahal, asal aku mau jadi simpanan dia. Sebenarnya dia itu Arnold. Makanya aku yakin sama dia, karena kita sudah sekian lama. Mana aku tau ternyata dia diam-diam nikah sama perempuan lain. Dan ternyata sudah 4 taun mereka nikah. Dan kayaknya dia itu perempuan kaya raya. Sebab aku di traktir banyak hal sama Arnold. Makanya aku bisa kenal banyak bos besar juga. Dari kenalan dia, aku bisa bantu perusahaan kamu kalo kamu mau. Aku kenal dekat sama mereka," terang Wike membuat Qian mengernyitkan keningnya.
"Kamu di pakek juga sama mereka?" tanya Qian mulai bergidik membayangkannya.
"Enak aja. Aku cuman sama Arnold. Tapi kalo diajak jalan sama mereka aku nggak nolak," jawab Wike seraya tertawa. Tapi, ada kesedihan di dalam tawanya. Qian bisa rasakan itu. Akhirnya tawa itu perlahan melemah dan sesaat mereka terjebak kebisuan.
__ADS_1
"Aku benar-benar cari makan, Qian. Tapi aku nggak jual diri sama mereka. Hanya jalan-jalan. Kalo mereka mulai nuntut lebih aku akan tinggalin ...," Tiba-tiba ucapan Wike terputus.
"Bukan!" potong Qian. "Kamu itu cuman mau gaya hidup. Mau semua lebih dari yang lain. Sekarang kena batunya? Apa kamu hamil? Perut kram kayak gitu, itu bisa gara-gara Efek hamil," ucap Qian yang membuat Wike tertunduk.
"Tadinya aku memang mau serius sama yang ini. Makanya aku berani. Tapi ternyata dia sudah punya istri. Aku tau baru beberapa bulan ini. Dia memang royal sama aku. Makanya dia nggak terima aku putusin hubungan kita," terang Wike lagi.
"Yaudah! Nikah sama dia. Kenapa di perumit?" tukas Qian lagi.
"Dia kasar akhir-akhir ini. Istrinya mulai curiga dan banyak nuntut. Aku jadi pelampiasan dia kalo lagi stress. Dia sering nampar sama mukul aku. Aku udah nggak tahan. Aku mau benar-benar pergi dari dia. Aku sekarang lagi urus semua. Makanya aku harus di sini dulu sampai semua urusan aku beres dan baru aku pergi ... Bawak anak aku. Aku pertahankan dia di rahim aku, karna mungkin cuman anak yang bisa benar-benar tulus sama aku nantinya. Aku akan hidup sebagai single parent setelah ini," ucap Wike dengan seulas senyuman yang lagi-lagi tampak memendam kesedihan. Mereka kembali diam dan Qian terus fokus pada jalanan.
"Aku butuh perlindungan sampai waktu aku pergi tiba Qian. Apa kamu bisa lindungin aku?" lirih Wike.
"Nggak. Nanti Vero cemburu lagi. Cari perlindungan dari orang lain aja. Aku nggak mau Vero salah paham lagi. Tadi aja habis ribut sama kamu dia kecelakaan," terang Qian.
"Baru di katain gitu aja udah hilang fokus. Lemah istri kamu," ucap Wike.
Tidak terasa mereka sudah sampai. Qian setelah memarkirkan mobil Wike segera bersiap pergi.
"Udah. Nih kuncinya," ucap Qian bersiap akan pergi. Dia segera keluar dari sana. Wike terus menatap kepergian Qian dengan tatapan dalam. Hingga Qian benar-benar jauh, ia menarik nafas dalam seraya memegang perutnya yang masih terasa sedikit kram.
"Dia selalu gitu," gumam Wike akhirnya langsung berbalik dan menaiki anak tangga menuju kamar kosnya.
***
Qian kembali ke kamar rawat Vero tepat saat Vero sudah bangun dan tengah duduk seraya bersandar di ranjangnya.
__ADS_1
"Kakak sudah bangun?" tanya Qian senang.
"Sudah dari tadi. Aku nungguin kamu. Tadi aku juga lama ngobrol sama Alzam. Mungkin gara-gara tidur seharian buat aku nggak ngantuk lagi," terang Vero.
Qian segera duduk di samping Vero setelah membuka jaketnya dan menaruhnya. Dia segera mengecup kening istrinya dan duduk di sampingnya.
"Rumi lagi sama Mama di kamar paviliun di belakang. Biarin aja, kayaknya dia juga nggak rewel di sana. Aku sempat liat sebentar kesana walau nggak masuk. Banyak perawat yang lagi jaga ngumpul di sana sama Mama. Makanya dia betah, rame dan banyak perempuan cantik yang nemenin dia," terang Qian seraya tertawa.
"Anak kamu genit kayak kamu," ucap Vero seraya tertawa.
"Nggak. Dia berkharisma kayak papanya. Makanya banyak cewek yang suka," ucap Qian dengan senyum bangga.
"Hmmm... Mana ada," sanggah Vero. "Kalo kharisma kamu masih kalah jauh sama papa kamu. Papa kamu itu wibawanya bisa kerasa kuat saat pertama ketemu. Pantas Mama kamu susah move on," ucap Vero membuat Qian tertawa.
"Sampe sekarang mama masih nyimpen foto waktu mereka masih nikah dulu," ucap Qian mengenang bagaimana ibunya tak bisa melupakan sosok Arial.
"Mereka kalau lagi sama-sama bisa saling melindungi. Bagaimana papa marah kalau nenek lagi resek sama Mama, atau bagaimana Mama lindungin papa kalau dia lagi lakuin sesuatu yang buat nenek nggak suka. Tapi, mereka tetap kalah sama takdir dan keadaan. Mama pasti nggak akan nikah lagi setelah ini. Dia kayak nggak bisa lupain Papa. Papa juga walau udah nikah lagi, dia akan ingat cinta Mama seumur hidupnya," ucap Qian membuat Vero tersenyum mendengarnya.
"Sweet!" seru Vero.
Dia merentangkan tangannya meminta Qian untuk memeluknya. Qian pun bangkit dan memeluk istrinya hangat.
"Cintai aku kayak gitu juga, Al-Qian Alatas," bisik Vero dengan menyebut nama Qian lengkap. Qian tersenyum dan mengecup kening Vero hangat.
"Udah. Tidur lah. Kakak harus cepat sembuh. Biar biaya rumah sakitnya nggak membengkak. Aku ngga punya uang. Nanti aku jual diri buat biaya rumah sakit, mau?" canda Qian membuat Vero kembali tertawa. Qian mengecup tangan istrinya.
__ADS_1
"Dah tidur," ucap Qian lagi. Vero mengangguk dan mereka pun akhirnya mencoba untuk tidur dengan Qian yang duduk di samping Vero seraya menggenggam tangan Vero sepanjang malam.