Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Mulai Putus Asa


__ADS_3

Qian menatap Reo dengan tatapan dingin dengan sebuah map di tangannya. Betapa ingin ia memusnahkan manusia satu ini. Baru kali ini ia meminta tolong dan itu pun tidak mampu Reo lakukan dengan benar.


"Eh, bangsat!" panggil Qian tajam. Membuat Reo dengan cepat menoleh dan terpaku tidak berani melawan.


"Bisa-bisanya lo lupa nama gue, dari SD lo buntutin gue sekolah, sampe kuliah lo juga buntutin gue. Bisa-bisanya lo nggak inget sama nama lengkap gue," omel Qian naik pitam. Reo hanya bisa tertunduk.


Reo lupa menambahkan Al dalam nama Qian. Al-Qian Alatas dan dengan tololnya Reo menulis Qian Alatas, dan itu membuat kesalahan dalam penulisan nama ijazahnya, kerepotan Qian pun bertambah untuk mengurus kembali ijazahnya.


"Sebulan lagi, Qian. Apa salahnya." Reo masih berani membantah membuat Qian tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia langsung menyerang Reo dengan membabi buta dan Reo terus meminta ampun yang terdengar percuma.


Setelah lelah baru Qian berhenti, Reo pun sudah acak-acakan di buatnya. Karena memang Qian tidak melakukan dengan keras, hanya untuk meluahkan perasaan kesalnya saja.

__ADS_1


"Dia pasti udah berusaha buat hubungin gue. Pasti dia mikir gue menghindar." Qian meremas kepalanya yang mulai terasa berdenyut karena pusing.


"Yaudah, deh. Gue balik aja, dari pada runyam." Qian mulai nekad lagi.


"Eh, tolol. Pacaran itu biasa aja nggak kontak beberapa waktu, apalagi ini lo lagi di luar, hape ilang. Lo punya alasan buat di jelasin nantinya. Kenapa lo segitunya, sih? Lo punya janji apa sama dia? Apa lo hamilin dia? Segitu takutnya kehilangan kontak sama dia," ungkap Reo yang seketika membuat raut wajah tegang di wajah Qian.


"Kok tegang," selidik Reo. Qian berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing. Reo malah semakin menjadi ingin menggodanya. Sebuah tendangan Qian darat kan ke tubuh Reo yang terus semakin mendekatinya hingga dia terpental beberapa meter.


***


Siang itu Vero menceritakan semuanya kepada Mika sahabatnya. Mika tampak tak percaya.

__ADS_1


"Kamu gila, Ver? Dia itu berondong. Belum mapan, baik secara mental maupun materi. iya, sih, Dia emang ganteng, tapi dia kan baru lulus kuliah. Mau dia kasih kamu makan apa kamu? Pakek Kata 'i love you'?" sinis Mika tak habis pikir seraya bergelut dada.


"Makan tuh cinta!" sungut Mika yang sama sekali tidak membantu.


Vero hanya diam frustasi, Mika sama sekali tidak bisa memberi solusi.


"Mending kamu cari info aja, deh. Obat apa yang bisa gugurinnya!" isak Vero mulai putus asa.


"Itu anak manusia, Ver. Bukan kucing. Mending kamu pikir lagi, kalo kamu gugurin ini anak, kamu dapat apa? Yang ada kamu bisa-bisa mati konyol nanti. Trus dia? Ya, cari yang lain lah. Udah deh, mintak tanggung jawab dia aja," ingat Mika yang mulai ikutan pusing dengan permasalahan Vero.


"Kan udah aku bilang, dia nggak bisa aku hubungin udah seminggu ini," ujar Vero tambah kesal.

__ADS_1


"Sabar. Pasti dia hubungin kamu. Dia itu walau suka seenaknya tapi dia berpendidikan. Dia pasti paham tentang tanggung jawab. Ya, masalahnya kamu harus siap jadi tulang punggung keluarga aja kalo nikah sama dia." Vero menghela nafasnya kasar, dia sudah pasrah benar-benar pasrah dengan keadaannya ini


__ADS_2