Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

Vero menemui Alzam. Dia merasa risih dengan bantuan yang diam-diam Alzam lakukan. Dia tidak ingin ini membuat Qian salah paham padanya, karena itu semua ini harus segera di luruskan.


Mereka pun bertemu di suatu tempat yang tidak jauh dari kediaman Vero. Mereka duduk berdampingan dengan wajah tegang Vero .


"Jangan gini, Zam. Aku rasa kamu terlalu lancang. Aku takut Qian marah kalo sampe dia tau. Aku nggak mau dia salah paham," ungkap Vero dengan hati-hati.


"Aku lakuin itu demi calon keponakan aku." Alzam menunjuk ke perut Vero. Vero pun mengusap perutnya dengan tatapan tidak suka kepada Alzam. "Aku nggak mau kamu stress lagi kayak kemaren. Itu cukup bahaya buat kamu dan calon bayi kamu," ungkap Alzam memberi alasan. "Kalau memang kamu nggak mau. Ganti saja waktu kalian sudah punya uang. Kapan saja terserah," tambah Alzam.


"Itu yang aku takutkan. Kita akan sering berhubungan dan Qian tidak akan suka. Aku tau kau adalah Qian. Tapi ... Maaf, Zam," lirih Vero lagi.


"Jujur ... Aku ... Masih sangat menyayangi kamu. Aku tidak rela melihat kau menderita bersama Qian seperti ini. Lepaskan dia Vero. Qian itu masih terlalu kekanak-kanakan. Dia tidak akan tau cara menghargai hubungan. Dia tidak bisa bersikap dewasa."


Sontak pernyataan Alzam barusan Membuat Vero kaget dan takut. Baginya Alzam sudah sangat berani. Apalagi dia juga menggenggam tangan Vero.


Vero menatap Alzam tajam menunjukkan sikap tak sukanya, dengan cepat ia menarik tangannya. Alzam membeku sesaat seolah kaget dengan reaksi Vero.


"Aku rasa, aku sudah salah datang nemuin kamu, Zam," tukas Vero dan meninggalkan Alzam begitu saja.


Alzam memejamkan matanya sesaat seolah menyesali dengan apa yang baru saja ia lakukan. Bisa-bisanya dia lepas kendali seperti itu di hadapan Vero. Vero pasti akan menjaga jarak dengannya karena hal ini.

__ADS_1


***


Di sisi lain Qian tengah berhadapan dengan tamu istimewa nya. Yaitu sang mertua.


"Rumah ini jadi lebih bagus ketimbang dulu waktu masih ada nenek, ya," ungkap Mama jill seraya celingak-celinguk.


Sedangkan Qian hanya menatap tingkah mertuanya ini tanpa lepas dengan tak sepatah katapun. Dia tengah menerka-nerka ada apa gerangan hingga mertuanya ini datang berkunjung.


"Kalian baru renovasi rumah?" tanya lagi maaih menyusuri kesetiap sudut ruangan dengan terus celingak-celinguk. Dia seolah terpesona dengan rumah tua yang usang dulunya kini menjadi lebih modern dengan sedikit sentuhan artistik yang sederhana namun tetap terlihat elegan karena penempatan yang pas.


"Iya. Sedikit," jawab Qian singkat.


"Ada apa tiba-tiba datang ke sini?" tanya Qian mulai tidak sabar menanti keterangan mertuanya ini.


"Hmmmm... Tunggu sebentar," gumamnya seraya merogoh tasnya dan buru-buru duduk di kursi samping Qian. Dia seolah lupa dengan tujuan kedatangannya sesaat tadi karena terpesona dengan perubahan rumah tua mertuanya ini. Dan tiba-tiba dia mengeluarkan segepok uang pecahan lima puluh ribuan. "Ini buat ganti uang kalian yang kepakek waktu itu. Segini dulu. Nanti sisanya nyusul," ungkap Mama Jill.


Deg...


Pernyataan Mama Jill membuat Qian bingung tapi dia berusaha untuk tetap tenang, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mulai merasa ada yang aneh.

__ADS_1


"Sisa ... Nya ... Berapa lagi?" tanya Qian penuh selidik dengan detak jantung berdebar cepat.


"Ini kan 30. Berarti sisanya tinggal 65 lagi kan. Kan semuanya 95," terang Mama Jill tanpa beban. Qian melongo tak percaya. Dia terdiam sesaat lalu kembali berusaha menguasai diri. Dia harus tetap pura-pura tidak tau apa-apa.


"Oh, ok. Saya trima yang ini," jawab Qian seraya mengambil uang di atas meja.


"Maaf. Saya simpan dulu," ucap Qian buru-buru bangkit dan masuk kamarnya lalu menyimpannya dengan segera ke lemari penyimpanannya. Dia menutup lemari dan menyunggingkan senyuman nya. Dan ia kembali keluar untuk menemui ibu mertuanya.


"Maaf harus cash, sebab itu hasil jual tas yang lama. Sisanya buat nutup yang kemarin baru ambil masih nunggak," ungkap Mama jill santai. "Vero kemana sih jam segini masih belum pulang," tanya Mama jill lagi.


Qian pun baru menyadari itu.


"Oh, iya. Nggak tau, di telfon nggak diangkat tadi," terang Qian masih dengan expresi kagetnya yang berusaha ia sembunyikan.


"Yaudah. Saya pulang dulu," pamit Mama Jill, Qian pun mengangguk hormat seraya sama-sama bangkit dari posisi duduk mereka.


Qian mengantar kepergian Mama jill hingga depan teras lalu kembali masuk rumah. Dia kembali memikirkan yang barusan.


"Mama Jill bilang dia baru mengganti uang itu. Heh, jadi Vero berbohong? Uang siapa yang 50 juta itu? Jangan-jangan uang Mama ... atau Alzam," gumam Qian sendirian. "Pantas dia bolak-balik di kamar wakti itu, berlagak bak pahlawan. Heh, ternyata dia punya tujuan," gumam Qian mencoba memahami situasi.

__ADS_1


"Jadi kalian mau bermain denganku? Baik. Aku ladeni kau." Qian mulai tampak geram. Itu terlihat dari sorot matanya yang tajam dan tangannya yang terkepal erat.


__ADS_2