
Karena tidak tahan dengan rengekan Una seharian di rumah, akhirnya Qian mengikuti keinginan Una untuk pergi bersama. Mereka menghabiskan waktu seharian di mall. Dan sekarang mereka akan menonton di bioskop. Sambil menunggu film di mulai sebentar lagi Una memperhatikan Qian. Pria tampan itu dengan wajah datarnya menikmati popcorn sambil memperhatikan suasana sekitar.
Una malah tengah terpesona dengan wajah tampan pria di sampingnya ini. Dia tengah menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang ia sanggah di pinggiran bangkunya.
Tepat saat Qian menatap ke samping, nyaris saja membuat mereka berciuman secara tak sengaja. Una malah memasang wajah pasrah dengan memejamkan kedua matanya seolah sudah siap.
Qian di buat bergidik dengan tingkah Una yang sangat agresif. Dia pun berusaha mengalihkan perhatiannya dengan meminum minumannya.
"Kalo kamu udah kerja kita nikah, yuk," ajaknya dengan enteng. Qian menatap Una sekilas lalu kembali menikmati minumannya.
"Punya 3 atau 4 anak kayaknya seru juga," lanjut Una lagi.
"Nggak, deh. Kamu nggak perlu capek-capek kerja, deh. Kan ada perusahaan keluarga aku, sama aset-aset lain yang bisa bikin kita santai di rumah. Jadi tiap hari kita jalan-jalan, Travelling ke luar negeri, dan aku pengen lahiran di setiap negara tempat kita honeymoon. Past ....," ucapan Una terpenggal karena Qian menyumpalnya dengan popcorn.
__ADS_1
"Udah. Geli gue dengernya," sergah Qian cepat sebelum Una menyelesaikan ucapannya, seraya mengusap-usap telinganya yang terasa merinding mendengar khayalan Una.
Una tertawa melihat reaksi Qian yang lucu. Tidak lama film pun di mulai.
***
Selesai menonton mereka pun makan dan lanjut jalan-jalan kembali. Seharian jalan-jalan membuat mereka tidak sadar jika hari sudah mulai gelap.
"Tadi katanya nggak mau, nggak mau, tapi nagih toh sampe malam," ledek Una di akhiri dengan khas tawa renyahnya yang membuat Qian ikut tertawa bersamanya.
Tapi sayang seribu sayang, Una adalah adik kandung Mikael musuh bebuyutan Qian sejak dahulu kala. Dia bahkan sering kali memusuhi Qian karena hal ini. Apalagi saat Una lebih memilih satu sekolah bersamanya dan Reo di banding dengan kakak kandungnya. (Una dan Mikael hanya berjarak 1 tahun.)
Setelah puas mereka pun berencana untuk pulang. Mereka segera menuju tempat parkir mall tersebut yang merupakan basement parking.
__ADS_1
Belum sempat mereka masuk mobil, tiba-tiba Qian di tarik seseorang. Qian menoleh, benar! Itu adalah El. Kakak Una. Entah datang darimana dia hingga tiba-tiba bisa datang tepat saat mereka akan pulang.
"Pergi lo!" usir nya terhadap Qian. Una langsung pasang badan.
"Lo jangan ikut campur. Kita pergi bareng, pulang juga bareng," bela Una berdiri di depan Qian dan melepaskan cengkraman El terhadap Qian.
Tanpa perduli dengan Una, El menyingkirkan Una dengan agak kasar hingga membuat gadis itu hampir terjatuh, itu membuat Qian kaget dan khawatir.
"LO JANGAN KASAR SAMA ADEK LO, BANGSAT," maki Qian tidak terima Una di perlakukan seperti itu. Una menatap nyalang pada kakaknya.
"Ayok Qian jangan peduliin orang gila ini," cegat Una menarik tangan Qian untuk segera masuk mobil. Belum sempat pintu mobil terbuka, El sudah mencegatnya.
"Gue bilang ... PERGI BANGSAT," teriak El mulai tidak bisa menahan amarahnya. Qian menatap El menantang, begitu pula El. Una tampak mulai takut.
__ADS_1
"UDAH! Jangan ribut di sini, ntar di liat satpamnya bisa panjang urusannya," cegah Una berusaha menghentikan perkelahian yang bisa saja terjadi.
Qian yang malas ribut pun mengalah. Dia meninggalkan Una bersama El. Dia masih sempat melihat Una di marahi oleh El. Tapi apa boleh buat, dia harus pergi dari sana dan membiarkan Una menyelesaikan masalahnya sendiri. Jarak rumahnya yang tidak begitu jauh, Qian hanya cukup berjalan kaki saja untuk sampai ke kediamannya. Memang Qian tidak memiliki kendaraan lagi untuk saat ini, karena motornya sudah mogok dan rusak karena terlalu lama di gudang selama bertahun-tahun.