Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Pembukaan Pagi Yang Hangat


__ADS_3

Pagi menjelang. Mentari mulai mengintip di balik pepohonan rindang. Semua orang mulai dengan aktifitasnya. Tapi tidak dengan sepasang pengantin baru.


Mereka berdua masih sibuk dengan selimut dan bantal. Tapi perlahan Qian mulai membuka matanya. Dia menoleh ke samping dan Vero masih sibuk dengan mimpi indahnya. Ia tersenyum melihat wajah istrinya di pagi hari itu.


Perlahan ia mulai mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Vero dan mencium lembut tengkuk Vero yang membuat Vero terbangun dari tidurnya.


Perlahan Vero membuka matanya dan menggeliat. Ia kaget mendapati Qian tengah mencumbunya. Dia tertawa kecil dengan tingkah suaminya ini. Ia membalas cumbuan Qian padanya dengan melingkar kan tangannya di leher Qian.


Dia membiarkan setiap sentuhan berani ini menjamah tubuhnya. Semakin lama semakin berani dan inilah pembukaan pagi mereka, di buka dengan percintaan penuh kehangatan.


Satu persatu pakaian yang mereka kenakan mulai terlepas dan berlanjut dengan adegan yang layaknya sepasang suami istri.


Ada rasa ngeri dan ragu di hati Qian, mengingat kini Vero tangah mengandung. Dia melakukannya dengan selembut mungkin dan berusaha untuk tak menekan perut Vero.


Setelah puas keduanya pun tertawa berdua. Qian kembali tidur di samping Vero.

__ADS_1


"Pagi!" suara serak Qian terdengar menyapa lembut di telinga Vero dengan sentuhan di tengkuk dan wajah membuat Vero menggeliat merasa geli.


Vero tersenyum dan membalik tubuhnya memeluk Qian erat. Lalu ia meringkuk di pelukan Qian seperti anak kucing yang mencari kehangatan kepada induknya. Dada bidang Qian yang kokoh mampu membuat dia nyaman berlama-lama di dekapannya.


"Hangat banget," lirih Vero di dekapan Qian dan kembali membalik tubuhnya membelakangi Qian dengan masih di dekapan suaminya itu.


Qian makin mempererat pelukannya. Dan meraba perut Vero yang masih terasa rata. karena memang kandungannya yang belum genap 4 bulan.


Merasa sudah cukup lama di ranjang, Vero pun mulai bangkit. Mencari selembar pakaiannya dan mengenakannya kembali meninggalkan Qian yang malah kembali tertidur.


Saat selesai dengan mandinya, Vero melihat suaminya itu malah tampak kembali pulas. Ia tidak mau ambil pusing. Setelah berpakaian rapih dia memulai kegiatannya di dapur.


***


Setelah membersihkan diri dan rapih, Qian keluar kamar mencari Vero. Tapi, dia tidak menemukan keberadaan wanita cantik itu.

__ADS_1


"Kak!" seru Qian.


"Iya! Aku di sini. Di kamar nenek," sahut Vero dari arah kamar neneknya.


Qian segera menuju ke sana. Ternyata Vero tengah sibuk menyusun barang-barang neneknya.


"Aku mau beresin semua pakaian nenek sama barangnya yang lain. Mana yang masih layak pakai nanti biar aku sumbang-in sama siapa yang mau. Terus sisanya yang nggak kepakek mau aku bakar dan buat aku simpan beberapa. Buat jadi kenangan dan obat kangen kalo lagi ingat nenek," terang Vero.


Qian duduk di samping Vero dengan pandangan yang terus ia edarkan ke sekitar kamar dengan pencahayaan redup ini. Masih terasa gelap walau di siang hari. Terus terang itu membuat Qian sedikit bergidik.


"Serem juga di sini, Kak. Aroma kematiannya kuat banget. Aroma kapur barus sama minyak angin," lirih Qian masih celingak-celinguk ngeri seraya memegang tengkuknya yang mulai merasa bergidik. Vero malah tertawa mendengarnya.


"Iya. Katanya kalo masih 40 hari biasanya rohnya masih di rumah. Mungkin aja nenek juga lagi liatin kita di sudut sambil ngumpat kamu kesal," goda Vero membuat Qian menatap Vero dengan tatapan dari atas hingga kebawah, terus keatas lagi.


"Apaan sih. Kenapa liatin aku kayak gitu!" seru Vero mulai merasa aneh dengan tatapan Qian. Qian tak berhenti melakukannya. Mulai merasa bergidik dengan kelakuan Qian Vero pun bangkit dengan setumpuk pakaian di pangkuannya.

__ADS_1


"Ih, udah ah. Kamu mulai gila," kekeh Vero lalu keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Qian yang langsung memeluknya dari belakang dan keduanya pun kembali tertawa.


__ADS_2