Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)

Cinta Pengganti (Menikahi Calon Kakak Ipar)
Pria Yang Menarik


__ADS_3

Alzam baru sampai rumah saat hari sudah gelap. Dia di sambut ibunya dengan sukacita. Rasa rindu yang maya tahan selama lebih dari 2 bulan ini terbayar sudah.


"Mama kangen banget sama kamu," lirih Maya seraya memeluk putranya erat seolah tak ingin kehilangannya lagi.


Alzam pun membalas pelukan sang ibu dengan tak kalah hangatnya. Sesaat dia sadar ada yang kurang. Dia mengurai pelukannya seraya mendongak ke kiri dan kanan.


"Dimana Qian, Mah?" tanya Alzam tentang sang adik.


"Dia pergi kemaren. Katanya mau ambil ijazah nya di sana. Paling minggu depan dia pulang. Mama udah kasih dia uang saku yang cukup," terang Maya. Alzam tersenyum mendengar ibunya memberikan uang kepada adiknya. Setidaknya Maya mulai menunjukkan kepedulian terhadap Qian, mereka mulai berbaikan.


"Apa Mama ribut lagi sama dia waktu dia mintak uangnya?" tanya Alzam penasaran.


"Nggak. Bahkan dia nolak. Tapi tetap Mama transfer. Kayaknya dia ngambek lagi. Nggak tau, dia kayaknya sangat sensitif akhir-akhir ini. Keluyuran tiap malam. Kalo nggak di kamar aja seharian. Jadi, semenjak kamu nggak ada Mama sering sendirian di rumah." Maya terdengar seperti seorang adik yang tengah mengadu kepada kakak laki-lakinya. Alzam tertawa melihat expresi lucu ibunya itu.


"Makanya Mama kesepian sekali sejak kamu nggak ada. Qian kalo di ajak ngobrol malah ngomel dia." Alzam kembali tertawa.


Tidak terasa mereka sudah sampai di kamar Alzam. Alzam pun mulai membongkar barang-barangnya dan memilah-milah antara yang kotor dan bersih. Lalu membereskan nya.


Maya pun membawa pakaian kotor Alzam keluar dan meletakkannya di tumpukan pakaian kotor lainnya.


***


Setelah makan malam. Alzam ingat sesuatu. Dia pun mencari ponselnya dan mulai melakukan panggilan telepon kepada seseorang.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba tetap tidak diangkat. Akhirnya Alzam putuskan untuk pergi ke tempat kerjanya langsung.


Setelah minta izin ibunya dia pun pergi. Alzam berbeda dari Qian. Alzam selalu patuh dan hormat kepada ibunya, sedangkan Qian selalu seperti bertentangan dengan ibunya. Dan Alzam selalu berusaha untuk menjadi penengah di antara pertengkaran itu.


Tidak terasa Alzam pun sampai di sebuah hotel bintang lima tempat Veronica bekerja. Dia melihat gadis cantik itu tengah bekerja. Dia bertugas sebagai resepsionis tampak tengah sibuk melayani para tamu yang datang berkunjung. Dia kaget saat melihat kedatangan Alzam. Tapi, dia tetap berusaha untuk tenang dan tidak terpengaruh.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Alzam yang penuh harap.


Vero menarik nafasnya panjang sebelum menyetujuinya. Dia merasa sangat malas berhubungan dengan pria ini lagi. Entah kenapa perasaannya yang dulu menggebu sekarang seolah lenyap tak bersisa lagi.


Qian yang hadir di waktu yang tepat seolah mampu membuat dia melupakan Alzam dengan cepat.


Akhirnya mereka sampai di luar hotel yang terlihat cukup nyaman untuk mengobrol.


"Jesika itu sepupu aku. Walau sepupu jauh. Dan ibunya itu adalah sahabat Mamah aku. Makanya kita deket," terang Alzam yang masih tak membuat Vero bergeming.


"Kamu jelasin ini saat kita ada masalah. Selagi aku nggak bahas kamu seolah nggak akan pernah peka. Aku capek kalo kamu selalu nggak peka kayak gini," ungkap Vero pada akhirnya.


"Sudahlah. Kita kan sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Nggak usah di jelasin lagi. Aku mau kerja. Nggak enak sama Mika kalo aku tinggal terus," ucap Vero dan berlalu dari sana.


Alzam hanya bisa menarik nafasnya dalam melihat kekerasan hati Vero saat ini. Tapi, itu juga buat dia penasaran. Vero terlihat sangat tenang menghadapinya saat ini. Apa mungkin Vero sudah menemukan orang lain sebagai penggantinya.


Dia tidak boleh diam saja. Dia harus selidiki ini secepatnya sebelum ia benar-benar kehilangan Vero. Dia masih belum bisa melupakan Vero sepenuhnya. Perasaannya masih terlalu kuat untuk Vero.

__ADS_1


***


Di sisi lain. Qian tengah bersama Reo. Dia baru saja selesai mengurus sesuatu di sana.


Reo menatap Qian dengan teliti. Dia meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada yang aneh walau sudah beberapa kali ia menelisiknya dengan tatapan penuh curiga. Tapi, entah kenapa dia merasa ada yang berbeda dari Qian. Apalagi saat melihat Qian senyum-senyum saat menatap layar handphone nya seolah tengah berbalas pesan dengan seseorang yang sangat spesial.


"Lo sekarang beda," seru Reo menatap Qian datar. Qian hanya menatap Reo sekilas lalu kembali ke layar handphonenya.


"Lo punya pacar sekarang?" tanya Reo lagi. Qian masih tak menyahutnya. Reo yang kesal melempar Qian dengan botol minuman, tanpa Reo duga Qian malah menangkisnya dengan sebuah tendangan tepat saat botol itu hampir mengenainya. Terdengar tawa Qian yang membuat Reo semakin kesal.


***


Di sisi lain, hari sudah malam, berbeda dengan tempat Qian yang siang. Vero tampak senyum-senyum membalas pesan Qian. Tiba-tiba senyum itu lenyap saat dia menerima satu pesan lagi.


'mungkin aku bisa lebih satu minggu di sini. Si sialan Reo nggak beres, jadi ada yang harus aku urus ulang. Kamu nggak papa, kan?' isi pesan tersebut yang membuat Vero merasa agak kecewa.


"Nyebelin. Katanya cuman seminggu," rutuk Vero yang mulai tidak tahan merindukan pria kasar, sedikit arogan dan terlalu frontal saat bicara itu. Vero kembali tersenyum mengingat momen kebersamaan mereka. Dia yang tidak mudah di buat mengalah, tidak akan bungkam dengan ketidak nyamanan nya, akan membalas berkali-kali lipat jika tersakiti, tapi tidak akan melawan saat dia salah, berani membela haknya tanpa ragu, tapi tidak akan melupakan hak orang lain. Lakukan yang terbaik untuk penuhi tanggung jawabnya tapi tidak akan menolerir sebuah luka.


Ah, entah kenapa Vero merasa semakin mengenal pria ini, semakin ia merasa ada pertentangan hebat di dalam diri Qian yang tengah coba ia kendalikan dengan tindakannya yang kadang terlihat sangat berani. Dalam hasrat kebersamaan mereka Vero dapat rasakan jika Qian menyembunyikan rasa rindu lain yang tak bisa ia ungkapkan. Rasa sakit yang ia tahan dan luahkan dengan cara yang berbeda. Saat seperti itu seakan Vero bisa lihat seberapa lemah seorang Qian, tapi di lain waktu ia juga bisa lihat betapa tidak ada ketakutan pada diri Qian.


Dimalam pengeroyokan nya malam itu, dia melihat seorang Qian yang bahkan tidak takut dengan kematiannya. Dia menentang itu seperti sebuah ketakutan yang coba ia buktikan bahwa dia tidak lemah. Saat malam itulah Vero mulai merasa ada perasaan aneh di hatinya untuk Qian.


Melihat seorang pria muda yang bahkan dengan berani menghadapi empat orang berbadan besar yang menghajarnya, jika tidak Vero hentikan malam itu. Mungkin ia akan mati konyol malam itu juga. Entah apa yang pria itu pikirkan malam itu, hingga menantang mautnya sebegitu berani, bahkan seolah mengundangnya untuk mendekat. Gilanya Vero malah jatuh cinta karena hal itu.

__ADS_1


__ADS_2