
Qian dan Vero bangun kesiangan hari ini. Mereka buru-buru mempersiapkan semua. Bahkan Vero tidak sempat lagi membereskan rumah mereka yang berantakan lagi pagi ini.
Dia bangun buru-buru membuat makanan MPASI untuk anaknya. Sedangkan Qian buru-buru mengecek kembali semua berkas pekerjaannya. Dia akan melakukan rapat bersama ayah Reo pagi ini. Mereka memiliki proyek besar bersama ayah Reo, untuk membahas hasil kerja mereka selama ini.
Karena perusahaan keluarga Reo itu akan membuat produk baru dan mereka memakai jasa Qian dan tim sebagai desain grafis logo produk dan semua yang berkaitan dengan produk baru mereka. Dan sialnya Qian malah keteteran pagi ini.
Walau itu adalah orang tua sahabatnya sendiri, Qian tetap tidak mau terlihat tidak profesional. Dia ingin terlihat maksimal. Apalagi ini bisa menjadi salah satu kesempatan besar untuk mereka bisa mengembangkan potensi perusahaan mereka jika mereka sukses memasarkan produk tersebut sebagai bagian dari tim desain grafis produk tersebut.
Vero yang sedari tadi tergopoh-gopoh sendiri mengurus anaknya menjadi agak kesal dengan Qian yang malah sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Dengan sedikit kasar Vero langsung meletakkan Rumi ke pangkuan Qian yang tengah sibuk dengan laptop dan berkasnya. Dia hanya menatap kepergian Vero sekilas lalu menatap Rumi yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Apa? Jelek banget sih kamu," ucap Qian datar dan di sambut tawa renyah Rumi yang malah mengira ayahnya mengajaknya bercanda.
"Nggak usah ketawa. Lagi repot ini. Gara-gara si tante semalam aku keteteran kerjaannya, ketiduran sampe pagi. Tau!" curhat Qian kepada bayi 7 bulan itu yang kembali di sambut bayi itu dengan celoteh riangnya.
"Ketawa lagi," ucap Qian pura-pura marah dan berbarengan dengan pekerjaannya yang juga baru selesai. Lalu membawa bayi 7 bulan itu keranjang dan mulai mengajaknya bermain di ranjang seperti mengajaknya bertarung.
Rumi yang paham betul dengan gaya ayahnya ketika mengajaknya bermain malah semakin keras tawanya kegirangan. Itu membuat Qian semakin menjadi bermain bermain bersamanya.
Hingga tiba-tiba terdengar seruan dari Vero.
"Kalo kamu udah selesai kerjaannya mending kamu bantuin aku mandiin dia. Aku bener-bener kewalahan ini. Kamu juga cepetan mandinya donk. Ini sebentar lagi juga udah jam setengah tujuh. Aku bisa telat," seru yang baru keluar dari kamar mandi Vero panik.
"Hah! Yuk mandi bareng!"
Qian dengan malas segera membawa Rumi ke kamar mandi dan mereka malah mandi bersama berdua.
"Qian! jangan kelamaan!" seru Vero lagi yang masih sibuk dengan dandanannya persiapan sebelum bekerja.
"Apalah, sibuk amat pagi-pagi juga," gumam Qian seraya membuka baju anaknya dan mulai memandikannya dengan air hangat yang ternyata sudah Vero siapkan.
__ADS_1
Selesai memandikan bayi itu, kini giliran Qian lagi yang mandi dengan meletakkan bayi itu di baby walkernya yang kebetulan Qian bawa ke kamar mandi juga.
Tanpa basa-basi Vero yang baru selesai make up langsung mengambil Rumi kekamar mandi tanpa peduli Qian yang juga tengah mandi di shower.
"Eh, nggak tau malu, main nyelonong masuk aja, orang lagi mandi juga," ucap Qian yang langsung mengambil handuknya karena memang kebetulan dia juga baru selesai mandinya.
"Kamu juga gila. Anak habis mandi bukannya di pasangin baju dulu malah di taruh di baby walker gini, kan dingin dia," omel Vero. "Kalo demam kamu yang aku suruh begadang jagain dia," ucap Vero lagi seraya melipir keluar kamar mandi dan di ikuti Qian yang juga kebetulan baru selesai mandinya.
"Dia di titip sama Mama aja, ya. Kamu kan ada rapat pagi ini. Aku juga kerja, mbok Yum lagi sakit jadi nggak bisa datang. Jadi, dia sama Mama aja, ya," terang Vero seraya mengenakan pakaian Rumi.
Qian tidak menjawab. Dia seolah tak mendengar. Vero melihat expresi datar Qian. Terlihat jelas jika Qian tengah kesal.
"Kan sebentar juga. Nanti kamu habis rapat ambil dia di tempat Mama. Aku udah ngomong sama Mama tadi."
"Nggak, nggak, nggak. Kakak aja yang ambil dia nanti. Aku ada acara habis itu," ungkap Qian yang kini sudah terlihat rapih dengan stelan pakaian formal kerjanya.
"Qian. Ayolah, jangan kayak gini terus sama Mama kamu," ucap Vero mendekati Qian.
"Mana bisa. Aku udah telat ini. Kamu aja yang antar Rumi ke sana habis kamu antar aku ke hotel" ucap Vero. Qian diam tanpa jawaban.
"Qian?!" panggil Vero karena lama tak mendapat respon dari Qian.
"Terserah lah. Liat nanti gimana," ucap Qian seraya mengambil perlengkapan Rumi dan dirinya ke mobil untuk di bawa, lalu bersiap akan berangkat. Vero mendengus nafasnya panjang.
"Bapak kamu keras kepala," ucap Vero kepada Rumi yang di sambut bayi 7 bulan itu lagi-lagi dengan tawa renyahnya.
***
Selesai mengantar Vero ke tempat kerjanya, Qian pun lanjut perjalanan. Tapi baru saja Qian sampai. Dia sudah melihat ibunya yang tengah menunggu di depan lobby rumah sakit. Qian pun dengan cepat segera mengendap-endap. Dia tampak celingak-celinguk mencari seseorang. Hingga ia melihat Jesika yang ternyata juga baru datang.
"Hei ... heh ... Psssttt... Psssttt...," kode Qian tapi tampaknya tidak di dengar oleh Jesika. Qian pun mengambil sebutir batu kecil dan menimpuknya ke arah Jesika hingga mengenai kepala gadis itu.
__ADS_1
"Au... Siapa sih yang iseng," seru Jesika kesakitan. Saat menoleh dia melihat Qian tengah berdiri tak jauh darinya. Dia tampak mengendap-endap di antara mobil-mobil yang terparkir. Qian segera melambaikan tangannya mengkode Jesika untuk mendekat.
Jesika dengan malas pun segera mendekat. Dia melihat bayi mungil yang ada di dekapan gendongan Qian dengan sebuah tas yang lumayan besar. Baru beberapa langkah ia mendekat. Qian langsung menyandangkan tas ke leher Jesika dan menyerahkan Rumi beserta gendongannya begitu saja tanpa basa-basi. Jesika yang belum paham keadaan hanya bisa plongak-plongok.
"Udah sana. Serahin dia sama si wizard itu," ucap Qian seolah mengusir. Untung Rumi tidak menangis. Bayi itu sibuk mengemut tangannya dan tidak paham dengan apa yang ayahnya lakukan kepadanya.
"Serahin Sendiri kenapa?"
"Ogah! Udah sana,"
"Itu bokap lo, ngomong sama dia sana. Itu dia nungguin."
"Bodo. Udah sana cepetan. Gue mau kerja lagi," ucap Qian yang sudah bebas dan langsung masuk mobil meninggalkan Jesika tanpa sempat Jesika hentikan lagi. Rumi yang melihat kepergian ayahnya meninggalkannya seketika langsung pecah tangisnya.
"Oh, sayang jangan nangis. Papa nakal, ya? Oh, cup, cup, cup...," bujuk Jesika kepada bayi 7 bulan itu.
Ia pun mau tidak mau segera membawa Rumi menemui Maya.
"Loh kok sama kamu?" tanya Maya heran melihat Rumi yang tengah menangis di gendongan Jesika.
"Tadi Qian yang serahin sama aku tante."
"Terus sekarang dia dimana?"
"Udah pergi! Katanya buru-buru dia ada kerjaan."
Terlihat ada guratan kesedihan di wajah Maya. Ternyata Qian masih saja menghindari nya.
"Yasudah. Sini Rumi nya," ucap Maya lalu mengambil Rumi yang tengah menangis dari gendongan Jesika. Dan Jesika menyerahkan tas bawaan Rumi kepada asisten Maya.
"Oh, cucu kesayangan oma. Papa nakal ya. Bisa-bisanya dia pergi ninggalin anaknya nangis gini," omel Maya.
__ADS_1