Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Keras Kepala


__ADS_3

Jesika dan Alzam tengah duduk santai berdua di sebuah bangku. Jesika baru saja menyelesaikan tugasnya. Begitu pula dengan Alzam. Mereka duduk di sebuah ruangan berdua.


"Aku dengar cerita dari Mama kamu soal Qian sama kamu ribut kemarin," ungkap Jesika dengan tatapan serius kepada Alzam.


"Aku bukannya mau ikut campur urusan kamu. Cuman aku mau kasih tau kamu. Mau kamu tolak bagaimanapun. Qian itu tetap adik kamu dan Vero adalah istrinya sekarang. Dan apa yang kamu lakukan sekarang tidak membuat kamu lebih baik, tapi lebih buruk. Perlahan kamu mulai menjadi sangat manipulatif," tekan Jesika membuat Alzam tertegun. Dia diam tanpa menjawab.


"Aku tau Qian. Dia tidak akan menyerang orang lain kalau tidak ada pemicunya. Dia tidak suka di ganggu, tapi dia juga tidak gila untuk menyerang orang lain tanpa alasan," ucap Jesika lagi seolah tau sesuatu.


"Hah, terserah kamu. Ngasih tau orang yang udah dewasa itu memang susah," ucap Jesika mulai lelah dengan sikap Alzam yang masih tanpa reaksi, Jesika pun pergi dari sana meninggalkan Alzam sendirian merenung.

__ADS_1


***


Di sisi lain Qian dan teman-temannya seperti biasa tengah sibuk dengan pekerjaan freelance mereka yang mereka kerjakan bersama-sama itu. Kali ini mereka baru saja di datangi klien mereka yang super ribet.


"Ini di geser donk logonya," pintanya menunjuk layar laptop. Bisma menurutinya.


"Eh, kayaknya warnanya kurang ngena, ya. Coba di terang-in dikit," pintanya untuk kesekian kali. Bisma masih menurutinya. Qian dan Reo hanya memperhatikan interaksi antara klien dan sahabatnya itu seraya menahan tawanya dengan tetap sibuk pada pekerjaan masing-masing. "Kurangin dikit lagi, deh. Sama ini kayaknya kotaknya kurang simetris juga," pintanya yang hampir merombak 80% dari bentuk awal desainnya.


"Yaudah. Jadi deal sama yang pertama ya, Buk. Baik nanti kita keep yang itu. Jadi nggak ada yang perlu di rubah lagi kan." Dan di jawab setuju oleh si klien hingga akhirnya si klien pun meninggalkan mereka dengan Bisma yang mulai tak tertahankan.

__ADS_1


"ANJ***! GUE IKUTIN MAUNYA DARI TADI, KALO TAU GITU GUE BANTAH AJA TADI," rutuk Bisma yang tampak tengah di sabar-sabar kan oleh Reo.


"Udah-udah, itu orang tua. Jan jadi durhaka kayak temen kita," sindir Reo yang sontak membuat Qian melirik sekilas. Qian yang masih sibuk dengan desain si ibuk tadi pun mencoba untuk tidak terganggu dengan teman-temannya terlebih dahulu.


Saat tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mereka di kaget kan dengan kedatangan seorang pelayan yang mengantar capuccino yang lengkap dengan ukiran hati di atasnya.


"Buat mas Reo katanya, ini dari buk Kia," terang si pelayan. Membuat Qian dan Bisma melongo.


"Sejak kapan lo deketin itu juragan kafe?" tanya Bisma yang mulai teralihkan dari kekesalannya.

__ADS_1


Reo hanya diam tanpa jawaban. Malah sibuk chatting dengan seseorang yang bisa mereka tebak itu adalah Kia si pemilik kafe. Karena keduanya tampak senyum-senyum sendiri dengan sesekali saling lirik satu sama lainnya.


"Pantes dia maunya di kafe ini mulu," bisik Bisma kepada Qian. Qian hanya tersenyum seraya melirik sekilas kepada Bisma.


__ADS_2