
Di pagi itu Alzam tampak tengah dapat jadwal mengunjungi sebuah panti asuhan. Sebenarnya, ini adalah acara amal yang sering diadakan oleh pihak Alatas Medical Center. Memberikan pelayanan kesehatan gratis dan beberapa makanan dan mainan yang mereka bawa sebagai oleh-oleh.
Saat mereka baru turun dari mobil, mereka di sambut antusias oleh anak-anak panti. Mereka berhamburan keluar menyambut kedatangan mereka. Dan ada juga pengurus panti yang datang langsung menyambut kedatangan mereka.
Alzam sangat menikmati rutinitas yang sering diadakan enam bulan sekali ini. Dia selalu antusias melakukannya. Ini salah satu panti yang sering mereka kunjungi untuk kegiatan amal. Beberapa anak bahkan sudah mengenali Alzam dengan sangat baik.
Mereka menyambut senang kedatangan Alzam dan timnya. Alzam yang ramah dan lembut membuat anak panti yang memang sangat merindukan kasih sayang orang tua itu menjadi sangat manja kepadanya. Bahkan salah satu bayi berusia 2 tahun di panti itu sampai tidak mau lepas dari gendongan Alzam.
Dia memeluk erat Alzam tak ingin lepas, walau sudah di bujuk dengan berbagai cara oleh pengurus panti.
"Tidak apa-apa, Bunda. Biar saya gendong dia," ucap Alzam kepada sang pemilik panti yang tampak tidak enak dengan tingkah anak-anak pantinya.
"Duh, anak-anak sini suka sekali ngerepotin pak dokter," kesahnya tidak enak hati. Alzam hanya tersenyum. Dia benar-benar tidak merasa direpotkan, bahkan dia merasa sangat senang bisa di terima dengan sebegitu hangatnya oleh anak panti.
"Tidak. Saya suka. Mereka tidak merepotkan," ungkap Alzam meyakinkan. Bahwa dia sama sekali tidak merasa terganggu.
Dari kejauhan Jesika yang memperhatikan interaksi Alzam dan anak-anak panti itu merasa sedikit kagum. Sisi kebapakkan Alzam semakin terlihat saat dia dekat dengan anak-anak panti. Dia samasekali tidak terlihat canggung saat anak-anak itu mulai mengeroyoknya dengan berbagai permintaan dan mengajaknya bermain bersama.
'Bisa-bisanya Engkau tak mempercayai seorang anak kepadanya, Tuhan? Dia sangat mampu untuk mendidik dan membesarkan seorang anak,' batin Jesika. Mata Jesika tak bisa lepas dari sosok lembut dan penyayang Alzam saat ini.
***
Setelah selesai, Jesika dan Alzam duduk berdua beristirahat di sebuah bangku di lorong panti.
"Kamu capek? Aku lihat tadi kamu main-main terus sama anak-anak tadi. Kamu kelihatan lebih baik sekarang," ungkap Jesika.
Alzam menarik nafas dalam dan bersandar pada sandaran bangku seraya memasukkan kedua tangannya pada kantung jas putih seragam dokternya.
__ADS_1
"Aku cuman mencoba alihkan perhatian aku ke hal yang lain. Buat aku untuk nggak terlalu peduli lagi, dan tidak terlibat lagi. Entah kenapa rasanya jauh lebih nyaman," ungkap Alzam.
"Iya. Semakin kamu peduli, maka semakin sakit kamu. Dan itu merubah kamu jadi buruk," tambah Jesika. Alzam mengangguk setuju.
Mereka masih terus mengobrol. Membahas banyak hal yang membuat tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat.
***
Di sisi lain Vero masih tampak mendiamkan Qian. Mama Jill yang mengetahui hal itu mulai mengajak Vero mengobrol saat dia menemani Vero jalan-jalan pagi itu.
"Tidak semua hubungan itu bisa berjalan baik. Kamu harus memahami juga kalau salah satu hubungan yang tidak bisa berjalan baik itu adalah hubungan suami dan mertuamu. Mereka kelihatannya menjalin hubungan yang cukup rumit. Kamu tidak bisa menilai dari satu pihak saja," ungkap Mama Jill menasehati Vero.
Vero menatap ibunya sambil terus berjalan mengelilingi lapangan bola yang cukup luas itu.
"Dia selalu bertentangan dengan ibunya walau ibunya sudah mulai melunak. Kalau terus-terusan seperti ini kapan mereka mau baikannya, Mah," keluh Vero.
Vero mulai tertarik mendengarnya.
"Ibunya tampak tidak melihat dari kedua belah pihak. Terlihat di sana kalau ibu mertuamu itu selalu memihak Alzam dan terbiasa menyalahkan Qian, suamimu Vero. Mungkin luka seperti itu sudah lama dia simpan. Tenang saja, mereka akan berbaikan suatu hari nanti jika hati mereka sudah bisa saling memaafkan. Seperti Mama dan kamu," ungkap Mama Jill dengan seulas senyuman. Vero membalasnya dengan rangkulan di pinggang ibunya manja.
Mungkin benar. Qian dan ibunya hanya butuh alasan untuk saling memaafkan. Mungkin suatu hari nanti hubungan mereka akan membaik lagi. Atau akan baik suatu saat nanti dengan alasan yang benar.
***
Di rumah Qian tampak mulai merasa lapar. Dia melihat makanan yang sudah terhidang di meja makan. Walau kesal Vero tetap menyajikan makanan untuk nya.
Tidak lama Vero pulang tepat saat Qian baru selesai dengan sarapannya. Saat melihat Vero mengambil minuman di kulkas tiba-tiba muncul ide iseng Qian.
__ADS_1
"Hmmm... Baru lahiran pertama. Badan udah melar aja kayak badak. Gimana nggak suaminya selingkuh, mana galak lagi," komentar Qian seperti mereaksi sebuah vidio di tiktok dengan handphone nya yang ia letakkan di meja.
Tiba-tiba terdengar sebuah hentakkan gelas di meja cukup keras.
TAK...
Qian menoleh sekilas dan tersenyum usil melihat senyuman kesal Vero.
"Iya, iya... Aku yang akan cuci piring," ucap Qian pura-pura tidak tahu dengan alasan kemarahan Vero.
Vero menatap tajam ke arah Qian. Malah membuatnya semakin kesal melihat wajah tengil yang sangat tampan itu dan mengingat komentarnya tentang wanita yang baru melahirkan tadi. Vero merasa Qian akan mencampakkannya seperti itu nantinya jika dia juga melar.
'Kayak badak katanya,' batin Vero marah tapi tak bisa mengungkapkannya.
Dia berjalan menuju kamarnya dan duduk di ranjang masih dengan wajah yang di tekuk. Sesaat mata Vero tertuju kepada sebuah cermin. Ia berdiri dan mulai menatap pantulan tubuhnya di sana.
"Qian nyebelin," lirih Vero yang tanpa terduga Qian malah masuk kamar dengan senyum usilnya menatap Vero.
Vero mantap Qian yang semakin mendekat kearah nya. Dan tiba-tiba memeluknya. Dari belakang dengan posisi Vero yang masih menatap pantulan tubuhnya di cermin.
"Aku bercanda. Mau Segede badak atau gajah sekalipun. Aku nggak akan berpaling. Aku hanya mau Veronica yang menjadi istriku. Reo aja bilang mirip dillraba cantiknya. Masak masih mau selingkuh," goda Qian. Membuat Vero menangis kesal. Qian malah tertawa melihat tangisan kesal Vero yang terlihat sangat lucu di matanya.
"Kamu ngeselin," ungkap Vero.
"Siapa suruh cemberutin aku dari semalam sampe pagi ini mukanya masih kayak jeruk purut," ledek Qian.
"Iiihhh...," seru Vero seraya mencubit pinggang Qian kesal, yang di sambut oleh Qian dengan tawa. Mereka akan bertengkar lalu akan berbaikan dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Mama Jill yang kebetulan mendengar suara tawa canda mereka dari luar hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah suami istri itu.