
Qian dan Bisma hanya bisa memperhatikan interaksi dua bucin yang menggelikan ini, yaitu Reo dan Kia dari kejauhan.
"Idiiih, kok gue geli ya liatnya," seru Bisma dari kejauhan setelah memperhatikan Reo dan Kia cukup lama sedari tadi.
Qian memilih cuek dan tetap asyik dengan pekerjaannya. Mau diperhatikan berapa lama pun Reo tetap tidak akan menganggap keberadaan mereka. Bagi sepasang sejoli itu, semua orang di sekitarnya hanya mengontrak yang kebetulan menumpang tinggal di bumi ini bersama mereka yang sebagai pemilik dunia. Jadi tak perlu di gubris keberadaan nya.
Dan Bisma sebagai seorang jomblo, sangat terganggu dengan tingkah Reo dan Kia tersebut. Yang sama sekali tak menganggap perasaan nya yang tersayat-sayat kerena cemburu melihat kemesraan sahabatnya di depan mata itu. Bisma cemburu karena hanya dia yang masih tak memiliki pasangan.
"Kayak alay aja gayanya. Nggak liat apa ini tempat umum," ucap Bisma kesal. Qian melirik sorot mata tajam kesal Bisma yang ikut memancing ide usil Qian untuk menggodanya.
"Apa perlu gue panggil ayang gue juga kesini?" goda Qian santai dengan senyum usil melirik Bisma dan kembali fokus pada layar laptopnya seraya tertawa.
"Jangan ikut-ikutan lo, gue udah cukup kesel ngeladenin ibuk-ibuk yang tadi, terus liat temen lo main gila di depan mata dan lo ... CUKUP!," Bisma membuat Qian tertawa keras mendengar gerutuan Bisma.
Tidak lama Reo pun sudah kembali dengan wajah sumringahnya. Dan duduk bersama mereka lagi.
"Malam ini gue mulai kerja di restoran. Jadi ini sisanya kalian aja, ya. Cuman dikit lagi, kok," terang Qian.
__ADS_1
"Kerja di mana?" tanya Reo penasaran dan diangguki oleh Bisma.
"Restoran. Gue jadi waiters nya di sana. Mayan lah buat tambahan." Ada gurat sedih di wajah Reo dan Bisma saat mendengar kata Waiters. Mereka tau betul bagaimana kehidupan Alqian dulu. Semua serba ada, tidak pernah kekurangan apapun. Tapi sekarang dia malah menjadi pelayan.
Mereka menatap Qian sendu. Tapi Qian malah tampak santai tak terlihat sedih atau apapun.
"Apa? Kenapa kalian liatin gue kek gitu?" tanya Qian bingung.
"Kita harus berkunjung malam ini, Mbim," ucap Reo kepada Bisma dengan senyum usilnya.
"Gue di sana cuman sebulan. Tapi mayan lah ya biar nggak di bilang pengangguran lagi sama kalian," seloroh Qian dan di sambut celoteh usil dari Bisma dan Reo.
"Halah, kerja part time juga. Paling 1-2 bulan lu disana. Habis itu ... Nganggur lagi," tawa Bisma bersama Reo.
"Udah, habis ini kita serius lah coba bangun perusahaan kita. Mumpung bokap gue mau modalin, nih. Ntar keburu berubah pikiran dia," sela Reo di sela tawa mereka.
"Ntar dulu lah, gue masih repot. Lo nggak liat bentar lagi anak gue lahir. Bisa kelimpungan gua nggak tau musti urus yang mana," tukas Qian.
__ADS_1
"Kalo soal surat menyurat, baik surat izin usaha dan yang lainnya, lo serahin aja sama kita. Tempat kan ... Nih si kampret atu katanya punya tempat kosong yang bisa kita pakek. Nggak tau dia nawarin gudang yang mana aja nanti, hahaha...," tawa Reo seraya mendorong kepala Bisma.
"Tenang. Tempat elite gue kasih," ucap Bisma sesumbar.
"Awas aja kalo gudang," ancam Qian seraya meminum minumannya dengan sorot mata mengancam. Bisma hanya menjawab nya dengan tersenyum nyengir.
Al-Qian Alatas
Veronica
Alzam Mahendra Alatas
__ADS_1