Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Awal Permasalahan Rumah Tangga


__ADS_3

Selama tujuh hari mereka di sibukkan dengan acara peringatan kematian nenek Vero. Malam ini setelah semua selesai mereka kembali merasakan rumah yang tenang dan sepi.


Qian duduk berselonjoran di depan teras seraya memainkan handphonenya. Setelah seharian dia penat mengurus ini itunya. Dan setelah melepas sanak saudara Vero pulang ke kampung halaman, rumah pun menjadi sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih hilir mudik untuk beres-beres.


Tiba-tiba Qian mendapatkan notifikasi pesan masuk dari e-banking nya. Terdapat pemberitahuan penarik kan tunai dalam jumlah yang besar dari uang yang ia berikan kepada Vero.


Qian mengernyitkan keningnya. Dan mencoba melihatnya lagi. Dan melihat Vero tidak tengah bertransaksi. Dia tengah mengobrol dengan beberapa tetangga. Qian memutuskan untuk bertanya nanti saja.


Setelah melihat Vero selesai dengan obrolannya, baru Qian menghampiri Vero.


"Kakak transaksi apa kok sampe 30 sama 50 jutaan? Dan ada beberapa transaksi lainnya juga," tanya Qian pada notifikasi di handphone nya. Seketika Vero pun menjadi kaget. Dia segera buru-buru masuk kamar dan memeriksa lemari penyimpanannya.


Ternyata benar. Sekotak perhiasan dan kartu ATM yang Qian berikan hilang. Sialnya Vero malah membungkus kartu ATM tersebut dengan dengan nomer pin nya agar tidak lupa.


"Aku rasa mama ambil semuanya," ungkap Vero membuat Qian bingung.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Qian lagi dengan mengernyitkan keningnya tidak paham.


"ATM yang kamu kasih ke aku juga satu set perhiasan emas mahar kamu itu di ambil mama semua. Tadi aku lihat dia sempat ke kamar aku. Karena rame jadi aku nggak ngeh," ungkap Vero lagi. Sekarang Qian paham.


"Gila! Itu simpanan kita satu-satunya. Aku nggak punya uang lagi," kesah Qian mulai panik. Ia menarik rambutnya kebelakang karena mulai pusing dengan keadaan.


Entah kenapa masalah silih berganti menghampiri mereka saat ini.


***


Di sisi lain. Alzam mencoba untuk memukai pembicaraan dengan ibunya.


"Dia menipu kita semua. Dia tengah hamil tapi bisa-bisanya menerima lamaran kamu. Sekarang dia malah menikah dengan Qian. Mirip seperti wanita murahan, begitu mudah dia berpaling dari yang satu ke yang lain. Mama tau betul kalau Qian bukan laki-laki seperti itu, bisa-bisanya dia hamil bersama Qian. Padahal kita tau betul jika Qian selalu sopan jika berhadapan dengan perempuan. Itu artinya dia lah yang menggoda Qian terlebih dahulu, apalagi dia juga lebih dewasa, harusnya dia bisa lebih mawas diri. Neneknya juga, sudah hampir mati malah menjebak Qian menikahi cucunya. Mama tidak yakin kalau itu anak Qian. Bisa jadi itu anak laki-laki lain, Qian kan pergi waktu dia hamil," ungkap Maya panjang lebar.


"Kalo menurut aku selama aku kenal Vero. Vero juga bukan perempuan gampangan, Mah. Selama kita pacaran, kita nggak pernah aneh-aneh. Bahkan dia yang selalu pengen jaga batasan kita. Jadi, menurut aku, bisa jadi juga Qian yang lebih dulu menggoda Vero. Mama kan lihat sendiri. Vero itu cantik, Mah. Secara fisik dia sempurna, tidak menggoda sekalipun sudah banyak orang yang akan terpikat," bela Alzam terhadap Vero.

__ADS_1


"Kamu jangan buta karena cinta, ya. Satu hal lagi, jangan mengganggu wanita itu lagi. Sudah cukup pusing Mama sama ulah Qian. Kamu jangan ikutan juga. Lupakan wanita itu," tukas Maya lalu bangkit meninggalkan Alzam dengan perasaan kesal.


"Nggak akan, Mah. Dia wanita yang sangat aku sayang. Nggak akan aku biarkan dia hidup dengan Qian yang tidak bertanggungjawab itu," gumam Alzam saat ibunya sudah pergi meninggalkannya sendirian.


Sepertinya Alzam sudah punya suatu rencana terhadap semua.


***


Vero mencoba menghubungi ibunya melalui sambungan telfon untuk menanyai tentang perhiasannya yang hilang kepada ibunya. Tapi setelah beberapa kali menelpon tetap tidak diangkat.


Betapa dia akan malu jika seandainya benar ibunya lah yang mengambil sekotak perhiasan beserta tabungan Qian tersebut. Baru saja Qian masuk ke keluarganya tapi malah ibunya sudah langsung berulah.


"Sudah lah, Kak. Mungkin sudah tidur. Besok saja nanyain nya. Biasanya susah kalo di tanya di telfon. Takutnya salah paham. Mending kita tanya langsung saja besok biar gampang ngomonginnya, Kak." Vero pun mengangguk setuju.


"Maaf ya Qian. Baru saja kamu masuk ke keluarga aku, tapi ... Malah udah dapat masalah," kesal Vero juga malu.

__ADS_1


"Santai aja, Kak. Nggak apa-apa, kok. Aku juga gitu. Belum apa-apa kita udah di musuhin mama aku. Kayaknya ini nggak akan mudah buat kita berdua."


Mereka berdua pun tertawa miris. Lalu terbaring di ranjang. Mereka mulai merasa sangat lelah seharian ini. Mungkin memang sudah waktunya untuk keduanya beristirahat lagi.


__ADS_2