Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Selamat


__ADS_3

Sementara Qian mengurus surat izin kepulangan Vero dan Mama Jill yang tengah mengurus hal lainnya bersama suaminya, Vero pun tinggal sendirian di kamar nya hanya bersama bayinya.


Dia begitu menikmati hari-harinya akhir-akhir ini. Wajah tampan bayi mungil ini sudah terlihat sejak bayi. Hidung mancungnya sudah mulai terlihat dengan wajah yang terukir sempurna.


Saat Vero sibuk dengan kekagumannya terhadap bayinya sendiri, tiba-tiba Vero dikagetkan dengan ketukan pintu oleh seseorang. Vero menegakkan wajahnya menatap ke sumber suara. Orang tersebut sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman hangat.


"Boleh aku masuk?" tanya seseorang dari depan pintu kamar yang tengah terbuka. Vero mengangguk pelan. Dia pun melangkah perlahan untuk masuk.


Dia lah Alzam. Sang mantan kekasih yang kini sudah menjadi kakak iparnya. Sungguh suasana yang sangat canggung mereka rasakan saat ini.


"Maaf. Aku baru datang. Karena ... Aku takut kedatanganku membuat Qian salah paham," ungkap Alzam dan duduk di samping Vero seraya melihat dan menyentuh bayi itu dengan lembut. Seulas senyum hangat terukir dengan alaminya dari wajah lembut Alzam. Pria berkacamata itu terlihat sangat menyayangi bayi itu walau dia sangat membenci ayah si bayi.


"Tapi, selamat ya, kalian sudah menjadi orang tua baru. Semoga Qian bisa menjadi ayah yang baik." Kalimat terakhir Alzam entah kenapa terdengar tak mengenakan bagi Vero.


"Dia adalah ayah yang baik. Dia menjaga kami dengan baik selama ini." Vero seolah menunjukkan sikap tak sukanya saat Alzam terdengar ingin menyudutkan Qian.


Alzam menyunggingkan senyumannya dan mengangguk paham.


"Baguslah. Berarti aku melepaskan mu pada orang yang tepat," ungkap Alzam lagi.


"Iya. Dia pria yang berani. Berani bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan. Dan berani mengambil keputusan tanpa harus terbebani atau terganggu oleh orang lain," sahut Vero lagi.


Alzam menatap Vero dalam. Wanita ini sudah terlihat sangat berbeda, dia begitu tidak suka saat Qian disudutkan. Dia seolah pasang badan terang-terangan saat ini untuk Qian.


"Aku senang. Dua orang yang aku sayangi bisa hidup bahagia," ucap Alzam masih terlihat sangat tenang.


"Yasudah. Aku pergi dulu," ucap Alzam lagi lalu pergi meninggalkan Vero, tepat saat Qian baru sampai. Dia menatap sang kakak tajam. Sedangkan Alzam tampak tenang menghadapinya seraya berlalu dari sana.


"Qian!" panggil Vero membuyarkan tatapan tajam Qian kepada Alzam.


"Qian. Sudah!" cegah Vero. Dia tidak ingin terjadi pertengkaran lagi diantara kakak beradik itu lagi.

__ADS_1


"Ngapain dia kesini? Pas nggak ada orang lagi," sungut Qian tampak tak suka.


"Dia cuman lihat Rumi," ucap Vero yang tanpa sadar malah menyebut nama bayinya dengan nama yang Qian panggil semalam. Sontak membuat Qian tersenyum usil. Vero yang menyadarinya langsung tersenyum malu.


"Bukan. Itu bukan namanya. Nanti kita cari nama yang bagus," elak Vero. Qian langsung tertawa melihat wajah kagok Vero.


"Ih, apaan, sih."


"Udah. Ngerepotin diri sendiri aja. Bikin aja namanya Rumi. Nanti tinggal kita cari kepanjangannya." Vero memicingkan matanya tidak terima. Tapi Qian berlalu cuek tanpa perduli ketidak puasan Vero. Dia terus melihat ke seluruh kamar untuk mengecek apakah masih ada barang yang tertinggal.


Selesai semua dengan urusannya di rumah sakit, mereka pun bergegas untuk pulang. Di bantu oleh Bisma dan Reo juga yang datang belakangan. Mereka terlambat karena terlalu asyik memilih-milih kado sebelum mereka datang.


"Datang hampir telat. Yang di beli cuman dua baju bayi. Gua kirain lo mau bawak toko bayinya sekalian ke sini," sindir Qian di tengah kesibukannya memasukkan barang ke dalam bagasi di bantu Reo dan Bisma.


"Reo, noh. Dia plongak-plongok nyampe toko. Malah sibuk bercanda nyampe sana sama pelayan tokonya. Sampe hampir telat kita kesini," adu Bisma seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya. Reo hanya mengernyitkan keningnya heran dengan tingkah temannya yang satu ini. Dari dulu dia masih sama saja. Suka mengadu seperti anak kecil. Saat berpaling, Reo kaget melihat tatapan Qian kepadanya.


"Iya. Ntar kita beli lagi. Udah lah. Dua baju juga gue habis 3 juta-an. Kan ada sepatunya juga," jawab Reo cepat. Qian menatap tak percaya kepada Reo. Reo hanya bisa melongo di tatap aneh begitu oleh Qian dan Bisma. Sedangkan Vero hanya tertawa melihat tingkah tiga sahabat yang tampak tak pernah akur tapi sangat akrab itu.


"Gua nggak tau. Dia yang bayar tadi," ucap Bisma tidak ingin di salahkan.


"Hah, udah lah."


Qian sudah terlalu lelah menanggapi dua sahabatnya yang tidak pernah benar melakukan sesuatu jika bukan dia turun tangan sendiri.


Selalu begitu...


Selesai semua, mereka pun berangkat


Maya hanya menatap dari kejauhan keberangkatan anak dan menantunya itu. Dia menatap penuh arti mobil itu hingga hilang di balik belokan.


Tiba-tiba Maya mendapatkan telefon dari seseorang. Alangkah kagetnya Maya saat melihat siapa sosok yang menelponnya.

__ADS_1


"Iya, Mas?" jawab Maya mengangkat sambungan telepon tersebut.


"Besok aku kesana. Aku sudah dengar semua dari Merly," sahut Arial dari seberang sana yang membuat Maya seketika membelalakkan matanya tak percaya.


Apa yang diadukan oleh Merly? Tiba-tiba Maya merasa sangat khawatir. Dia memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya yang mana kepalanya mulai terasa berdenyut.


Dia menelepon Merly. Sesaat telepon itu di Merly.


"Halo," sahutnya dari seberang sana.


"Kamu ngomong apa sama mas Arial?" tanya Maya.


"Hmmm... Aku cuman bilang apa yang aku liat. Aku nggak suka kamu kayak gitu sama anak sepupuku, May. Kamu udah keterlaluan."


"Tau apa kamu tentang permasalahan ini? Kamu lebih baik jangan ikut campur, Mer."


"Kamu keterlaluan, May. Dia tidak punya cukup uang, tapi kamu sengaja kasih semua yang mahal buat perawatan istrinya."


"Karna aku peduli, makanya aku kasih yang terbaik. Bahkan kamar itu aku siapkan khusus buat dia."


"Peduli? Kamu tidak peduli dengannya. Aku tidak pernah melihat kamu peduli sama dia. Kalau kamu peduli tentu kamu nggak akan tagih itu sebagai beban dia. Kamu nggak akan ambil semua dari dia dan biarkan dia luntang-lantung berjuang sendiri tanpa mau tau apapun tentang dia," seru Merly geram. "Kamu harus di hentikan, May. Dia anakmu juga, bukan hanya Alzam. Ingat itu." Merly menutup sambungan telfonnya.


Sedangkan Maya masih tampak geram dan tidak terima.


"Tau apa dia tentang keluargaku. Beraninya dia ikut campur!" Geram Maya kesal.


***


Di sisi lain. Arial sudah bersiap-siap. Dia benar-benar harus turun tangan kali ini. Maya tidak akan bisa di hentikan oleh siapapun kecuali dia sendiri yang menyelesaikan.


"Kamu terlalu terobsesi, Maya," gumam Arial sendirian di kamarnya seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing.

__ADS_1


__ADS_2