
Pagi-pagi sekali mereka sudah mulai bangun mempersiapkan semua. Qian dan Vero tampak riweh sedari pukul 5 pagi tadi, walau sebagian memang sudah Vero siapkan dari semalam. Paginya dia hanya tinggal mengerjakan sisanya saja.
"Ini asinya di sini dan makanan MPASI asinya semua sudah aku tarok disini. Nanti aku ke tempat kamu buat nengokin Rumi, ya," terang Vero sebelum dia masuk kamar mandi untuk mandi. Sedangkan Qian mengangguk sambil masih tampak sibuk dengan beberapa kertas desainnya tanpa menoleh ke arah Vero.
Selesai semua mereka segera bersiap untuk berangkat lagi dan ternyata mbok Yum pun sudah siap dan pergi bersama dengan mereka.
Dia menyambut Rumi dengan hangat. Rumi memang sering di titipkan padanya jika Vero sedang masak atau mandi. Karena memang posisi rumah mereka juga bersebelahan. Jadi mereka cukup akrab sebagai tetangga selama ini.
***
Di hari pertama masuk kerja Vero di sambut kangen oleh Mika dan yang lain. Mereka berpelukan tidak percaya jika akhirnya mereka masih bisa bertemu lagi di hotel ini lagi.
"Kangen banget, Ver," ucap salah seorang staf hotel seraya memeluk Vero senang.
__ADS_1
"Sama. Aku juga. Untung di izinin sama dia buat kerja lagi," ungkap Vero.
"Seneng banget liat Mbak Vero di sini lagi gabung sama kita," sambung yang lain.
Sosok Vero yang memang ramah dan supel membuat dia bisa akrab dengan siapapun. Dan kedatangannya pun di sambut oleh banyak karyawan yang mengenalnya.
Vero dan rekannya terus mengobrol hingga masuk waktunya untuk mereka kembali kepada tugas masing-masing. Vero tampak sangat antusias menekuni pekerjaan lamanya ini.
Vero segera menemui General Manager hotel.
"Iya, Pak. Saya sibuk urus anak dan nunggu dia besar sedikit supaya bisa di tinggal," terang Vero.
Tidak lama Vero pun selesai dengan urusannya dan keluar dari ruangan tersebut. Saat kembali ke lobby, Vero kaget melihat kedatangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ada apa, Mah?" tanya Vero menghampiri mertuanya dan duduk di kursi samping Maya.
"Dimana, Rumi?" tanyanya cepat saat melihat kedatangan Vero dengan expresi yang tampak khawatir.
"Ada sama Qian, Mah. Nanti siang dia antar Rumi kesini nemuin aku. Dan di sana juga ada Mbok Yum. Dia ikut bantu buat jagain Rumi dan sekalian kerja di sana," terang Vero membuat Maya memejamkan matanya tak habis pikir terhadap dua orang tua baru ini. Yang tampak sangat menyepelekan anak mereka yang masih bayi.
"Mama nggak tenang kalo Rumi di asuh kayak gitu. Kalo kalian nggak mau tarok dia di tempat penitipan yang memang sudah terjamin. Lebih baik kamu bujuk Qian, biar Mama yang asuh Rumi. Nanti kalo kalian pulang kerja kalian ambil lagi ke rumah sakit. Kalo di rumah sakit Mama kerjanya sedikit sekarang. Lebih banyak di kerjakan Alzam. Mama cuman praktek 3-4 jam setelah itu Mama luang," bujuk Maya penuh harap sekaligus sangat khawatir.
Vero bingung harus mengatakan apa. Qian sangat tidak ingin anaknya di asuh oleh ibunya.
"Tapi, Mah. Qian ... Dia ... Susah buat di ajak ngomong. Semalam aku juga udah bujuk dia. Tapi ya ... Gitulah,"
Maya menghela nafasnya panjang seraya mengusap wajahnya gusar.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih! Itu bayi. Masih rentan. Kenapa enteng banget nganggapnya. Kalo sakit bagaimana!" ucap Maya sangat khawatir dan duduk lemas di sofa.