
Satu minggu kemudian alangkah kagetnya mereka saat Qian mengatakan bahwa acaranya sudah di laksanakan beberapa hari yang lalu.
"Kenapa kamu nggak ngomong Qian?" tanya ayahnya bingung sekaligus marah.
"Kalian pasti sibuk. Nggak enak ganggu," terang Qian santai.
"Selesai ambil ijazah sama balikin buku, aku pulang," lanjut Qian datar.
Arial dapat pastikan jika Qian tengah menyimpan kekesalannya. Ia meminta Lisa untuk keluar meninggalkan ia dan Qian di ruangan tersebut.
"Kamu marah?" tanya ayahnya lembut. Ia menggeleng pelan. Terlihat jelas dia tengah berdusta. Matanya tak dapat berbohong jika saat ini dia tengah emosi.
"Kamu berhak marah," kali ini Qian menatap Arial penuh makna. "Marah saja tidak apa-apa. Tapi, Jangan seperti ini. Diam begini tidak akan menyelesaikan masala, Qian. Bilang saja sama Mama kalo kamu marah dia tidak pernah datang menjenguk kamu."
"Dia hanya peduli kepada Azam. Kalau tentang Azam dia selalu setuju, tapi jika itu aku ... Dia akan tunda sampai waktunya habis. Dia akan menganggap remeh jika itu tentang aku, tapi akan penting kalau itu berkaitan dengan Azam. Aku benci mama, aku benci Azam ...." Qian menatap Arial.
"Aku benci kalian semua." Kali ini Qian menatap ayahnya. "Kalian tidak pernah peduli kepadaku. Kadang aku merasa asing diantara kalian, seolah aku sendirian," tutur Qian meluahkan semuanya. Dia mengingat setiap momen semenjak ayah dan ibunya bercerai hanya Azam yang penurut yang selalu di dengar ibunya, hanya istri dan anak nya bersama Lisa yang ayahnya pikirkan.
__ADS_1
Sedangkan bersama sang ayah seolah ia kehilangan momen. Walau hubungan mereka baik, tapi seolah hambar dan hanya sebatas kewajiban saja. Qian tidak merasakan ada perhatian yang penuh kasih sayang di sana. Terkadang Qian sering merasa segan terhadap ayahnya, seperti ada jarak yang perlahan-lahan memisahkan mereka. Dia merasa tak senyaman dulu lagi bersama ayahnya. Begitu pula ibu sambungnya, walau dia ramah tapi Qian merasa tidak begitu dekat.
"Kamu tidak pernah memberitahu kita. Bagaimana kita bisa tau kamu maunya apa." Arial mencoba memahami putranya.
Sebenarnya dia pun terkadang merasa bersalah terhadap Qian. Sering kali dia mengabaikan Qian, dan terkadang tak menghubungi Qian. Seharusnya saat Qian memilih untuk tinggal terpisah darinya dia bisa memilih tempat tinggal yang dekat dengannya. Bukannya membiarkan Qian memilih tempat yang jauh darinya.
"Percuma juga di kasih tau. Nanti juga akan bertengkar," Qian mulai malas menanggapinya.
Arial terdiam menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya putranya saat ini tengah mengungkapkan kekecewaannya selama ini.
Setelah bicara dengan Qian, Arial kembali ke kediamannya dan memberi tahu perihal wisuda Qian yang sudah lewat.
"Serius, Mas? Padahal mbak Maya selalu nanyain dia ke aku. Beberapa hari lalu aku telpon dia buat kasih tau kalo Qian mau wisuda. Dia katanya juga mau datang," jelas Lisa panjang lebar.
"Mereka berdua itu memang sering begitu. Sama-sama keras kepala tidak ada yang mau mengalah."
Arial paham betul bagaimana watak tidak mau kalahnya Maya yang selalu menjadi alasan pertengkaran mereka dulu hingga membuat ia memutuskan perceraian itu.
__ADS_1
"Sudah lah. Kamu hubungi saja Maya. Aku bingung mau jelaskan sama dia gimana," ujar Arial lalu bangkit dari posisinya meninggalkan Lisa ke kamar mandi.
***
Setelah itu Lisa pun menghubungi Maya perihal wisuda Qian.
"Mbak, Qian udah wisuda 2 hari yang lalu. Kita juga baru tau tadi," terang Lisa.
Maya terdiam mendengar penjelasan Lisa. Padahal tadinya dia berharap bisa berdamai dengan putranya melalui momen wisudanya ini. Akan tetapi kenyataan mematahkannya.
"O-oya?!" lirih Maya terbata.
"Coba kamu bujuk dia. Dia kelihatan marah. Jangan sama-sama tidak mau kalah begini, May," pinta Arial yang baru datang dari kamar mandi.
"Iya, Mas" sahut Maya lirih. Dia masih kaget dan tidak percaya Qian bisa lakukan itu.
"anak ini, entah kapan dia tidak buat masalah," gumam Maya setelah mematikan sambungan telfonnya.
__ADS_1