Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Tegaskan Sekarang Juga


__ADS_3

Alzam menemui Vero yang baru pulang dari bekerja. Vero bekerja di salah satu hotel berbintang di kota tersebut. Dia memang sering pulang malam karena sebelum pulang dia sering kali mampir untuk makan malam di sebuah kafe terlebih dahulu.


Samar-samar dari kejauhan Alzam melihat keberadaan Vero. Dia baru saja keluar dari kafe tersebut. Dia menghentikan langkahnya saat melihat kedatangan si dokter tampan Alzam yang menghampirinya. Teman-teman sejawat nya yang paham akan keadaan pun meninggalkan Alzam berdua bersama Vero.


"Ada apa?" tanya Vero datar.


"Bisa kita bicara sebentar?" tawar Alzam.


Vero dan Alzam pun segera mencari tempat untuk mengobrol berdua. Mereka menuju ke taman kota, tidak lama berjalan mereka sudah menemukan sebuah bangku kosong.


"Kasih aku waktu buat ngomongin ini sama Mama dulu, ya! Ini pernikahan, aku nggak bisa ambil keputusan gitu aja," pinta Alzam.

__ADS_1


"Kamu pengecut, Zam. Apalagi yang kamu tunggu? Kita sudah dewasa, kita tau apa yang terbaik buat kita. Aku perempuan, butuh kepastian secepatnya. Aku udah hampir berusia 29 tahun sebentar lagi. Tapi kamu malah seolah mengulur-ulur waktu terus. Aku nggak mau di permainkan. Udah nggak ada waktu buat aku main-main lagi. Iya, iya. Nggak, nggak. Jangan bertele-tele," ungkap Vero panjang lebar. Ia mendengus nafasnya kasar lalu bangkit dan bersiap meninggalkan Alzam yang masih terpaku di posisinya.


Ini malah membuat Vero semakin yakin. Di desak bagaimana pun Alzam tetap tidak bisa ambil tindakan. Lama kelamaan dia malah meragu terhadap Alzam. Apa mungkin Alzam dapat menjadi partner hidup yang tepat baginya, jika sikap Alzam begitu lemah dalam mengambil tindakan.


Kesal dengan sikap Alzam yang tak paham-paham, Vero pun berlalu begitu saja.


***


Qian tampak tengah menikmati sepuntung rokok di salah satu bangku taman kota dengan penerangan yang temaram. Pikirannya yang kalut membuat dia tidak ingat jika dia sudah menghabiskan setengah bungkus rokoknya di sana sedari tadi.


Saat tengah menikmati kesendiriannya Qian tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan Vero di bangku belakangnya. Qian hanya melihatnya sekilas lalu kembali asyik lagi dengan rokoknya untuk kesekian kalinya. Saat tengah menikmati rokoknya tiba-tiba terdengar teriakan Vero secara tiba-tiba dari bangku belakang, Vero kebetulan memang tengah bersandar tepat di belakang Qian.

__ADS_1


Qian yang kaget reflek berdiri dan menoleh kebelakang. Ternyata rambut panjang Vero sedikit terkena sulutan rokok dari Qian.


"Bisa hati-hati nggak sih?" teriak Vero marah seolah tengah meluahkan kekesalannya malam ini kepada Qian.


"Kepala anda yang terlalu condong kebelakang," tukas Qian.


"Condong sekalipun kalo anda angkat rokoknya tidak ketinggian juga tidak akan mengenai rambut saya," kilah Vero tak mau kalah.


Pertengkaran itu seolah membuat pikiran mereka yang memang tengah kacau mendapat pelampiasan yang tepat. Pertengkaran keduanya sontak mengundang perhatian orang-orang sekitar. Beberapa mata mulai tertuju pada pertengkaran keduanya.


Qian yang menyadari hal itu segera menghentikan pertengkaran mereka.

__ADS_1


"Udah. Saya yang minta maaf." Qian yang tidak mau jadi pusat perhatian pun segera mengambil inisiatif untuk meminta maaf terlebih dahulu. Berdebat dengan wanita tidak akan membuat nya bisa menang.


Vero masih tampak kesal apalagi beberapa helai rambutnya jadi rusak karena insiden tersebut. Dia juga mencium bau hangus dari rambutnya yang terbakar. Tapi dia juga malas memperpanjang perdebatan mereka. Ia pun ambil inisiatif untuk pergi saja dari sana meninggalkan Qian yang masih duduk di sana sendirian.


__ADS_2