Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Tipu Muslihat


__ADS_3

Sesampainya di sana Qian bingung mencari keberadaan Wike. Tempat yang sunyi karena memang sudah pukul 9 malam. Qian terus celingak-celinguk mencari keberadaan Wike.


Tapi tiba-tiba...


Bukkk...


Seseorang menabrak tubuh Qian dan memeluknya erat. Qian berbalik dan kaget melihat wajah Wike yang tampak basah karena air mata.


"Tadi aku tusuk dia pakek gunting. Aku takut banget. Dia pasti akan terus incar aku habis ini," ucap Wike panik di sela segukan tangisnya.


Qian tidak banyak bertanya dia segera membawa Wike ke mobil dengan memegang kedua bahunya dan dengan manja Wike merebahkan kepalanya di dada bidang Qian sambil terus berjalan tanpa perduli dengan sikap tak nyaman Qian atas tindakan beraninya menyandarkan kepalanya di dada bidang Qian.

__ADS_1


Tidak lama mereka pun sampai. Wike tampak ragu untuk turun. Dia menatap Qian yang tampak sibuk dengan handphone nya.


"Qi-Qian. Apa aku bisa minta tolong lagi?" lirih Wike tampak ragu.


"Apa?" tanya Qian dingin.


"Aku boleh mintak kamu temenin malam ini?" tanya Wike penuh harap. Qian menatap Wike dengan tatapan penuh tanya. "Bukan gitu, Qian. Aku ... Aku masih trauma sama kejadian tadi. Aku takut kalau dia datang lagi dan nyerang aku lagi. Tempat tinggal aku sekarang kunci serepnya juga ada sama dia. Ganti kunci masih dalam proses. Jadi, aku takut kalau dia datang lagi malam ini. Aku di rumah sendirian. Aku takut, Qian," lirihnya meyakinkan.


"Ini sudah malam. Dan kita cuman berdua di rumah. Aku nggak mau jadi fitnah nantinya," tolak Qian halus.


Wike terus mencoba membujuk Qian. Qian tampak diam berpikir hingga ia putuskan melangkah menuju mobilnya dan memberikan Wike tumpangan untuk mengantar gadis ini pulang.

__ADS_1


Qian merasa disudutkan keadaan. Dia tidak tega menolak tapi juga ragu menerima. Dia takut jika Vero mengetahuinya maka dia akan salah paham nantinya.


Wike melirik ke arah sampingnya. Pria ini masih seperti dulu. Dingin. Tak mudah di taklukkan. Tapi dia juga lembut kepada seorang wanita. Dia bisa hajar musuhnya dengan brutal, tapi semarah apapun dia terhadap seorang wanita dia tidak akan mampu menyakitinya dengan kasar. Wike paham betul dengan sisi lemah Qian ini.


"Kamu ingat, Qian? Aku dulu sering repotin kamu kayak gini setiap kali aku kemalaman pulangnya. Kamu nolak buat antar, tapi ujung-ujungnya kamu jemput juga," ungkap Wike pada masa lalu mereka. Qian diam tak menanggapi, dia tetap fokus pada jalanannya saat ini.


Wike terus menceritakan masa lalu mereka sepanjangan perjalanan yang membuat Qian mulai jengah. Dan merasa jika Wike tengah mempermainkannya saat ini.


"Kamu nggak kayak orang yang trauma. Kamu terlalu ceria untuk mereka yang trauma. Kayaknya kamu bisa pulang sendirian, kan," ucap Qian dingin yang seketika menghentikan laju mobilnya menatap Wike dengan tatapan dinginnya. Wike seketika diam tak berani bicara lagi.


"Yaudah, turun sana. Kamu bisa jalankan dari sini? Aku repot kalo musti putar balik lagi," ucap Qian menunjuk kosan Wike yang berada di seberang sana. Karena memang ini merupakan jalanan dua arah, sehingga harus membuat Qian putar balik jika ingin mengantarnya tepat ke depan kosannya.

__ADS_1


Wike perlahan membuka pintu mobil dengan Qian yang bahkan tak ingin menatapnya. Setelah keluar dia melihat laju mobil Qian yang terus melesat memecahkan keremangan lampu jalanan kota. Karena memang kosan Wike berada di tengah kota, hanya perlu sedikit masuk kedalam untuk sampai.


"Susah banget, sih," rutuk Wike mendengus nafasnya kasar.


__ADS_2