
Saat bangun semua sudah mulai terdengar sibuk dengan kegiatan masing-masing. Penjual sarapan pun sudah datang dan membawa dagangannya ke kamar-kamar pasien untuk menjajakan dagangannya.
Tibalah si pedagang di kamar Vero dan Qian. Qian mencoba membeli beberapa karena dia kebetulan juga sudah mulai lapar.
"Kakak mau apa?" tanya Qian.
"Gado-gado aja," sahut Vero. Qian pun membeli sebungkus gado-gado dan sebungkus nasi goreng.
"Kalian kakak adik? Ibunya mana?" tanya Si pedagang basa-basi. Vero seketika gelagapan menatap Qian seraya menahan tawanya.
"Mamah ada lagi sibuk sama cucunya," jawab Vero masih dengan tawanya.
"Ooo .... Suaminya lagi nggak ada, jadi di tungguin sama adiknya ya, Mbak?" ucap si pedagang lagi. Qian makin kesal saja di buatnya.
"Berapa, Buk?" Potong Qian cepat sebelum si ibuk extrovert yang penuh basa-basi ini semakin menyebalkan lagi.
"20 mas," sahutnya. Qian pun menyerahkan selembar uang 50 ribuan.
"Ambil saja kembaliannya," ucap Qian seraya menutup pintu kamarnya sebelum sempat si ibu menjawabnya lagi.
"Ini yang orang bilang. Kebanyakan basa-basi bisa bikin mati. Pen aku bunuh rasanya itu ibuk-ibuk," gerutu Qian yang semakin membuat tawa Vero pecah.
"Kamu ih. Orangnya masih di depan, loh," ucap Vero masih tertawa.
"Bodo!" sahut Qian masih kesal.
Raut wajah Qian berubah tidak mengenakan lagi saat mencoba makanannya.
"Nggak terlalu enak," keluh Qian menyisakan makannya. "Kebanyakan omong. Masak nggak bisa," rutuk Qian lagi.
"Bukan dia yang masak, mungkin titipan juga," jawab Vero masih menikmati gado-gadonya. Qian hanya menatap Vero yang tampaknya masih menikmati sarapannya. "Aku kangen masakan kakak," lirih Qian manja.
Vero mengangkat wajahnya dan tersenyum seraya mengusap wajah suaminya.
Tiba-tiba terdengar pintu di ketuk seseorang yang ternyata adalah Rumi dan Maya.
"Dia nangis waktu bangun liat nggak ada Mimi nya," terang Maya yang di sambut pelukan kangen Vero terhadap bayinya.
"Oh, anak Mimi. Mimi kangen banget, dari semalam Mimi nggak bisa tidur," ucap Vero seraya menyambut kedatangan bayinya. Maya pun menyerahkan bayi 11 bulan itu kepada Vero. Vero memeluknya erat dan Qian ikut mengecup puncak kepala anaknya.
Maya tersenyum melihat kebahagian keluarga kecil anaknya itu. Tiba-tiba mata Maya tertuju pada sarapan yang masih banyak sisa di pojokan kamar. Dia tau Qian kalau soal makan sangat pemilih. Jika tidak suka dia akan langsung menyisakannya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Maya.
"Sudah. Ini mau siap-siap berangkat kerja lagi," jawab Qian yang seolah langsung mematahkan ucapan ibunya. Ia tau betul ibunya akan menawarkan sesuatu untuknya. Vero yang paham keadaan segera menggenggam tangan Qian seolah memberi kode jika dia tidak suka dengan sikap Qian.
"Qian nggak habis sarapannya, Mah," sahut Vero yang seolah ingin Qian dan ibunya bersama. Qian malah semakin menunjukkan sikap tak sukanya.
"Aku mau ke tempat kerja pagi-pagi. Aku lanjut sarapan di sana saja nanti," ucap Qian cepat. Vero menatap Qian dalam.
Entah kenapa sulit sekali baginya untuk membuat Qian bisa bersama ibunya kembali. Qian selalu seperti menghindar, ada saja alasannya untuk menolak. Ia ganti menatap Maya.
Maya hanya bisa tersenyum dan pergi dari sana. Maya menarik nafas panjang sambil berjalan. Di lorong sepi itu tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Dan rasa sakitnya tiba-tiba merayap dengan cepat di hatinya. Dia berhenti sesaat dan duduk di bangku yang tak jauh darinya.
Dia selalu gagal mengambil hati putranya itu. Semakin dekat jarak mereka, malah semakin nyata jika Qian menjauh darinya. Qian semakin menunjukkan sikap dinginnya. Sebuah sikap yang seharusnya bisa ia tebak akan terjadi saat ia tunjukkan sikap menentang kepada Qian.
Tiba-tiba Maya kembali berfikir. Tidak. Dia ibunya. Dia yang melahirkan pria tak tau diri itu. Kenapa dia izinkan dia menyakitinya? Tidak. Ini salah.
__ADS_1
Maya segera menyeka air matanya dan kembali ke ruangan tersebut. Tepat saat Qian sudah siap akan pergi bekerja dan baru saja menutup pintu kamar rawat Vero. Dia terpaku dengan tatapan aneh saat melihat kedatangan ibunya kembali.
"Ayo kita sarapan dulu," ucap Maya menarik tangan Qian.
"Aku buru-buru," ucap Qian dingin seraya melepas tarikan ibunya pada tangannya.
"Ayo makan dulu. Kamu harus kenyang sebelum mulai kerja. Nanti kamu sakit," ucap Maya kembali menarik tangan putranya. Yang seketika membuat Qian tercekat. Maya menarik tangan Qian yang coba Qian tepis dan tolak berkali-kali.
"Ayo Qian!" ucap Maya tegas.
Qian malah berbalik dan berniat pergi. Tapi Maya dengan cepat kembali menarik tangan Qian. Kembali Qian tolak, tapi Berkali-kali pula Maya menariknya. Maya tetap tak perduli. Dia tetap menarik Qian.
Saat ada air mata di wajah Maya yang ternyata terus mengalir sedari tadi. Itu membuat Qian terdiam, dia tidak menyangka jika ibunya ini tengah menangis. Akhirnya dia mengalah. Dia pasrah saat ibunya membawanya.
"Kemana?" tanya Qian yang masih di seret oleh Maya.
"Sarapan!" jawab Maya singkat. Qian diam tak bertanya lagi.
Mereka menuju tempat parkiran. Qian masuk ke dalam mobil dengan dorongan Maya padanya.
Maya menyetir mobilnya sendiri dengan Qian yang di sampingnya. Maya menatap Qian yang kini tengah menatap hampa. Lama mereka terjebak kesunyian. Hingga Maya menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap Qian sebelum bicara.
"Baju kamu masih banyak di rumah. Parfum kamu selalu Mama beli. Bahkan waktu Mama beli parfum kamu, Mama ketemu Reo yang marahin Mama. Dia jelasin semua sama Mama waktu itu. Betapa Mama selalu berharap kamu pulang ke rumah, Nak. Kamu atau Mas Alzam semua sama. Sama-sama anak Mama," ucap Maya di sela tangisnya di dalam mobil. Dengan Qian yang masih diam tertunduk dengan tatapan kosongnya. "Siapa bilang Mama lupain kamu? Siapa? Mama nggak pernah lupain kamu, Nak. Mana mungkin Mama bisa lupakan kamu. Mama yang lahirin kamu dengan pertaruhan nyawa. Mama yang besarkan kamu. Hanya karna Mama marah hari itu kamu malah benar-benar pergi?" ucap Maya masih tanpa jawaban dari Qian. "Kamu beda dari mas Alzam yang sensitif, kalo di bilangin sedikit dia langsung bisa dengar dan nurut. Makanya sama dia Mama lebih pelan ngomongnya. Sedangkan kamu kalo Mama marahin, kamunya lebih galak. Lebih keras. Itu karena kamu nggak bisa di bilangin pelan. Selalu ngebantah. 1 Mama bilang, kamu jawabnya seribu, bahkan lebih parah lagi dari kemarin kelakuan kamu. Banyak rencana Mama buat kamu yang harus terhenti karna kelakuan kamu ini. Apa kamu tau setiap malam Mama nangis, ingat kamu makan apa? Apa kamu bisa dapatkan uang yang cukup buat makan? Mama sakit hati sekarang liat kamu kamu kurus kayak gini? Kusam. Nggak terawat. Ini anak yang Mama rawat dulu. Dulu dia tampan, bersih dan sehat sama Mama, kenapa sekarang kayak gini?" ucap Maya terus menangis seraya memukul tubuh putranya karena kesal dengan sikap Qian padanya.
Qian benar-benar tidak tahan mendengarnya. Dia pun ikut terisak bersama ibunya.
"Kamu itu keras banget wataknya. Kenapa bisa-bisanya kamu musuhin ibu kamu sendiri? kenapa? HAH?!" rutuk Maya terus memukul putranya itu.
Lelah memukul putranya, Maya menatap Qian yang tertunduk tanpa jawaban. Dia tampak sekuat tenaga menahan gejolak perasannya saat ini. Maya perlahan mendekat dan membawa Qian ke pelukannya.
"Jangan menjauh lagi, Nak. Jangan. Mama nggak punya apa-apa kecuali kamu sama Mas Alzam. Pulang, Nak. Apa perlu Mama ngemis sama kamu?" lirih Maya seraya terisak. Kali ini ia mengucapkannya seraya menatap mata Qian yang ternyata juga menangis. Qian menggeleng. Maya kembali membawa putranya itu ke pelukannya. Qian terus terisak di pelukan ibunya seolah menyesali semua.
***
"Sudah. Kita makan, ya," pinta Maya. Qian mengangguk pelan. Maya kembali tersenyum. Mereka berdua pun segera menuju restoran yang buka 24 jam untuk sarapan. Maya memesan banyak makanan untuk mereka.
"Mah, nggak akan habis. Ini kebanyakan," ucap Qian yang melihat ibunya memesan semua menu hingga memenuhi satu meja.
"Nggak usah mikirin itu. Makan saja mana yang mau kamu makan," ucap Maya seraya memasukkan lauk kedalam piring Qian. Qian menatap ibunya dan tersenyum tipis. Ada kehangatan di hatinya yang ia rasakan.
Lalu mereka menikmati makanan mereka dan mulai mengobrol akrab. Perang dingin diantara mereka perlahan mulai runtuh dan hubungan mereka tampak perlahan kembali hangat.
Tidak lama Alzam pun datang. Ternyata tadi Maya sempat mengundang Alzam untuk datang juga.
"Zam. Yuk, Nak. Ke sini," ajak Maya. Suasana sempat kembali dingin sesaat.
Alzam menatap adiknya. Maya mulai merasa ketegangan diantara mereka.
"Zam! Qian!" lirih Maya semakin berdebar melihat putranya saling tatap. Sesaat ada senyum tersemat di bibir Alzam yang di ikuti oleh Qian. Dan di detik selanjutnya ia memeluk adiknya erat.
"Pulanglah!" bisik Alzam.
Yang seketika membuat Maya tersenyum terharu. Mereka berdua pun membawa ke peluk ketiganya. Seketika tangis Maya pecah dan ia mencium putranya satu-satu.
"Jangan pisah lagi. Jangan ... Mama nggak bisa kehilangan kalian. Ucap Maya dan keduanya pun tersenyum. Dan Qian menghapus air mata ibunya. Dan Alzam tersenyum menatap adiknya.
Bunda Retno benar. Menghadapi Qian tidak boleh dengan keras. Jika menghadapinya dengan keras, maka dia akan lebih keras lagi
__ADS_1
***
Tepat saat Qian akan keluar dari pintu restoran Maya berseru memanggil Qian.
"Qian! Tunggu!" seru Maya, Qian menoleh menatap Maya berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Bawak mobil ini. Kamu pasti kesusahan mau kemana-mana. Jangan buang-buang duit buat naik taksi," ucap Maya menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Qian.
Qian tersenyum seraya menerimanya. Maya mendekat dan menggenggam kedua tangan putranya.
"Pulanglah. Jangan menjauh lagi," lirih Maya. Qian tersenyum dan mengangguk.
***
Qian kembali ke perusahaannya dengan mobil ibunya. Tiba-tiba dia kaget dengan pemandangan yang mengagetkan. Wike datang di antar oleh Arnold.
Saat melihat kedatangan Qian, Wike tersenyum. Sedangkan Arnold hanya menatap Qian sekilas lalu kembali masuk mobilnya dan pergi dari sana.
Qian dan Wike jalan beriringan.
"Semalam dia datang nemuin aku. Aku ngakuin kehamilan aku sama dia dan dia mau bercerai dari istrinya, rela lepasin semua. Kita sepakat buat mulai dari nol. Dan aku setuju. Dia juga janji nggak akan kasar lagi," terang Wike. Qian tersenyum dan mengangguk paham.
"Baguslah kalo gitu," ucap Qian ikut senang.
"Kita sebenarnya udah nikah siri. Tapi sekarang aku nuntut buat dia nikahin aku secara resmi setelah dia cerai," lanjut Wike membuat Qian menatap Wike serius.
"Kamu tau. Awalnya aku ngincer kamu. Tapi liat gimana kamu cinta banget sama istri kamu, dan aku oun udah hamil. Aku pikir tuhan udah larang aku sebelum aku laksanakan rencana aku." Senyum Wike membuat Qian geleng-geleng kepala.
"Dah ah. Kamu nggak bener orangnya," ucap Qian meninggalkan Wike. Wike tertawa melihat reaksi spontan Qian.
"Qian tungguin. Jangan tinggalin aku!" seru Wike menyusul.
***
Malamnya Qian kembali ke rumah sakit. Disana sudah ada Jesika dan Alzam. Mereka tersenyum melihat kedatangan Qian.
"Qian. Alzam sama Jesika mau nikah," ucap Vero bersemangat. yang seketika membuat Qian membelalakan matanya tak percaya.
"Sudah waktunya, kan," ucap Alzam seraya merangkul pinggang Jesika.
Qian tersenyum bahagia dan memeluk kakaknya serta mengucapkan selamat.
"Papa sama nenek dan yang lain juga akan datang nanti di acaranya nikah kita," tambah Alzam yang membuat kebahagiaan malam itu semakin sempurna.
"Oh, ya Qian! Mobil yang aku pesan buat kamu besok datang. Tadinya mau aku kasih buat hadiah ulang tahun kamu. Tapi datangnya telat dan aku juga nggak bisa ambil gara-gara masih sakit. Kamu yang ambil aja besok, ya," ucap Vero membuat Qian mengernyitkan keningnya.
"kan aku udah janji mau beli kamu mobil," ucap Vero. Qian memeluk istrinya itu. kebahagiaan mereka hari itu terasa sangat sempurna dengan semua kabar gembira yang datang bertubi-tubi.
Sepertinya setelah hujan badai yang mereka alami belakangan ini. Kini kebahagian mulai menunjukkan penampakannya kepada mereka sekarang. Satu persatu benang kusut itu kini mulai rapih kembali.
TAMAT
Terimakasih untuk apresiasi kalian pada cerita ini. Saya selaku penulisnya memohon maaf jika terdapat kesalahan atau sesuatu yang menyinggung kalian.
Salam Hormat Saya
ADEK SISKA
__ADS_1
WASALAM... ☺️🙏