
Qian pulang hari sudah mulai larut. Tepat saat Wike menunggunya di luar. Qian diam sesaat. Sebenarnya dia tidak suka karena seolah Wike sekarang tengah membuntutinya.
"Hai Qian!" sapanya dengan penuh semangat dan seulas senyum manis terpatri di wajah cantiknya namun Qian malah tampak tak perduli, bahkan seolah menghindar walau Wike sudah berusaha menyapanya.
"Aku mulai kerja hari ini di perusahaan yang gedungnya sama, sama kamu. Kebetulan mereka butuh sekretaris baru, dan aku juga lagi butuh kerjaan. Yaudah, aku ikut interview aja. Eh, keterima ternyata. Nanti kita bisa lebih sering ketemu, kan," celoteh Wike dengan Qian yang masih tampak diam tak banyak kata.
"Aku pulang dulu, ya," ucap Qian saat sampai di parkiran dan langsung masuk ke dalam mobilnya, bahkan sebelum sempat Wike mengatakan apapun lagi.
Wike hanya bisa mendengus kesal melihat reaksi acuh Qian. Dia tidak bisa di perlakukan seperti ini. Dia pun berusaha mengejar langkah Qian.
Baru beberapa langkah tiba-tiba seseorang telah mencegat tangan Wike dengan cengkraman kuat. Wike segera menoleh dan betapa kagetnya saat melihat bahwa itu ada Arnold. Mantan kekasihnya.
"Mau kemana kamu sekarang? Hah?" hardik Arnold membuat Wike ketakutan apalagi dia juga mencengkram erat pergelangan tangan Wike. Wike terus memberontak minta di lepaskan.
"Lepasin aku, brengsek. Kita udah putus. Lepasin aku," teriak Wike keras hingga menarik perhatian Qian. Qian hanya menatap memantau dari kaca spionnya. Kebetulan dia belum beranjak dari sana.
"QIAN! Tolongin aku," seru Wike panik dan ketakutan seraya mengetuk kaca mobil Qian.
Qian dengan ragu membuka pintu mobilnya kembali. Dia sebenarnya tidak ingin terlibat, tapi dia juga khawatir dan tidak tega melihat Wike ketakutan begini.
"Qian!" seru Wike lagi seraya melepaskan tarikan Arnold pada lengannya. Saat berhasil lepas Wike langsung berlari menuju kearah Qian dan berlindung di balik punggung Qian.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Arnold sinis tampak tak suka.
"Di-Dia ... Dia pacar aku sekarang. Jadi kamu nggak usah ganggu aku lagi mulai sekarang," ucap Wike ragu tapi juga tengah memanfaatkan kesempatan.
Qian mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan berani Wike barusan. Tapi dia coba memaklumi di keadaan terdesak ini saja.
"Heh. Kamu tidak bisa lepas dari aku begitu saja, Wike. Kamu sudah mengambil terlalu banyak dariku, sekarang kamu malah ingin mencampakkan aku? Tidak bisa. Kamu tidak bisa mencampakkan aku, kecuali aku yang mencampakkan kamu," hardiknya.
"Lepasin aku. Emang aku maksa kamu buat beli? Nggak kan? Jadi aku nggak punya hutang apapun sama kamu. Lepasin Arnold," seru Wike yang terus memberontak. Qian hanya diam melihat kondisi, dia bingung dan ragu dengan apa yang terjadi. Dia yakin ada alasan kuat kenapa sampai laki-laki ini sangat berani terhadap Wike.
"Maaf, Bung. Ini kawasan yang di awasi cctv. Jadi, ada baiknya jangan buat keributan di sini," ungkap Qian mencoba memberi tahu dengan tenang.
"Ayo Qian kita pulang. Jangan pedulikan dia," ucap Wike buru-buru mengajak Qian untuk segera beranjak dari sana. Qian yang melihat keadaan ini masih sedikit bingung tapi akhirnya mengikuti permintaan Wike.
"Awas kamu Wike. Ini belum berakhir. Kau harus membayar semua yang sudah aku berikan untukmu selama ini. Aku tidak bisa kau campakkan begitu saja," gumam Arnold menatap kepergian Wike bersama mobil Qian.
Di dalam mobil Qian tidak banyak tanya. Dia tidak mau terpancing dengan permasalahan Wike.
Ini pula yang membuat Wike khawatir. Qian seolah menunjukkan sikap tidak pedulinya dengan jelas. Tidak. Qian harus khawatir padanya dan mau terlibat.
"Di-dia mantan pacar aku. Dia selalu kejar aku," terang Wike tanpa di minta.
__ADS_1
"Kalo ganggu dan ngancam, laporin ke polisi lah," sahut Qian sekenanya masih fokus ke jalanan.
"Tapi, jangan bilang aku pacar kamu kayak tadi. Nanti bikin salah paham," tegas Qian.
Wike membeku sesaat. Qian jelas membuat benteng yang kokoh diantara mereka saat ini. Qian membuat Wike sulit untuk masuk kedalam hidupnya.
"Kamu ... Masih marah? Soal ... Kita ... Yang dulu?" tanya Wike terbata.
"Nggak. Yang dulu udah aku jadiin pelajaran hidup. Jadi nggak perlu di bahas lagi dan di ungkit lagi. Buat apa di bahas terus?" ucap Qian dingin.
Sesaat Qian menghentikan laju kendaraannya.
"Kita sudah sampai. Kamu bisa turun sekarang," tegas Qian lagi.
Wike yang seperti kena skak matt hanya bisa menurut tanpa banyak kata lagi. Sebelum pergi Wike masih sempat menatap kearah Qian. Lelaki itu tak sedikitpun menoleh padanya. Dia langsung pergi saat Wike sudah keluar dari mobilnya.
Qian pulang saat hari sudah larut. Karena berurusan dengan Wike membuatnya terlambat pulang.
Kebiasaan Vero adalah tak akan memberikan spam panggilan jika Qian terlambat pulang. Dia dengan sabar akan tetap menunggu tanpa banyak chat membuat Qian merasa bersalah saat dia pulang terlambat. Vero akan tetap berdiri di depan pintu dengan senyuman hangatnya menyambut kedatangan Qian.
Kedewasaan Vero membuat Qian nyaman dan bersamaan mengajarkan Qian tentang sikap peka. Vero yang tak banyak menunjukkan sikap menuntut membuat Qian merasa dirinya perlu merubah diri sendiri tanpa di minta
__ADS_1