
Di rumah Vero masih merasa tidak puas akan sikap Qian terhadap kakaknya. Dia menunggu Qian masuk kamar untuk mengajaknya bicara.
Sesaat Qian pun datang dengan membawa perlengkapan Rumi yang tadi mereka bawa. Dia meletakkannya di tempatnya.
"Aku mau ngomong," seru Vero.
"Apa?" tanya Qian datar.
"Duduk dulu." Qian pun duduk di kursi depan meja rias Vero.
"Aku nggak suka liat sikap kamu kasar sama Alzam kayak gitu. Dia itu saudara kamu, Qian. Bisa kan kamu bersikap lebih baik sama dia, terlepas dari semua yang terjadi diantara kita dia tetap kakak kandung kamu."
"Biasanya aku baik. Bahkan aku selalu hormat sama dia. Tapi, lihat bagaimana sikap dia sama aku, itu buat hati aku berbalik membencinya. Sangat membencinya. Mengingat bagaimana dia dengan egois dan tanpa mikirin perasaan aku ingin merebut kamu dari aku. Melihat bagaimana dia tega tipu aku, dan buat Mama balik benci aku. Aku mulai tidak suka dengan sikap dia. Aku ... Juga nggak suka dengar kakaka bela dia kayak gini. Seolah kakak ingin dia masuk ke kehidupan kita dan menerima dia. Kenapa? Apa masih ada yang belum selesai diantara kalian? Kalau memang kakak pilih dia. Aku mundur. Aku nggak sudi ada diantara kalian, membayangkan kalian sama-sama dan satu rumah, malah buat aku mual bayanginnya. Ini bukan Mahabarata," tukas Qian tajam dan penuh emosi.
"Aku juga bukan Drupadi. Aku cuman mintak kamu bisa baik sama saudara kamu. Bukan berarti aku cinta sama dia. Aku sama dia sudah putus dan nggak ada hubungan apa-apa lagi. Itu kisah yang nggak bisa aku ubah. Seharusnya kalau kamu keberatan sama hal itu, kamu bisa tinggalkan aku. Biar kamu tenang, nggak dicurigai terus kayak gini. Kalo soal anak kita, aku bisa besarin dia sendiri, " ungkap Vero mulai terpancing emosi karena tidak suka di tuduh dan selalu di curigai.
"Hmmmhhh... Sudah lah. Aku capek," tukas Vero yang langsung bangkit meninggalkan Qian yang masih diam di posisinya.
Qian menatap kepergian Vero lalu bangkit menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Mengingat bagaimana Alzam berdekatan dengan istrinya bahkan menyentuh bahunya membuat dia kesal. Apalagi tadi mereka benar-benar seperti sepasang kekasih bersama anak mereka, bak keluarga kecil yang bahagia.
"Semua ini juga dia yang mulai. Kenapa aku yang di salahin."
Qian mulai gila dengan bayangan itu. Ia mengambil bantal di sampingnya dan mendekap wajahnya dengan bantal tersebut untuk menghilangkan bayangan-bayangan buruk yang mulai menghantui pikirannya.
"Arrgghhh... Brengsek," umpat Qian kesal dan melempar bantalnya kesembarangan arah.
__ADS_1
***
Di luar Vero tampak tengah bersama ibu dan anaknya yang berada di gendongan Mama Jill.
"Bulan depan Mama pergi sama Papa Ferdi. Kamu sama Qian baik-baik ya jagain cucu embul Mama ini," tutur Mama Jill gemas kepada bayi mungil yang tengah tertawa padanya itu.
"Hmmm... Padahal aku mulai kerja juga bulan depannya, Mah," sungut Vero.
"Ya, mau bagaimana lagi, Ver. Kan Mama sudah ngomong jauh hari juga sama kamu."
"Tapi, Mama stop tuh kebiasaan merokok sama ngopi Mama. Nggak bagus, Mah, di liat orang. Apalagi sama teman-temannya om Ferdi,"
"Iya. Pelan-pelan Mama juga usaha. Tapi kalo udah adiktif. Itu butuh proses buat benar-benar stop," ucap Mama Jill.
Saat tengah Asyik mengobrol mereka dikagetkan dengan kedatangan Qian yang pergi menggunakan taxi online yang baru datang di depan halaman rumah mereka. Ada yang aneh, Qian pergi tanpa pamit dan bicara. Mama Jill menatap Vero dengan tatapan aneh.
"Kalian berantem?" tanya Mama Jill. Vero hanya diam tanpa jawaban. Tapi kediaman Vero malah seolah mengiyakan. Itu membuat Mama Jill geleng-geleng kepala.
***
Di tempat lain Alzam sedang menemui ibunya. Ada beberapa urusan berkenaan dengan rumah sakit yang ia urus. Tidak banyak kata yang mereka ucapkan. Maya masih kesal kepada Alzam yang tidak terbuka padanya mengenai keadaannya selama ini. Bahkan Arial yang dianggapnya acuh terhadap anak-anak malah lebih memahami keadaan anaknya. Itu membuat Maya semakin kesal.
"Kenapa kalian tidak ada yang bisa terbuka sama Mama? Mama merasa sedikit cemburu. Papa kamu yang jauh di sana ternyata lebih banyak mengetahui tentang kalian di bandingkan Mama yang selalu ada di samping kalian selama ini."
Alzam mendongakkan wajahnya. Ia berfikir sejenak sebelum ia bicara. Itulah Alzam. Selalu penuh pertimbangan untuk semua hal.
__ADS_1
"Karna ... Mama terlalu banyak menuntut daripada Mama mendengarkan kami. Mama beda dari papa. Papa lebih banyak mengajak kami bicara untuk mendengarkan kami dan berdiskusi. Sedangkan Mama lebih banyak mengutarakan maunya Mama dari kami. Bagaimana mungkin kami bisa terbuka kalau keadaannya seperti itu," ungkap Alzam berusaha menjaga intonasi bicaranya agar tidak menyakiti ibunya.
"Sekarang saja, Mama seolah membenci aku dengan keadaan aku," lirih Alzam lagi. Maya tercekat mendengarnya.
"Mama tidak membenci kamu. Mama hanya kesal merasa anak-anak Mama tidak bisa nyaman sama Mama, padahal Mama selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian selama ini," ungkap Maya akan rasa cemburunya. Alzam tersenyum tipis saat mendengar pernyataan ibunya itu. Dapat dia lihat bagaimana tidak terimanya ibunya saat ini.
"Hmmmhhh... Sepertinya ini hukuman buat kita karena menjauhi anak nakal itu. Ternyata dia yang berguna saat ini. Ada baiknya juga dia menikah muda. Setidaknya dia bisa memiliki banyak keturunan," lirih Maya seraya menghela nafasnya. Alzam mengernyitkan keningnya.
"Vero sekarang mungkin sudah berusia 29 tahun, Mah. Kalo Qian memang muda, baru 22 tahun. Mereka itu beda usia. Apa Mama lupa," sanggah Alzam. Sesaat Maya baru ingat akan hal tersebut.
"Hmmmhhh... Yasudah lah. Sekarang kamu harus berusaha untuk mengambil hati adik kamu. Supaya dia mau pulang," tutur Maya seraya kembali fokus ke berkas yang di berikan Alzam tadi.
"Heh, dia benci aku, Mah. Mana mungkin dia terima pemberian aku," seloroh Alzam dengan tawa kecil.
"Ya, kita harus berdamai dengan dia sekarang. Dia harus pulang, kan. Jadi, berusaha lah untuk cari jalan lain buat kamu berdamai sama dia lagi sekarang." Alzam menghela nafasnya tanpa jawaban. Dia tidak yakin akan semudah itu bisa mengajak Qian bicara. Lalu ia bangkit dan meninggalkan ibunya di ruangan tersebut.
***
Malam sudah menjelang, langit sudah gelap sedari tadi. Sedangkan Qian masih lembur di tempat kerjanya. Sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar mendesak yang buat dia harus lembur malam ini. Hanya saja dia masih kesal terhadap Vero. Lembur adalah salah satu caranya menghindar bertemu dengan Vero. Bahkan dia tidak mengatakan kepada Vero bahwa dia akan pulang terlambat malam ini.
Tiba-tiba terdengar suara handphone Qian yang bergetar di meja kerjanya. Qian tersenyum saat melihat siapa yang menelpon. Qian dengan sengaja mengabaikannya. Setelah beberapa saat Masuk sebuah pesan teks.
Qian hanya melihat sekilas dari notifikasinya. Ternyata setelah telepon nya tidak diangkat oleh Qian. Vero segera membuat pesan teks.
'Rumi demam panas dari tadi siang. Pulanglah cepat,' tulis Vero pada sebuah pesan singkat. Itu sontak membuat Qian bangkit dari sandaran bangkunya. Saat mengetahui kabar anaknya sakit, tanpa pikir panjang ia langsung bersiap untuk pulang.
__ADS_1