
Setelah kelayapan kesana-kemari tak jelas Qian pun pulang. Rumah sudah terlihat sepi, lampu-lampu yang sudah di padamkan. Qian mencoba mengebel beberapa kali hingga seseorang membukanya.
Tampak sosok Alzam yang datang membukanya.
"Mas belum tidur?" tanya Qian melihat sang kakak masih terlihat rapih belum tersentuh bantal dan selimut.
"Belum. Tadi Mas juga baru nyampe rumah," terangnya.
Mereka pun berjalan ke lantai atas menuju kamar masing-masing berbarengan. Qian melihat gelagat aneh dari kakaknya.
"Mas kenapa?" Alzam tersenyum seraya menggeleng.
Qian tau pasti jika kakaknya tengah memikirkan sesuatu. Tapi dia juga tidak ingin memaksa jika memang kakaknya tidak mau cerita. Ia pun segera mengambil langkah melewati sang kakak begitu saja. Baru beberapa langkah ia melewatinya. Alzam sudah memanggilnya.
__ADS_1
"Qian!" serunya membuat Qian menghentikan langkahnya dan menoleh kearah kakaknya.
"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanyanya.
Qian mengangguk dengan tatapan bingung. Mereka pun menuju ruang keluarga berdua dan duduk di sebuah sofa yang biasanya mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama.
"Menurut kamu nikah itu harus nggak?" tanya Alzam membuat Qian mengernyitkan keningnya.
"Ya ... Iya, tergantung? Kalo di umur aku segini pastinya belum siap, tapi kalo seumur mas Alzam pastinya udah seharusnya. Mau nunggu apalagi? Udah kerja, udah cukup umur, dan Mama juga udah tua. Makin hari makin sering ngomel dan medit plus nyebelin. Minta beli motor aja pakek acara nunggu lama, dan ...," ucap Qian terputus.
"Jadi, menurut kamu penting, ya. Tapi, Mas takut kayak Mama Papa dulu. Mereka saling cinta tapi malah bercerai. Mas takut kayak Mama, tersiksa sama perasaan sendiri," ungkap Alzam.
"Itu mah mereka berdua aja yang lagi ketemu pasangan yang nggak tepat ...," ucapan Qian lagi-lagi di potong Alzam.
__ADS_1
"Nah itu maksud Mas. Mas takut salah pilih, Mas takut gagal. Mas cinta sama dia, tapi Mas masih ragu,"
"Menurut aku ya Mas. Mama sama Papa itu beda. Mereka itu dari awal udah nggak cocok tapi maksa buat sama-sama juga. Beda karakter, papa suka ngatur Mama terlalu mandiri. Beda agama juga, jadi jelas di tentang keluarga lah. Mas lupa ya, nenek itu mulutnya racun. Dia selalu toxic di hubungan Mama Papa gara-gara soal agama. Status sosial. Dan banyak hal. Akibatnya apa? Mama cerai sama papa tapi nyimpan cinta di hati masing-masing. Seharusnya, kalo emang udah beda dari awal ya jangan di terusin sampe punya kita berdua. Mereka berdua itu, benci-benci tapi tetap aja bikin kita berdua. Kan Babi namanya," sungut Qian membuat Alzam tertawa sekaligus bingung.
"Lagian nenek itu jahat. Aku kalo di sana deket-deket sama Papa dia pasti resek. Makanya kalo lagi di sana aku nggak suka deket banget sama papa. Pasti jaga jarak, biar nggak terlalu akrab. Takut di nyinyirin sama dia,"adu Qian seperti anak kecil.
"Oh, ya?" seru Alzam terkekeh tak percaya. Karna setelah ayahnya menikah lagi atau bahkan sejak kecil, Alzam tidak begitu akrab dengan ayahnya. Jadi dia tidak begitu paham dan tau dengan kelakuan neneknya. Alzam sering di ingatkan soal ini oleh ibunya. Berbeda dengan Qian, jika ibunya larang maka dia akan lakukan.
"Cobain aja mas deket sama papa. Pasti reaksinya nyebelin. Pantas kalo Mama nggak betah nikah sama papa. Nenek kita itu toxic gila," umpat Qian.
"Udah, ah. Kamu ngawur kalo di ajak serius," ucap Alzam yang merasa salah pilih orang untuk curhat. Qian hanya tertawa melihat reaksi tidak puas sang kakak.
Puas bercerita dan bercanda berdua, kakak beradik itu pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Meski di kamar Alzam tidak langsung tidur. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia lelah dan tertidur dengan sendirinya.