Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Sulit Untuk Di terima


__ADS_3

Suasana hening, Alzam menunggu sang ibunda buka suara. Entah apa yang ingin ia sampaikan.


Maya menatap putranya itu serius. Ia menarik nafas dalam.


"Papa nemuin Mama tadi. Dia bahas tentang Qian, dan ... Bukan itu intinya. Dia bahas tentang kamu. Kamu pernah lakukan pemeriksaan tentang kesuburan kamu. Dan kamu di nyatakan ... Sulit untuk ...," ucap Maya yang seketika membuat Alzam tercekat dan menahan nafasnya sesaat.


"Kenapa, Alzam? Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Mama tentang hal penting kayak gini? Kenapa kamu sembunyikan fakta kayak gini dari Mama?" seru Maya.


"Karna ... Aku takut Mama akan sulit buat terima kenyataannya. Mama selalu menuntut aku sempurna. Aku takut Mama kecewa. Aku takut Mama marah," ungkap Alzam.


"Iya! Mama kecewa sama kamu. Kamu tidak bisa terbuka sama Mama. Kamu lebih milih menutupi semuanya dan ... Ini alasan kamu tolak semua perempuan yang Mama kenalkan sama kamu?" Alzam tidak menjawabnya, dia diam sejenak. Menarik nafasnya menyiapkan dirinya atas sebuah jawaban.


"Mama selalu menuntut kami sempurna. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan kekurangan aku. Apa Mama mau mendengarnya atau menerimanya? Seperti Qian? Apa Mama akan perlakukan aku seperti Qian? Apa Mama akan buang aku seperti dia?" sinis Alzam untuk pertama kalinya dia bersikap begitu berani kepada ibunya. Maya terpaku, dia tidak pernah tau jika sikapnya selama ini ternyata sudah sangat membebani anak-anaknya.


"Sudahlah, Mah. Aku tidak bisa Mama andalkan. Sekarang Mama tau, kan?" Alzam bangkit dan meninggalkan ibunya begitu saja di ruang tamu.


"Alzam! Mama belum selesai bicara," panggil Maya kepada Alzam yang terus melangkah pergi meninggalkannya. Maya mengusap wajahnya dan menyibak rambutnya dengan gusar. Semua seolah kacau sekarang.


Qian yang menikah muda. Alzam yang seolah buntu dengan jalan hidupnya. Dan dia sendiri masih terpuruk dalam luka lama.


"Semua berantakan!" lirih Maya mulai menangis di posisinya dengan bulir bening yang mulai menetes dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya sepertinya dia harus akui kekalahannya kali ini.


***


Pagi itu tepat pukul 7 pagi. Qian dan Reo sudah sampai di kantor mereka di gedung pencakar langit super mewah.


Gedung bertingkat yang mereka sewa sebagai tempat mereka memulai perusahaan mereka.


Apa mereka puas dengan pencapaian ini?


Tidak!


Pada kenyataannya Qian tak henti-hentinya merutuk hal ini. Karena setiap hari mereka nantinya akan selalu satu lift dengan Channel, Dior atau merek mahal lain dari orang-orang sukses yang berpapasan dengan mereka di lift.

__ADS_1


Itu membuat Qian dan Reo merasa menjadi pecundang saat ini, ketika berhadapan dengan wajah angkuh itu. Sukses dengan penghasilan terjamin, kendaraan mahal yang mentereng di parkiran, dan di tambah lagi stelan taxido mahal itu seringkali memandang mereka rendah dan sinis seperti saat ini.


"Si kampret Bisma pinter banget cari tempat kerja! Belum apa-apa udah kena mental duluan!" rutuk Qian bermajas ironi pagi-pagi dengan sudut mata kesalnya melirik Bisma seraya bersandar di dinding lift yang kebetulan di dalam lift tersebut kini hanya tinggal mereka bertiga.


"Lo tau kenapa dia milih tempat kerja di sini dan terus nungguin lantai 23 kosong?" tanya Reo.


"Tau. Ada gebetannya di lantai 22. Dia yang mau pacaran, kita yang di buat tekanan batin di sini," ucap Qian masih terdengar kesal. Dengan Bisma yang hanya diam tegar mendengar ocehan sahabatnya setiap mereka naik lift.


"Hmmm... Begini kawan. Kalau sewa gedung lain yang lebih manusiawi di banding gedung elite milik keluarga sukses ku ini. Maka kita akan mengeluarkan biaya sekitar puluhan bahkan ratusan juta cuman buat gedung. Nah beruntunglah kawanku, aku memiliki ide cemerlang untuk menyewanya di sini. Ya, dengan resiko kita di pandang gembel setiap harinya. Tegar lah. Kawanmu ini juga sedang berusaha mendapatkan bidadari cantik pujaan hatinya dari lantai 22," ucap Bisma yang membuat Qian dan Reo semakin kesal dengan gaya pujangganya yang menyebalkan.


Qian menatap Reo. Dan Reo pun paham dengan tatapan Qian. Ia mengangguk sebagai sebuah kode. Bisma sadar jika bahaya tengah mengintainya saat ini. Ia pun bersiap beringsut ke depan pintu lift yang sebentar lagi akan terbuka


Dan...


Tepat saat pintu lift terbuka Bisma langsung ambil langkah seribu untuk kabur ke lantai 22. Bisma ternyata jauh lebih hapal dengan rencana teman-temannya yang selalu mengerjainya jika dia berulah.


"Sialan. Dia kabur," rutuk Qian.


Mereka tidak mungkin mengejar Bisma ke sana. Kerena mereka tidak bisa masuk ketempat kerja orang lain tanpa alasan yang jelas. Kecuali Bisma yang memang anak pemilik gedung yang sudah dikenal disini. Dia bisa seenaknya masuk kesana kemari sesuka hatinya.


"Dah lah. Biarin aja dia senang-senang dulu. Nanti kita buat dia nangis. Lo ingat kan, hari ini dia datang!" ucap Qian penuh arti dan di sambut tos serta tawa kencang keduanya.


***


Saat mereka sampai di ruangan mereka. Mereka dikagetkan dengan seseorang yang sudah siap di bangku kerja nya.


"Tuh, dia rajin. Pagi-pagi udah dateng," bisik Reo.


"Dia niat banget mau kerja. Nggak kayak si kampret tadi," jawab Qian.


Sesaat Rendi menyadari kedatangan Qian dan Reo. Ia tersenyum dan menyapa keduanya.


"Hei! Kalian baru datang?" sapa Rendi ramah.

__ADS_1


"Iya. Gimana yang kemaren udah selesai?" tanya Qian seraya menghampiri Rendi. Rendi menunjukkan hasil kerjanya di sebuah layar komputer di depannya. Qian tersenyum puas dengan hasil kerja Rendi.


"Bagus. Selesai kan, ya. Siang ini kita serahin ke klien," ucap Qian sebelum pergi.


Rendi merupakan karyawan baru mereka yang baru mereka rekrut beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Bisma sedang keluar kota karena suatu urusan.


Diam-diam mereka sengaja merekrut musuh bebuyutan Bisma ini untuk bekerja sama dengan mereka, karena mereka kesal di bohongi oleh Bisma. Bisma memilih tempat kerja mereka karena memiliki tujuan lain untuk mendekati seorang wanita yang ditaksirnya.


"Ini bayaran yang pas buat Bisma," bisik Qian kepada Reo. Reo hanya tertawa mendengarnya.


Tidak lama Bisma pun datang. Dia tersenyum sumringah sepanjang perjalanannya menuju ke ruang kerjanya. Dia puas sudah bertemu dengan kekasih pujaan hatinya pagi ini. Itu cukup membuat dia kembali bersemangat untuk memulai harinya seperti handphone yang baru selesai di charger.


Dia tersenyum menggoda Qian dan Reo yang tampak mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Ganggu banget sih nih kampret atu. Kerja, woy!" seru Reo saat Bisma yang tiba-tiba memeluknya dengan wajah sumringah.


"Iya, gue baru dari surga ketemu sama bidadari jadi masih sawan," ucapnya dengan senyum anehnya yang tak henti-hentinya sedari tadi membuat Reo risih karena di peluk Bisma.


Sesaat mata Bisma terpaku pada satu sosok.


"Siapa itu? Karyawan baru? Kalian rekrut berapa karyawan?" tanya Bisma mulai serius.


"Baru mulai kerja 6, masih kita seleksi lagi. Itu fotografer baru kita. Kenalan, gih. Lo pasti suka," ucap Reo dengan senyum penuh arti.


Bisma menyipitkan matanya menatap Reo curiga. Sedangkan Qian sudah terlalu fokus dengan pekerjaannya. Dia hanya memperhatikan sekilas tingkah dua sahabatnya itu.


"Heh anak baru. Siapa nama lo?!" seru Bisma yang sontak membuat yang di sahuti pun menoleh. Yang seketika membuat Bisma membuka mulutnya tak percaya. Ini adalah sosok yang terus ia rutuki sedari dahulu kala dan sangat ia hindari karena dendam.


Dia menatap Reo yang tengah tersenyum ke arah Bisma.


"Sapa, gih. Kalian kan udah lama nggak ketemu," ucap Reo usil.


Bisma tanpa sepatah katapun lagi langsung pergi dari sana yang membuat Reo panik begitupun dengan Rendi yang sudah tau alasan kekesalan Bisma padanya.

__ADS_1


__ADS_2