
Mereka menuju ruang makan. Di sana ternyata Vero sudah menyiapkan sarapan pagi mereka. Di meja sudah tersedia nasi goreng dan segelas susu hangat. Yang memang merupakan kebiasaan Qian yang selalu meminum susu coklat hangat di pagi hari.
Ini adalah kebiasaan Maya kepada anak-anaknya. Karena Qian tidak suka susu, maka untuk mengatasinya, Maya menggantinya dengan susu coklat. Saat tahu kebiasaan itu, Vero pun mengikutinya. Dia tidak ingin Qian merasa tidak nyaman jika kebiasaannya itu di ubah. Vero juga sempat takut jika Qian tidak nyaman dengan kebiasaan hidupnya yang sederhana.
"Kak, pagi ini aku mau jemput para pacar aku, ya. Mereka baru pulang dan manja minta di jemput." Vero mengernyitkan keningnya bingung dengan tatapan seolah meminta keterangan lebih dari Qian atas pernyataannya barusan.
"Reo sama Bisma nyampe hari ini. Jadi, sekitar jam sepuluh-an nanti aku jemput mereka di bandara. Kakak nggak usah ikut dulu ya, mereka resek. Ntar kakak di gangguin sama mereka," terang Qian membuat Vero tertawa keras.
Ternyata yang di maksud Qian pacar adalah teman-teman akrabnya. Vero pun mengangguk dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Hemmm... Nasi gorengnya enak. Ternyata kakak pintar masak juga," puji Qian membuat Vero mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Bayaran buat yang tadi pagi," bisik Vero menggoda. Qian menyipitkan matanya nakal. Vero menepis wajah dengan expresi tengil itu.
"Mmmm... Ia sih. Berondong memang biasanya di bayar sama tante-tante. Tapi, ini kayaknya belum cukup," goda Qian seraya menaikan alisnya dengan senyuman usil.
"Idih.... Kamu ih," seru Vero.
Mereka pun tertawa berdua. Sarapan pagi ini terasa sangat menyenangkan. Kehadiran Qian yang selalu penuh dengan canda membuat Vero terhibur dan mampu membuat dia melupakan duka kehilangan neneknya.
Tapi satu masalah besar sudah menunggu mereka. Uang tabungan mereka yang hilang masih belum di temukan. Apa mungkin ibu Vero yang mencurinya? Wanita licik itu pasti tidak akan mudah untuk diatasi.
Selesai sarapan Qian pun izin pergi menjemput temannya menggunakan mobil Vero. Vero mengantar kepergian Qian dari teras rumahnya. Setelah Qian pergi ia pun kembali masuk ke rumah.
__ADS_1
Dia menelpon seseorang.
"Bantu aku nemuin mama, Ya. Kalo aku pergi sama Qian aku takut dia buat masalah nanti," ungkap Vero kepada seseorang dari seberang telefon sana.
Dia tidak ingin Qian membuat keributan dengan ibunya. Dia takut ayah tirinya akan mengamuk lagi seandainya tahu dengan permasalahan ini. Ayah tirinya yang saat ini sebenarnya sempat bercerai dari ibunya, karena dia pelit walau kaya raya, juga suka main tangan jika sudah marah.
Karena itu, Vero saat bekerja dulu sering menyerahkan gajinya kepada sang ibu karena ingin ibunya bertahan dengan pernikahannya yang kali ini.
Walau pelit tapi, ayah tirinya ini sangat bertanggungjawab atas anaknya dan ibunya. Ajan tetapi soal uang ia yang pegang kendali penuh. Karena itu, jika ada masalah Vero sangat berhati-hati dalam mengatasinya tidak ingin ibunya di ceraikan lagi.
Walau bagaimanapun ibunya bukan wanita mandiri yang bisa mencari uang sendiri, dia sangat bergantung dengan suaminya itu.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Qian, Vero sudah bersiap-siap untuk pergi dengan dandan rapih dan cantiknya yang sangat menawan di tambah tampilan dress selututnya dan lengan panjang yang semakin membuat aura kecantikannya terpancar.
"Semoga ini nggak akan jadi masalah baru lagi," lirih Vero menarik nafas panjang sebelum pergi dan mulai mencari taksi sebagai transportasinya.