Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Meminta bantuan Maya


__ADS_3

Paginya Vero heboh lagi. Dia membangunkan Qian yang tengah pulas tertidur dan dengan keadaan masih linglung ia mencoba membuka matanya.


"Qian! Gimana ini?" ucap Vero panik. Qian yang baru tidur beberapa jam mencoba terbangun dengan menahan kantuknya.


"Nggak papa, Kak. Emang gitu kalo demam. Kan udah aku bilang 3 atau 4 hari nanti juga sembuh," ucap Qian masih memejamkan matanya seraya duduk. Karna masih terlalu mengantuk Qian pun kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan tidur.


Sedangkan Vero masih terus panik sendiri, karna ini pertama kalinya Rumi sakit sejak ia lahir. Vero terus melakukan segala upaya untuk menenangkan bayinya. Menggendong menyusui. Bahkan mengompresnya dan memberi obat. Turun sebentar lalu kembali naik lagi. Terus begitu hingga siang menjelang.


"Kamu jangan pergi kerja dulu, ya," pinta Vero kepada Qian yang baru selesai mencuci wajahnya di kamar mandi. Qian diam tak menjawab. Dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Padahal dia sekarang tengah di kejar deadline.


Dengan terpaksa Qian menyelesaikan semua hanya dari rumah. Dia bekerja melalui aplikasi Zoom dengan rekannya, atau melalui telepon. Agak merepotkan tapi apa boleh buat. Sedangkan Vero masih terus menggendong bayi mereka kesana kemari, karena memang Rumi tengah rewel saat ini.


Qian melirik sekilas kesibukan ibu muda itu lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Tampaknya Vero tengah sengaja hilir mudik di hadapannya. Entah sekedar ingin mencari tempat yang nyaman, atau dia tengah meminta sikap peka Qian.


"Telfon mama aku aja kali, ya, Qian. Ini Rumi kasian dari kemarin demam terus," ucap Vero khawatir. Qian melirik sekilas. Dia sedikit kesal karena Vero terus mengganggu fokus kerja. Padahal dia tengah menyelesaikan pekerjaan nya yang cukup mendesak juga saat ini.


Mama Jill saat ini memang tengah tidak di rumah. Dia sudah di jemput Ferdi pulang bersamanya kemarin. Karena itu Vero menjadi merasa sendirian di rumah dan mencegah Qian untuk bekerja hari ini.


"Nggak papa, Kak. Nanti juga sembuh. Kakak mah, heboh banget," seru Qian masih berkutat dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Vero yang melihat reaksi santai Qian mulai merasa kesal. Dia mendengus nafasnya kesal menatap Qian nyalang.


Tapi di saat yang tidak tepat itu tiba-tiba terdengar pintu di ketuk seseorang tepat saat Vero menyusui Rumi.


"Qian. Tuh ada yang ketuk pintu," seru Vero yang masih menyusui bayinya. Qian menoleh kearah sumber suara dan bangkit dari posisinya. Ia pun melangkah membuka pintu.


Sesaat wajah Qian langsung berubah masam saat melihat siapa yang datang pagi-pagi ke rumahnya hari ini. Dia lah Maya. Dia datang karena di beri tahu Vero tentang keadaan anaknya semalam melalui pesan singkat.


"Kenapa?" tanya Qian dingin.


"Aku mau jenguk cucuku," ujar Maya tenang. Dia tau betul Qian pasti tidak akan mengizinkannya.


"Oh, kamu sudah tukar darah tidak O+ lagi? Apa darah DNA Arial Alatas sudah di keluarkan dari tubuhmu?"


Qian menatap datar dengan sorot mata dingin.


"Kau mengusirku. Kau bilang aku bukan anakmu. Jadi, tidak perlu terlibat apapun yang berhubungan denganku lagi. Kehidupan kami baik tanpa campur tanganmu," tukas Qian.


"Kau lupa pada siapa kau mengadu saat istrimu sekarat? Atau siapa yang membesarkanmu sampai bisa pintar bicara seperti ini?" Maya mulai tersulut amarah mendengar pernyataan Qian barusan. Tepat saat Vero pun baru datang.

__ADS_1


"Mah, masuk. Qian lagi gila sekarang. Jangan di ambil hati," tutur Vero menyela seraya menarik tangan ibu mertuanya untuk masuk ke rumah. Qian hanya diam melihat Vero dengan tatapan tajamnya bak elang kepada Qian.


"Aku yang mintak Mama datang buat lihat kondisi Rumi. Kamu kayak kurang peduli sama sakit Rumi dari kemarin," terang Vero.


Maya menahan tawanya melihat Qian kalah suara. Sedangkan Qian semakin kesal saja di buatnya. Ia pun segera mengambil perlengkapan kerjanya ke kamar sebelah dan bersiap untuk pergi. Vero hanya bisa mendengus nafasnya panjang melihat tingkah suaminya itu.


Maya mulai paham. Ternyata Arial benar. Vero wanita yang tepat untuk Qian. Dia seperti rem yang bisa buat Qian menahan dirinya dengan sendirinya. Ternyata hanya cinta yang dapat membuat seorang Al-Qian tunduk dan patuh.


Tidak lama Qian pun kembali masuk kamar Vero untuk mandi dan bersiap. Selesai dan sudah rapih ia mengambil kunci mobil Vero. Maya sempat heran melihat Qian mau membawa mobil Vero yang sangat girly, tidak seperti kebiasaan Qian yang selalu menghindari semua yang berbau feminim.


"Motor Qian mana?" tanya Maya seraya memeriksa keadaan Rumi menggunakan stetoskop nya.


"Dia jualnya, Mah. Aku aja nggak di kasih taunya kapan dia jual. Buat modal usahanya dan sebagian buat bayar uang rumah sakit lahiran aku waktu itu juga," ungkap Vero.


Maya mulai merasa miris. Ternyata selama ini Qian tidaklah baik-baik saja. Dia hidup kekurangan. Padahal selama ini dia terbiasa hidup berkecukupan. Sesuatu yang luar biasa jika Qian bisa survive dengan baik atas keadaannya. Maya masih ingat bagaimana Qian bahkan bersedia menjadi waiters di sebuah restoran dan bekerja keras selama ini.


'Dia benar-benar mencintai kamu, Vero. Sepertinya Alzam salah mengira jika cinta Qian dangkal. Ternyata cinta Qian sangatlah dalam,' batin Maya dengan seulas senyuman hangat menatap cucu tampannya.


"Ganteng banget sih kamu. Pintar juga Qian bikin anak, ya," goda Maya mencium gemas bayi 3 bulanan di dekapannya saat ini. Sontak pernyataan Maya membuat Vero tertawa.

__ADS_1


__ADS_2