Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Terlihat Pelit


__ADS_3

Alzam menatap kepergian Qian dan vero dengan tatapan tajam, tangannya terkepal menahan perasaannya sendiri dan nafas yang tak beraturan. Tanpa ia sadari Jesika yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Alzam, terus memperhatikan cara Alzam menatap Vero dan Qian.


"Semakin kamu liatin semakin sakit hati kamu nantinya," celetuk Jesika mengagetkan Alzam seraya menepuk pundak Alzam pelan.


Alzam menoleh dan tersenyum ke arah Jesika. Wanita berambut keriting ikal ini memang selalu bisa menebak isi hati Alzam. Dia sangat mengenal Alzam, itu karena pengalamannya bersama Alzam yang hampir seumur hidupnya.


Dia hafal dengan semua tingkah Alzam. Alzam selalu kesulitan menutupi rahasianya dari Jesika.


"Nggak. Aku cuman penasaran. Kapan dia bosan dengan permainan rumah-rumahannya. Anak itu seperti bom waktu," ungkap Alzam.


"Aku malah lihat sebaliknya. Vero kelihatan sangat bahagia bersama Qian. Waktu Vero di rawat di sini kemarin Qian kelihatan bisa jagain Vero dengan baik." Alzam menatap Jesika tak suka.


Dia tidak setuju dengan pernyataan Jesika barusan. Karena baginya tidak ada yang bisa membahagiakan Vero sebaik dirinya, apalagi seorang Qian yang urakan dan berandalan tengil itu.


"Hmmmhhh...." Jesika bergumam dan berdiri di samping Alzam seraya memasukkan kedua tangannya kedalam kantung jas putih seragam kedokteran nya. "Berhentilah, Zam. Itu cuman akan nyakitin hati kamu," lirih Jesika tanpa menatap Alzam dan berlalu begitu saja dari hadapan Alzam.


***

__ADS_1


Sebelum pulang, Qian dan Vero mampir di sebuah toko terdekat untuk membeli sesuatu. Seperti sebuah store yang menjual pakaian lengkap dan cukup besar serta mewah.


Mereka mulai memilah-milah beberapa pakaian untuk Vero karena Vero saat ini butuh banyak pakaian daster terusan untuk ia kenakan atau pun dress terusan.


Saat sedang asyik memilah-milah pakaian tiba-tiba mereka kedatangan Mama Jill. Wanita seksi dengan tampilan makeup tebalnya yang mencolok.


"Hai sayang. Kamu belanja juga?" sapanya mengagetkan Vero yang langsung terlonjak.


"Kamu kayak ketemu setan saja. Kebetulan ya kita ketemu di sini. Suami kamu mana? Mama kasih uang kamu yang Mama pakek kemarin sama dia. Apa dia sudah kasih tau?" tanya Mama Jill seraya membantu Vero memilah-milah daster yang cocok.


"Nah, ini cocok sama kamu," ungkapnya seraya memantaskannya ke tubuh Vero


"Yaudah. Mama cuman mau pastiin itu. Oya, buat kaki kamu yang mulai bengkak itu coba jangan terlalu banyak duduk kamu. Gerak lebih aktif. Mama hamil kamu dulu juga gitu," ungkapnya seraya melangkah pergi berjalan diantara tumpukan gantungan pakaian.


Vero hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya itu dengan beberapa helai pakaian yang berada pada Vero.


Vero juga heran kenapa dia sekarang tidak meminta uang lagi kepadanya. Apa karena dia tidak bekerja lagi? Padahal dulu hampir setiap hari Vero gajian dia datang ke hotel meminta jatah untuknya hingga Vero harus pas-pasan karena uangnya yang selalu di mintai olehnya.

__ADS_1


"Kenapa Mama kamu pergi cepet banget?" tanya Qian yang baru datang dari toilet.


"Nggak tau," jawab Vero singkat. Mereka pun kembali melanjutkan memilih pakaian yang hendak mereka beli setelah selesai mereka pun pulang.


***


Sesampai rumah Vero ingat dengan pernyataan ibunya untuk memintanya lebih aktif. Dia pun memutuskan untuk memasak beberapa menu lagi malam ini walau mereka sudah membeli makanan jadi tadi di restoran. Mungkin ibunya benar. Vero kurang gerak. Hampir setiap hari sebagian pekerjaan rumah Qian kerjakan sebelum ia berangkat bekerja.


"Panggil aja teman kamu makan malam di sini. Terus bikin kerjaannya di sini saja jangan di luar, di luar habisin uang lagi buat jajan di kafe seharian kan nggak mungkin kalian pesannya cuman minuman satu saja." Vero terdengar agak perhitungan di telinga Qian. Ia mengernyitkan keningnya.


"Kakak sudah mulai keluar jiwa pelit ibuk-ibuknya sekarang," celetuk Qian seraya menikmati sepotong buah segar yang baru Vero kupas. Vero hanya menatap Qian sekilas lalu kembali dengan kegiatannya.


"Yaudah, besok aja aku panggil mereka. Malam ini aku ada keperluan lain," ungkap Qian.


"Kakak masak gini mumbazir banget, Loh. Yang makan cuman kita berdua," celetuk Qian lagi seraya melangkah pergi ke kamarnya.


Vero menatap meja makan. Benar juga, sekarang meja makan penuh dengan menu makanan, baik yang di pesan di restoran tadi maupun yang baru Vero masak barusan. Apalagi Qian makannya juga sedikit, mana mungkin mereka bisa habiskan berdua.

__ADS_1


"Hmmm... Yaudah, deh. Aku habisin sendiri aja," gumam Vero.


Belum lagi ia menyuapkan makanannya tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Vero pun segera keluar untuk membuka pintu. Ternyata itu Mama Jill.


__ADS_2