
Qian pulang menuju kediamannya. Cukup sederhana, tapi sangat nyaman dan sangat bersih dan rapih. Minimalis yang terlihat elegan karena tata letak ruang yang tepat.
Melihat rumah yang sederhana kediaman putranya ini membuat Arial tersenyum puas. Qian bisa menerima keadaannya dengan sangat baik, itu membuat dia kagum dengan sosok yang bersama Qian saat ini. Seperti apa sosok yang bersama putranya saat ini. Bisa membuat Qian yang sulit diatur pulang kerumah dan begitu peduli.
Tidak lama seorang wanita muda cantik dengan rambut bergelombang, dagu tirus dan bibir tipis mungil dan mata blow serta kulit yang putih mulus bersih. Sangat mengagumkan. Cantik alami tanpa polesan make up tebal. Elegan hanya dengan daster sederhananya. Arial tersenyum mengangguk kagum. Pantas Qian bisa tergoda. Pikir Arial.
"Pah. Ini Vero istri aku," ungkap Qian yang di sambut uluran tangan dari Vero dan di sambut Arial dengan ramah. Vero menyalami mertuanya itu dengan takzim untuk pertama kalinya. Sedangkan bayi mungil itu masih berada di pelukan Qian. Arial pun mendekati Qian.
"Dia cucu papa?" tanya Arial dengan seulas senyuman hangat. Qian mengangguk dan Arial pun mengambil bayi laki-laki itu dari gendongan Qian.
Bayi itu sontak menggeliat membuat Arial tertawa gemas dengan tingkah bayi merah tersebut.
"Hahaha... Dia sangat mirip seperti Alzam saat kecil," tawa Arial keras yang seketika membuat Vero ikut tertawa tetapi Qian hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ada rasa kesal di hatinya saat ayahnya membawa-bawa nama kakaknya untuk anaknya.
'Bangsat Alzam!' rutuk Qian membatin.
"Oh, ya. Mama mana?" tanya Qian kepada Vero terhadap keberadaan ibu mertuanya. Dia baru menyadari jika sedari tadi ibu mertuanya itu tidak ada.
"Oh, Mama lagi ke minimarket. Sebentar lagi juga pulang," ungkap Vero.
Tidak lama ternyata benar saja. Mama Jill pulang dengan sekantong belanjaan nya. Dia cukup kaget saat melihat sosok Arial yang bertamu dan tengah menggendong cucunya.
__ADS_1
Dia menatap Vero seolah ingin mengatakan. 'Siapa dia?'
"Mah. Ini Kakek Rumi. Ayah mertuaku, ayah Qian," terang Vero berusaha menjelaskan dengan cara yang adil. Sesaat senyum Mama Jill dengan mata terbelalak bahagia terpancar dari wajahnya.
"Owh, besan ternyata!" seru Mama Jill yang segera memberi salam menyambut kedatangan besannya ini.
Vero pun segera ke dapur untuk meletakkan belanjaan ibunya dan menyiapkan kudapan serta minuman untuk tamu istimewanya.
"Bagaiman Qian? Apa dia sering buat masalah?" tanya Arial yang tengah duduk berdua bersama besannya itu. Karena Qian tengah di kamar menidurkan Rumi yang mulai rewel mengantuk menggunakan susu dot dari ASI Vero yang sudah ia pompa. Mereka sengaja membiasakan Rumi menggunakan dot botol walau itu ASI karena persiapan seandainya nanti Vero akan bekerja Rumi tidak sulit lagi beradaptasi dengan dotnya.
"Tidak. Dia laki-laki yang sangat baik. Dia sangat bertanggung jawab. Minggu pertama saat Vero belum bisa apa-apa karena baru melahirkan. Dia selalu membantu mencuci pakaian anaknya dan membersihkan apa yang perlu sebelum dia berangkat kerja semua sudah di rapih dan di jemur. Malam saat begadang jaga bayinya dia selalu bergantian dengan Vero. Dia jarang merepotkan saya. Mereka berdua selalu kompak menyelesaikan semua berdua. Bahkan biaya rumah sakit maupun rumah ini dia tidak mau saya bantu sedikitpun. Katanya saya tidak boleh keluar uang buat mereka, biar itu jadi tanggung jawab dia sepenuhnya. Bahkan dia lebih rela menjual motornya dari pada mengambil tabungan Vero untuk uang rumah sakit dan modal usahanya. Memang awal-awal mereka sering bertengkar, tapi makin kesini, mereka semakin pandai beradaptasi dengan keadaan mereka," cerita Mama Jill bangga. Vero yang ikut mendengarkan hanya tersenyum mendengar cerita ibunya.
Arial menatap Vero dengan seulas senyum puas dan bahagia. Ternyata anak bungsunya bersama Maya ini sudah bisa bertanggung jawab dengan sebuah keluarga berkat wanita cantik ini.
Tidak lama Qian keluar kamar. Ternyata dia baru saja selesai menidurkan bayinya. Arial di buatnya semakin kagum saja.
"Sudah bisa kamu merawat anak sekarang," celetuk Arial.
"Belajar, Pah," jawab Qian sekenanya.
***
__ADS_1
Setelah puas berkunjung dan menjenguk cucu serta menantunya. Arial pun izin untuk kembali ke hotel tempat kediaman nya sementara di sini. Qian berinisiatif untuk mengantar ayahnya pulang ke hotel. Di mobil mereka berdua mengobrol dengan obrolan yang cukup intim. Karena ada hal yang ingin Arial katakan sedari tadi tapi dia belum menemukan momen yang tepat. Mungkin saat inilah momen yang tepat itu.
"Kenapa kamu tidak pulang? Pulanglah. Ibumu tidak memiliki siapapun selain kalian berdua. Jadi jangan musuhi dia begini. Tidak harus tinggal bersama, tapi jangan seperti musuh begini. Papa jadi tidak enak dengar aduan tante Merly tentang kamu dengan ibumu," ucap Arial. Qian melirik ke arah ayahnya sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Aku tidak memusuhi mereka, tapi kayaknya mereka yang musuhin aku, Pah," ungkap Qian sambil menyetir.
"Jangan semua di buat jadi masalah besar. Kalau bukan sama mas Alzam, sama siapa lagi kamu akan mengadu kalau terjadi apa-apa."
"Iya, Pah. Kalau bukan mereka kemana lagi aku mengadu. Tapi, Kenyataannya ...," ucapan Qian terputus.
"Aku tidak bisa mengadu kepada mereka. Aku tidak bisa mengadu kepada keluargaku. Aku di musuhi dengan berbagai alasan. Dan Papa pun sudah menjauh pergi dari aku. Seolah kita memang tidak ada hubungan apapun lagi. Apalagi nenek. Seringkali nenek bersikap seolah aku seperti pengganggu saat aku datang nemuin Papa. Makanya aku malas ngasih tau Papa tentang apapun," ungkap Qian. Arial terdiam.
"Papa peduli sama kalian. Tapi memang Papa tidak bisa selalu ada buat kalian." Arial menatap putranya serius.
"Saat kamu ada apa-apa, jangan ragu-ragu segera hubungi Papa. Jangan seperti ini lagi. Papa maupun Mama Lisa tidak pernah keberatan dengan kehadiran kamu maupun Mas Alzam. Papa tidak berniat menjauh, kamu pun jangan menghindar. Kalau soal nenek kamu jangan masuk ke hati. Yang penting kan Papa sama Mama Lisa terima kalian dengan baik." Qian diam tercekat mendengar pernyataan ayahnya. Sesaat dia tersenyum tipis, entah apa maksudnya.
Tidak lama mereka sampai di tempat tujuan. Setelah mengantar Arial, Qian pun kembali pulang.
***
Di sisi lain Maya dengan tidak sabar menunggu kepulangan Alzam. Saat ia mendengar ada suara mobil yang baru datang, Maya dengan cepat bangkit dari posisinya dan menuju pintu utama menyambut kepulangan Alzam.
__ADS_1
"Mama!" seru Alzam kaget saat melihat ibunya membukakan pintu untuknya dan terlihat aneh.
"Mama mau ngomong sama kamu." Alzam yang baru datang mengerutkan keningnya heran. Tidak biasanya ibunya terlihat begitu serius. Alzam mengikuti langkah ibunya dari belakang menuju ke ruangan keluarga.