Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Wike


__ADS_3

Di sisi lain Qian baru saja keluar dari perusahaannya dan menuju ke basement parkir. Dia berjalan gontai menuju mobilnya karena merasa sangat lelah dengan pekerjaannya yang sangat padat hari ini. Dia merasa pegal di sekujur tubuhnya. Rasanya dia sudah sangat merindukan bantal dan selimut saat ini juga.


"Capek banget," keluh Qian seraya memijit bahunya yang pegal.


Baru saja dia membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara aneh. Qian kembali menajamkan pendengarannya untuk memastikan. Sesaat suara itu semakin jelas terdengar.


Qian kembali menutup pintu mobilnya dan semakin menajamkan telinganya untuk mengetahui posisi sumber suara yang seperti suara perempuan yang merintih kesakitan dan seolah butuh pertolongan. Dia terus mencari sumber suara hingga dia sampai ke arah belakang basement parkir yang cukup sepi dan jarang di lewati orang-orang . Kali ini terdengar lebih jelas lagi yang membuat Qian semakin yakin jika ada seseorang di sana.


Qian pun berjalan menuju kearah luar basement itu menuju ke arah seperti sebuah ruangan terbengkalai. Ternyata benar. Itu suara seorang wanita. Tampaknya mereka tengah bertengkar. Itu terlihat dari sikap kasar si pria terhadap si wanita.


"Kamu nggak bisa ninggalin aku gitu aja. Apa kamu lupa apa aja yang udah aku kasih buat kamu selama ini? Bahkan baju branded yang kamu pakek saat ini pun aku yang beli," teriaknya lantang.


"Kamu yang kasih dan aku nggak mintak," ucap si wanita lantang yang kembali di tampar oleh si pria hingga ia tersungkur ke lantai. Itu sontak membuat Qian naik pitam.


Dengan langkah tak sabar Qian mendekat ke arah mereka. Si pria kembali mengangkat tangannya ke udara bersiap melayangkan pukulannya lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Aaa...," teriaknya ketakutan. Si wanita secara reflek dengan cepat menutup wajahnya karena takut.


Belum sempat tangan kuat dan kokoh itu menyentuh tubuh lemah si wanita lagi, tangannya malah tertahan begitu saja di udara.


"Jangan kasar sama cewek, BANCI!" hardik Qian yang datang tepat waktu. Dia menggenggam erat tangan si pria bahkan terkesan meremasnya hingga membuat si pria mengerang kesakitan minta di lepaskan.


"Bisa ngerasain sakit juga ternyata? Tapi masih berani nampar cewek. Bener-bener banci nih si BANGSAT," hardik Qian lagi seraya menghempas tangan pria itu dengan kasar.


Pria itu tanpa banyak kata lagi langsung pergi kabur dari sana meninggalkan si wanita dengan langkah buru-buru.


"Kamu nggak papa?" tanya Qian khawatir. Dengan pelan si wanita mengangkat wajahnya. Dan betapa kagetnya keduanya saat sadar siapa yang orangnya.


"QIAN!" seru si wanita.


"WIKE!" seru Qian pula.

__ADS_1


"Kamu kenapa ada di sini malam-malam begini? Di sini kan sepi. Dan ... Cowok tadi?" tanya Qian bingung.


"Dia pacar aku. Eh bukan, mantan aku sekarang. Tadi kita habis nonton dan kebetulan parkir dekat sini. Waktu mau pulang kita bertengkar dan aku nggak mau pulang sama dia. Makanya dia kejar aku sampe sini. Dia emang gitu. Kasar," terang Wike.


Qian mengangguk paham. Sesaat Qian sadar jika pakaian Wike robek dan itu memperlihatkan sebagian dari tubuhnya. Qian langsung membuka jaketnya dan dengan sungkan menyerahkannya kepada Wike.


"Ini pakek dulu. Nanti kamu kedinginan," ujar Qian menyerahkan jaketnya. Wike dengan malu menerimanya dan mengenakannya.


"Yaudah. Aku antar kamu pulang sekarang," tawar Qian.


Wike mengangguk dan mengikuti Qian.


"Makasih, ya," ujar Wike sungkan.


Qian pun dengan jiwa kemanusiaan menawarkan diri untuk mengantar Wike yang tampaknya masih sangat shock. Wike merasa sangat senang bisa bertemu Qian di waktu yang tepat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2